2 Cara Berpikir Bisnis untuk Bisnisman Menurut Dr Indrawan Nugroho

Dr Indrawan Nugroho - Image: Instagram Dr Indrawan Nugroho

Dr Indrawan Nugroho - Image: Instagram Dr Indrawan Nugroho


Bagi kalian yang sedang merintis usaha atau sedang berjuang untuk sukses, Dr Indrawan Nugroho membagikan tips cara berpikir.

Ada cara berpikir yang membuat para founder Uber, Amazon, dan Tesla berhasil mendisrupsi industrinya masing-masing.

Apa saja, sih? Baik, sebelum membahas lebih lanjut, mari kita mengenal dua cara berpikir.

Baca Juga: Ide Bisnismu Sudah Diambil? Simak Cara Berpikir Nadiem Makarim
 

Mengenal Apa Itu Thinking by Analogy dan First Principle Thinking

Dua cara pikir itu adalah thinking by analogy dan first principle thinking. Thinking by analogy ini merupakan cara berpikir yang paling umum, dimana anda mengambil sesuatu yang anda sudah kenal kemudian memodifikasinya membuatnya jadi lebih baik.

Misalnya, Anda ingin berbisnis Hotel, maka anda lihat tuh hotel-hotel yang ada di kota anda, kemudian Anda pilih hotel terbaik disegmen anda untuk dijadikan referensi. Nah, dari situ Anda mulai tuh membangun dan menjalankan hotel Anda dengan improvement sana-sini atas hotel yang anda jadikan referensi tadi.


Cara berpikir selanjutnya adalah first principle thinking. Istilah first principle atau prinsip pertama pertama kali dikemukakan oleh filsuf Yunani kuno Aristoteles lebih dari 2000 tahun yang lalu. Aristoteles percaya bahwa kita belajar lebih banyak dengan memahami prinsip-prinsip dasar dari suatu subjek.

Dia mendefinisikan first principle sebagai basis pertama dari mana sesuatu diketahui, sebuah asumsi dasar yang tidak bisa dideduksi lebih jauh. Nah, menurut Dr. Indrawan Nugroho pola pikir ini dapat membuat kita menjadi innovator dan disruptor di dunia teknologi industri.

Mengapa? Sebab dengan mengetahui prinsip dasar, kita bisa tau apa yang harus dilakukan dalam bisnis. Kita akan menemukan inovasi apa yang cocok untuk bisnis kita.
 

First Principle Thinking

Sebagai contoh, anda ingin menjalankan sebuah bisnis, maka anda akan mulai ini dengan memahami apa sebenarnya bisnis itu secara cepat. Kita mungkin berpikir ya bahwa bisnis itu sebuah badan usaha legal atau kumpulan karyawan yang bekerja dalam sebuah kantor.

Namun, jika kita renungkan ada juga sih seseorang yang berbisnis tanpa punya badan usaha, alamat kantor ataupun karyawan. Esensi dari bisnis itu adalah ketika anda berhasil melakukan transaksi dengan orang lain, selama anda belum bertransaksi maka sesungguhnya anda belum berbisnis.

Kupas lagi lebih dalam apa yang dimaksud dengan transaksi, transaksi adalah pertukaran nilai antara penjual dan pembeli. Ketika pembeli bersedia memberikan sesuatu yang bernilai seperti uang untuk bisa mendapatkan barang atau jasa yang nilainya sepadan dengan nilai uang yang ia korbankan, maka transaksi terjadi.

Nah, saat itulah anda punya bisnis, jadi ternyata inilah hal yang paling mendasar dari bisnis. Enggak ada lagi yang lebih mendasar, dengan begitu first principle dari bisnis ialah pertukaran nilai antara penjual dan pembeli.

Dengan memahami ini, anda akan bisa menganalisa, menapa bisnis Anda belum berhasil serta menyusun strategi untuk meningkatkan kinerjanya.

Kita coba dua cara berpikir ini pada studi kasus. Anda sedang memulai bisnis resort and properti. Jika anda menggunakan thinking by analogy, maka anda akan mencari referensi, belajar dari para pendahulu, mencari lokasi strategi, dan masih banyak tindakan lain.

Anda juga akan mencari skema pemodalan bisnis anda yang tentunya sangat besar. Lalu bagaimana jika menggunakan first principle thinking? Akan lebih rumit tapi hasilnya tidak akan mengecewakan.

Mari bertanya, apa sih sebenarnya hal yang paling mendasar dalam industri perhotelan? Apakah fasilitasnya ataukah kualitas layanannya?

