Ketahui Risiko P2P Lending Ini Sebelum Kamu Berinvestasi

online credit ( Sumber : Canva )

online credit ( Sumber : Canva )

Kemajuan teknologi mendorong kemunculan digitalisasi dalam keuangan atau fintech. Keberadaan fintech sangat diminati terutama karena generasi milenial sudah akrab dengan penggunaan teknologi.

Kini, investasi berbasis digital juga banyak bermunculan. Salah satunya fintech peer to peer lending atau biasa dikenal P2P lending. Meski baru hadir pada 2006, kini P2P lending sudah dikenal dan banyak digunakan masyarakat.
 

Peer to Peer (P2P) Lending 

Peer to peer (P2P) lending merupakan platform fintech yang bertujuan untuk mempertemukan antara pemberi pinjaman (lender) dan peminjam (borrower). Sederhananya, P2P lending adalah platform pinjaman online.

Imbal hasil yang didapat dari investasi P2P lending berupa bunga yang akan diberikan dari peminjam. Bunga yang ditawarkan pada P2P lending cukup besar berkisar antara 14 hingga 23 persen per tahunnya.

Selain imbal hasil yang cukup besar, kelebihan investasi di P2P lending adalah transaksi mudah, cepat dan bisa turut berkontribusi pada pembangunan ekonomi negara. Hal ini karena peminjam di P2P lending umumnya untuk bisnis.

Dengan segala kelebihan yang ditawarkan, tak heran bila peminat investasi P2P lending semakin tinggi. Akan tetapi, investasi di P2P lending ini tidak lepas dari risiko. Berikut risiko yang ada dalam investasi P2P lending perlu kamu ketahui.
 

Kredit Macet Ditanggung Investor

Platform P2P lending berperan sebagai pihak penengah  atau perantara saja. Sehingga, bila peminjam telat membayar pinjaman atau gagal melunasi pinjaman kerugiannya, risiko tersebut sepenuhnya akan ditanggung oleh investor. 

Pihak pengelola P2P lending akan berupaya melakukan penagihan pada peminjam. Akan tetapi, bila cara tersebut tetap tidak berhasil maka pengelola akan lepas tangan dan melimpahkan kerugian pada investor.

Meski begitu, untuk meminimalisir hal ini platform P2P lending akan menampilkan credit-scoring milik peminjam yang menunjukkan kemampuan mereka dalam mengembalikan pinjaman kredit. Sehingga kamu  dapat menganalisis sendiri sebelum melakukan investasi. 

Risiko ini terhitung besar untuk dihadapi. Pasalnya, faktor tak terduga dan tak terhindari seperti kematian juga bisa menghampiri peminjam. Maka dari itu investor harus siap bila risiko ini menghampiri.

Baca Juga: Enggak Sekedar Cuan, Ini Manfaat Investasi P2P Lending



Sulit Menentukan Penilai Kredit yang Kompeten

Tim penilai kredit P2P lending bertugas untuk melakukan credit-scoring atau penilaian kemampuan kredit terlebih dahulu untuk menyeleksi peminjam mana yang layak untuk dipertemukan dengan pemberi pinjaman atau investor.

Oleh karena itu, kualitas dari tim penilai kredit di sebuah platform P2P lending juga sangat penting. Sayangnya, karena P2P lending ini masih baru, maka usia dalam mengelola P2P lending juga masih sama barunya. 

Sedangkan umumnya kemampuan analisis risiko seseorang terbentuk melalui pengalaman atau jam terbang. Mengingat umurnya masih baru serta belum ada tolak ukur lain untuk mengetahui hal tersebut, maka hal ini perlu dipertimbangkan calon investor.
 

Tidak Bisa Menarik Investasi Sesuka Hati

Dana yang telah diinvestasikan beserta imbal hasilnya akan dikembalikan sesuai perjanjian dan ketentuan sistem. Seperti halnya berinvestasi pada obligasi, investasi yang telah dikeluarkan tidak dapat ditarik sebelum jatuh tempo.

Oleh karena itu, investor tidak bisa menarik dana sesuka hati. Sehingga penting bagi investor untuk mempertimbangkan hal ini. Pastikan dana yang diinvestasikan bukan kebutuhan utama atau bukan dana yang diperlukan dalam jangka waktu sebelum tempo yang dipilih.

Itulah beberapa risiko dalam berinvestasi di P2P Lending. Memahami risiko sebelum berinvestasi sangatlah penting, anda bisa mempertimbangkan apakah profil risiko anda cocok dengan suatu produk investasi atau tidak sebelum berinvestasi.

Baca Juga: Berminat Investasi P2P Lending? Ini Tips Aman untuk Kamu!

Jadi, apakah anda tertarik untuk investasi di P2P lending?