Yuk Kenalan dengan Prinsip Value Investing dan Beberapa Strategi Dasarnya

Memahami laporan keuangan dan kinerja perusahaan adalah aspek value investing (Sumber gambar: Freepik)

Memahami laporan keuangan dan kinerja perusahaan adalah aspek value investing (Sumber gambar: Freepik)


Dalam menjalankan sebuah investasi, terutama investasi saham, investor pada umumnya telah menetapkan sebuah pegangan prinsip yang akan dijalankan ketika berinvestasi. Salah satu prinsip atau metode yang dapat menjadi pilihan dalam berinvestasi saham adalah dengan melalui tipe value investing.
 

Apa Itu Value Investing?

Value investing sendiri adalah cara seseorang dalam berinvestasi dengan lebih mengutamakan pada saham-saham berpotensi yang sedang ada di kondisi undervalue atau di bawah nilai wajarnya.

Orang-orang yang menerapkan value investing dapat disebut sebagai seorang value investor. Dalam realitanya, ternyata banyak juga lho Be-emers, investor-investor sukses yang menerapkan prinsip value investing ini, yang salah satunya adalah Warren Buffet.

Yang perlu diketahui, tujuan dari prinsip value investing ini sejatinya adalah untuk menekan risiko akibat investasi pada saham-saham yang sudah terlalu mahal (overvalue) dan juga untuk memaksimalkan potensi yang ada ketika terdapat sebuah momentum yang menyebabkan saham tersebut naik secara signifikan.

Oleh karena itu, banyak orang yang mengatakan bahwa prinsip value investing ini sejatinya seperti mencari sebuah harta karun yang sangat berharga.

Lalu, kira-kira strategi seperti apa saja yang diterapkan di dalam value investing? Yuk, langsung simak saja penjelasan di bawah ini!


 

Beberapa Strategi Dasar dalam Value Investing

Membaca berita membantu kita dalam melihat trend sektor pasar (Sumber gambar: Freepik)

Membaca berita membantu kita dalam melihat trend sektor pasar (Sumber gambar: Freepik)

 

1. Menganalisis Fundamental Perusahaan

Dalam value investing, fokus analisis yang dilakukan oleh seorang investor adalah dengan melihat faktor fundamental sebuah perusahaan. Investor akan mengamati dan menganalisis bagaimana kinerja perusahaan selama ini, apakah merupakan perusahaan yang sehat atau tidak.

Pada strategi ini, umumnya investor akan mempertimbangkan beberapa segi analisis, seperti faktor PBV, PER, dan ROE. Setelah analisis fundamental lengkap dan selesai, barulah investor mulai beranjak pada faktor-faktor eksternal yang dapat mempengaruhi pergerakan market, seperti contohnya nilai tukar rupiah.
 

2.  Mengamati Trend Pada Sektor Market

Isu-isu domestik ataupun global nyatanya sangat erat kaitannya dengan pergerakan saham. Munculnya sebuah isu tertentu akan dapat mendongkrak kenaikan saham.

Sehingga, mengetahui sektor market yang sedang nge-trend sangatlah penting untuk dilakukan bagi seorang value investor.

Misalnya saja pada isu terkait digitalisasi. Maka, usaha kita untuk melihat saham-saham yang berpeluang akibat digitalisasi tersebut akan sangatlah berguna untuk menemukan potensi investasi.  
 

3.  Memahami Valuasi dan Nilai Wajar Saham

Bagi seorang value investor, harga pada saat ini sejatinya tidak terlalu penting apabila dibandingkan dengan harga wajarnya atau harga yang sebenarnya.

Terlebih lagi, dalam value investing, seorang investor justru mencari saham-saham yang sedang undervalue atau murah. Biasanya, untuk mengetahui valuasi dan nilai wajar sebuah saham, investor akan menganalisis dari segi PBV dan PER. 
 

4. Menganalisis Waktu yang Tepat ketika Membeli dan Menjual Saham

Waktu pembelian dan penjualan saham juga tidak kalah penting dalam value investing. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, seorang value investor tentu akan membeli suatu saham ketika harganya sedang murah yang biasanya melihat dari sisi PBV.

Namun, mahal dan murahnya suatu saham juga harus dilihat bersamaan dengan jejak sejarah harga seiring perkembangan waktu ya Be-emers.

Sedangkan dalam penjualan, seorang value investor pada umumnya cenderung akan memegang saham tersebut dalam waktu yang lama sampai terdapat momen yang pas. Kondisi fundamental yang baik adalah pegangan dalam value investing sehingga fluktuasi adalah hal yang sangat wajar.

Namun, apabila memang ingin menjualnya, seorang value investor biasanya akan lebih berfokus pada trend saham tersebut, yaitu dengan melihat uptrend dan downtrend-nya.

Nah, kira-kita itulah beberapa penjelsannya. Bagaimana Be-emers, kalian pasti sudah mengenal lebih banyak tentang value investing dan beberapa strategi dasarnya kan?

Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi kalian semua ya.





Editor: Rachma Amalia