Kenapa Ungu Bisa Jadi Warna Termahal? Ini Alasannya

Lavender (Sumber: Unsplash)

Lavender (Sumber: Unsplash)

Warna ungu saat ini mungkin adalah warna yang biasa aja. Warna ungu mudah kita temui dimana mana mulai dari sepatu, baju, tas, bahkan kamu pasti punya teman pecinta warna ungu yang seluruh barang-barangnya warna ungu.

Namun, banyak yang tak tahu cerita dan sejarah dibalik warna ungu. Zaman dahulu, warna ungu adalah warna yang istimewa.

Zaman dahulu, warna ungu adalah warna yang sangat istimewa. Harga dari pewarna ungu sangat mahal dan kalaupun punya uang untuk membeli pewarna ungu, belum tentu kamu masuk golongan orang-orang yang boleh menggunakan warna ungu. 

Sejak zaman kerajaan, Romawi, Mesir, dan Persia, ungu adalah warna yang berhubungan dengan keluarga kerajaan. Warna ungu juga berhubungan dengan spiritualitas dan kesucian.

Sehingga kaisar, raja, dan ratu yang menggunakan warna ungu dianggap sebagai keturunan atau bahkan jelmaan para dewa.
 

Kenapa sih kok warna ungu bisa mahal?

Jadi, warna ungu bisa mahal karena pembuatannya yang susah. Hal ini karena pada zaman dahulu, pewarna sintetis dari bahan kimia belum ada. Pigmen warna ungu dahulu kala dibuat dari siput Bolinus brandaris yang berasal dari kota Tyre, yang saat ini terletak di Lebanon. 

Cara pembuatannya adalah ratusan bahkan ribuan siput itu di hancur leburkan jadi satu. Diperkirakan bisa sampai 10.000 siput hanya bisa menghasilkan 1 gram pigmen warna ungu yang disebut Tyrian Purple. Kebayang kan, pabrik pigmen warna ungu baunya kayak apa. 

Produsen pembuat warna ungu terbesar pada zaman dahulu adalah masyarakat Phoenicia, atau yang sekarang terletak di Lebanon. Dari Phoenicia, kemudian di ekspor ke seluruh penjuru dunia.

Hal inilah yang membuat pigmen warna ungu semakin mahal. Sudah pigmennya susah dibuat, ditambah jarak yang jauh dan ongkir yang mahal pula. Itu pun kalau perjalanan lancar dan enggak dibajak perampok.

Saking mahalnya pigmen warna ungu, Ratu Elizabeth I bahkan sampai membatasi siapa aja yang boleh memakai warna ungu, hukum itu disebut dengan Sumptuary Laws.

Namun, karena saking langka dan mahalnya, banyak juga kejadian dimana penguasa kerajaan sampai tidak mampu beli pigmennya karna semahal itu. Itulah mengapa nyaris tidak ada negara di dunia yang pakai warna ungu di benderanya.

Tapi kemudian sudah banyak alternatif lain untuk pigmen warna ungu. Contohnya alternatif yang dibuat William Henry Perkin. Sebenarnya, penemuan ini adalah penemuan gagal. Perkin enggak sengaja menciptakan pigmen ungu sintetis saat dia lagi mencari obat untuk malaria.

Baca Juga: Kombinasi Warna Untuk Website agar Menarik
 

Warna lain yang mahal dan tersulit didapat

Selan warna ungu, sebenarnya warna biru yang juga langka. Karna langka, dan susah didapat maka warna tersebut jadi mahal dan bahkan sempat lebih mahal daripada emas. Masih dengan alasan yang sama, karena bahan baku alami pembuatan pigmen warna biru itu sangat langka

Alasannya adalah dulu satu satunya cara untuk mendapatkan pigmen warna biru adalah dari batu lapis lazuli. Namun, batu lazuli sangat sulit didapat, batu ini juga kebanyakan di tambang di wilayah Afghanistan. 

Namun, ada satu peradaban yang berhasil menciptakan warna biru secara buatan tanpa lapis lazuli, yaitu peradaban mesir kuno. Pigmen itu kemudian dinamakan Egyptian Blue.

Tahun 2009, ilmuwan menemukan ternyata pigmen warna Egyptian Blue mengeluarkan sinar infrared yang kemudian sangat berguna untuk membantu di bidang kedokteran. Penemuan ini mempunyai potensi untuk dikembangkan dalam dunia medis dalam segi Medical Imaging, untuk mendiagnosa penyakit. 

Kalau kamu, suka warna ungu juga enggak nih?