Didenda US$2,8 Miliar, Alibaba Dikabarkan Langgar Hukum Anti-Monopoli

Jack Ma Alibaba - Pinterest

Jack Ma Alibaba - Pinterest

Setelah Jack Ma, kini giliran Alibaba yang harus menghadapi masalah dengan pemerintah China nih, Be-emers. Alibaba dikabarkan melanggar hukum anti-monopoli dan didenda US$2,8 miliar!

Dilansir dari Global Times, pihak otoritas China telah menjatuhkan denda ke perusahaan yang didirikan oleh Jack Ma sejak tahun 1999 itu sebesar 18,23 miliar yuan atau setara hampir US$2,8 miliar.

Bloomberg mencatat, hukuman atau denda yang dijatuhkan ke Alibaba bahkan menjadi yang terbesar, sejak kasus yang sama menimpa Qualcomm pada tahun 2015 lalu. Saat itu, Qualcomm terancam didenda US$975 juta.

Hukuman tersebut pun dinilai setara empat persen dari pendapatan tahunan domestik Alibaba di China.

Baca Juga: Pemerintah China Tekan Alibaba Lepas Kepemilikan Media, Kenapa Ya?
 

Penyebab Alibaba Kena Denda

Sebenarnya, dilansir Bloomberg, pelanggaran utama yang mendasari hukuman tersebut yakni soal kebijakan lama Alibaba.

Setidaknya, sejak tahun 2015, Alibaba diketahui telah menggunakan kekuatan pasar dominannya untuk memaksa pedagang memilih platformnya daripada platform pesaingnya. Hal itu pun disampaikan oleh regulator anti-monopoli dalam sebuah pernyataan.

Menurut mereka, praktik tersebut secara efektif memaksa penjual untuk membuat perjanjian eksklusif dengan Alibaba. Alhasil, pedagang maupun penyedia e-commerce lainnya merasa dirugikan.

Yang menarik, pembeli ke platform Alibaba tahu kalau hampir setiap item yang tersedia akan ada di sana dan bahkan menganggap sulit untuk menemukannya di e-commerce lain.

Namun, regulator justru mencatat bahwa pendekatan anti-persaingan seperti itu merugikan konsumen. Dengan kata lain, ada sedikit ruang untuk bisnis dan ide baru bermunculan, jika satu pemain telah menyatukan pasar.

Baca Juga: Alibaba, IPO Terbesar di Bursa Saham Amerika sebelum Coupang
 

Respon Alibaba Terkait Dugaan Pelanggaran Hukum Anti-Monopoli

Pada Sabtu (10/4) lalu, pihak Alibaba akhirnya memberikan responnya terkait dugaan pelanggaran hukum anti-monopoli tersebut. 

Pihak Alibaba menyatakan enggak akan mencapai pertumbuhan tanpa peraturan dan layanan pemerintah yang baik. Selain itu, hal tersebut juga enggak akan berjalan tanpa adanya pengawasan, toleransi, dan dukungan dari semua konstituen.

Pada Februari 2021, Chief Executive Officer Alibaba Group Daniel Zhang justru berusaha mengecilkan pentingnya eksklusivitas.

Bahkan, beberapa tahun lalu, dengan bangga ia memberi tahu investor bagaimana Alibaba bisa mencapai pertumbuhan yang luar biasa berkat kemampuan perusahaan untuk mengamankan pilihan produk eksklusif dan berencana untuk melanjutkan pendekatan tersebut.

Di satu sisi, pasar konsumen China mulai matang, meski ekonomi melambat. Ada kemungkinan bahwa pemain baru akan mengurangi penjualan Alibaba dalam kategori produk tertentu, bahkan bisa menggeser reputasinya lho!