Review Palsu atau Jujur, Pentingkah bagi Pelanggan dan Bisnis Kamu?

Review - Canva

Review - Canva

Selain model produk dan harganya, ulasan atau review menjadi hal yang enggak lepas dari perhatian calon pembeli.

Sayangnya, banyak juga yang justru menggunakan jasa ulasan palsu di toko online-nya lho, Be-emers. Bahkan, kalau kamu cari di mesin pencarian Google, banyak jasa review produk yang secara blak-blakan menawarkan jasanya.

Beberapa waktu lalu, diketahui dari The New York Post, ada sejumlah penjual online yang menjual ulasan atau review di Amazon dalam jumlah besar. Hal itu dilakukan untuk memanipulasi sistem perangkat platform e-commerce terbesar di dunia itu.

Jadi, beberapa dari penjual review tersebut menjanjikan calon pelanggan bahwa mereka bisa mendapatkan label "Amazon's Choice" untuk produk mereka dalam kurun waktu kurang lebih dua minggu.

Gilanya nih, para pedagang di Amazon yang menggunakan jasa tersebut bisa membeli ulasan hanya dengan US$18 lho! Diketahui, perusahaan asal Jerman bernama AMZTigers menjadi salah satu pelakunya nih.

Dari laporan Grup advokasi konsumen Inggris, AMZTigers punya 62.000 pengulas di seluruh dunia. Selain itu, perusahaan tersebut juga menawarkan paket massal mulai dari sekitar US$846 untuk 50 ulasan, hingga hampir US$10.900 untuk 1.000 ulasan.

Bahkan, AMZDiscover menjual alamat email pengulas Amazon kepada pedagang yang kemudian dapat menghubungi pelanggan tersebut secara langsung. Pihak AMZDiscover juga mengklaim bahwa kliennya telah mengunduh 40.000 alamat email untuk peninjau potensial.

Di sisi lain, ada juga nih modus review produk yang bisa “dibayar” dengan mendapatkan produk secara gratis atau dengan diskon besar sebagai jasa imbalan ulasan produk. Hal itu pun bahkan bisa dilakukan oleh para costumer sendiri lho!

Menanggapi hal itu, pihak Amazon berencana bakal menghapus label "Amazon's Choice" dari produk yang ketahuan memanipulasi ulasan. E-Commerce milik miliarder Jeff Bezos itu akan menghapus ulasan palsu dan mendesak pelanggan untuk melaporkan ulasan yang dinilai mencurigakan.

Sebenarnya sih, bukan kali ini doang Amazon harus menghadapi kasus ulasan palsu. Beberapa tahun lalu, Amazon juga pernah melakukan verifikasi kepada para pemberi ulasan yang benar-benar membeli produk dari platform-nya lho!

Enggak cuma di Amazon, sebenarnya ulasan palsu juga bisa ditemui di sejumlah platform e-commerce lain, hingga ke platform travel, Google Play Store, bahkan di media sosia yang berbasis business account.

Misalnya nih, platform perjalanan TripAdvisor, mereka diketahui enggak bisa menerima ulasan sebelum ada transaksi dan kedatangan di hotel yang dipilih pelanggannya. Sementara itu, pihak Google juga pernah melakukan pencegahan ulasan palsu dengan memperketat pengaturan sistemnya (Google Play Developer Policy).

Baca Juga: Heboh Kasus Eiger, Marketing Gimmick Belaka?

 

Review - Canva

Review - Canva

 

Mengenal Ciri-Ciri Review Palsu

Dilansir dari Times, sebuah review bisa jadi pengendali dalam menarik konsumen. Alhasil, review pun menjadi sebuah “bisnis baru”.

Misalnya nih, di sejumlah situs pekerja lepas seperti Freelancer.com dan Fiverr.com, para penulis lepas enggak hanya menawarkan jasa penulisan artikel untuk konten website, tapi ada juga lho yang menulis review untuk kebutuhan marketing produk.

Bahkan, berdasarkan laporan dari salah satu profesor di Universitas Illinois, sekitar 30 persen review di platform online adalah review palsu.

Memang sih, kadang, konsumen agak sulit untuk membedakan mana review palsu dan sungguhan. Namun, sebenarnya, kamu masih bisa membedakannya kok, Be-emers!

Dikutip dari NBC, ini yang bisa kamu lakukan untuk membedakan review asli dan palsu:
  • Perhatikan bahasanya. Soalnya, sebuah review palsu biasanya cenderung menggunakan bahasa yang terkesan berlebihan dalam menilai produk.
  • Review palsu sering mengulang nama produk. Hal itu dilakukan agar nama produk tersebut mudah muncul di pencarian Google
  • Ditemukan jargon atau keyword yang jarang digunakan orang ketika me-review produk.
  • Jika ada kritik, hanya bersifat umum dan kurang detail.

Nah, dengan maraknya jasa review palsu, sebenarnya seberapa penting sih arti ulasan bagi sebuah produk?

Yuk, lanjut ke halaman berikutnya!