Viral Merchant Merugikan dan Dirugikan, Seperti Apa Sih Skema Layanan Pesan-Antar Makanan Online?

Food Delivery - Canva

Food Delivery - Canva

Like
Ketika enggak sempat beli makanan langsung di tempatnya, atau sekedar malas gerak (mager), pesan makanan lewat aplikasi online sering kali jadi alternatif pilihan. Kamu sering pesan makanan secara online enggak nih, Be-emers?

Layanan pesan-antar (delivery) makanan online memang bikin hidup kita jadi efisien. Kita enggak perlu repot keluar rumah untuk antre pesan makanan.

Apalagi di masa pandemi Covid-19, yang mana ruang gerak kita terbatas, pesan makanan lewat aplikasi online pun jadi pilihan yang tepat.

Dari data perusahaan ventura asal Singapura, yakni Momentum Works, nilai transaksi bruto layanan pesan-antar GrabFood dan GoFood di kawasan Asia Tenggara menjadi yang paling tinggi lho di 2020.

Selama pandemi di tahun 2020, GrabFood berhasil mencatat nilai transaksi bruto hingga US$5,9 miliar. Sedangkan pesaingnya, yakni GoFood, meraih nilai transaksi bruto sebesar US$2 miliar.

Berdasarkan riset Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, sebanyak 97 persen pengeluaran digital konsumen setiap bulannya didominasi oleh pemesanan makanan.

Baca Juga: Grab Kalahkan Gojek dalam Layanan Delivery Makanan Lho!

Sayangnya, di balik meningkatnya minat masyarakat terhadap layanan pesan-antar makanan online, banyak pihak yang merasa rugi nih.

Hal itu terjadi dari sisi konsumen dan bahan merchant yang terdaftar dalam aplikasi pesan-antar makanan online lho!

Hmm.. kok bisa ya?

Lanjut ke halaman berikutnya yuk!