Jelas hal tadi merupakan bagian penting ya di industri perhotelan, tapi jika kita gali lebih dalam lagi, ternyata first principle dari industri perhotelan adalah tentang menyediakan akomodasi yang nyaman bagi tamu.

Kita tanya lagi apa biaya terbesar yang perlu dikeluarkan Jika anda ingin berbisnis? Tentu saja bangunan hotel itu sendiri. Sekarang, apakah akomodasi yang nyaman itu harus berupa bangunan Hotel? Enggak juga sih.

Terus, bagaimana kita bisa menyediakan akomodasi yang nyaman bagi tamu tanpa harus memiliki bangunan hotel?

Dengan menjadi agen yang mempertemukan antara pengunjung dengan pemilik bangunan. Istilah ini disebut broker. Jika broker ini dimodifikasi dengan teknologi digital, maka lahirlah e-commerce.

Jika anda sampai pada level ini dan mengeksekusi ide itu, SELAMAT! Anda telah menjadi CEO Startup sekelas Airyroom, RBnB, RedDoorz, dan OYO. Sekarang anda sudah mendistrupsi pasar perhotelan di dunia. Sekarang bisnis resort and properti gak harus punya modal gede.

 

2 Cara Berpikir Bisnis untuk Bisnisman - Image: Canva

2 Cara Berpikir Bisnis untuk Bisnisman - Image: Canva

 

Perbedaan First Principle Thinking dan Thinking by Analogy

Dr. Indrawan Nugroho mengumpamakan dua cara berpikir ini seperti perbedaan antara seorang chef dengan juru masak. Chef adalah perintis, orang yang menciptakan resep.

Dia tahu bahan mentah nya dan tahu cara menggabungkannya. Sementara si juru masak yang berpikir dengan analogi menggunakan resep, dia bisa jadi melakukan sedikit variasi dari resep yang sudah ada, supaya terasa lebih unik lagi.

Namun, tetap saja dia tidak bisa menciptakan resep baru. Jika si juru masak kehilangan resepnya, dia akan kebingungan.

Chef memahami citarasa dan kombinasi bahan pada tingkatan yang sangat mendasar. Sehingga, dia dapat memasak hidangan paling nikmat, bahkan tanpa menggunakan resep.

Jika anda membangun bisnis dengan thinking by analogy maka anda akan mencontek apa yang dilakukan orang lain. Ketika formula yang anda contek sukses, mungkin biasa saja, tetapi jika berlaku sebaliknya anda bisa collaps.

Lalu thinking by analogy harus dihindari? Tidak juga, karena cara berpikir ini dapat kita gunakan untuk technology improvement. Sebab setelah kita mengeksplorasi suatu bidang dengan first principle thinking dan menemukan inovasi, kita harus mengeksploitasinya untuk bisa menghasilkan uang.

Istilahnya sih monetisasi. Proses untuk mendapatkan uang ini kan ada banyak cara dan skemanya. Cara-cara ini bisa kita temukan dengan menggunakan thinking by analogy, dengan begitu kita tidak hanya memonetisasi melalui satu jalan.

Kita lihat Facebook dan Instagram yang mengubah jalannya sosial media, tetapi mereka mencontek e-commerce dan menyediakan lapak berjualan agar mendapatkan income di sana. Hal itu sah-sah saja.

Jadi, kita harus memadukan kedua cara berpikir ini ya. Jangan mau seperti Blackberry, yang waktu itu merajai dunia ponsel dengan fitur messengernya. Sebab, kurang eksploitasi dan agak gengsi mengadaptasi fitur saingannya. Akhirnya, mereka hancur lebur.
 

Aplikasi First Principle Thinking

Terbaru ada kosmetik MS Glow yang melakukan disrupsi dalam dunia entertainment. Beberapa waktu lalu MS Glow melalui MS Glow Men memasang iklan New York Time Square dengan model Babe Cabita dan Marshel Widiyanto.

Mengapa? Sebab, mereka membuang jauh-jauh bahwa iklan harus atraktif dan menggunakan artis ganteng dan bayaran mahal. Ini sebenarnya ide brilian, karena memang first principle dari iklan adalah bagaimana pembeli tertarik.

Pemasangan iklan dengan Babe Cabita dan Marshell Widiyanto viral dan secara tidak langsung banyak media yang menyorot MS Glow Men tanpa perlu dibayar. Iklan tersebut juga memenangi satu pasar yang sangat besar di Amerika, yaitu pangsa pasar bagi penduduk minoritas di sana. Kulit eksotis Babe dan Marshell serta rambut afro mereka memenangi hati afro-amerika dan asia-amerika.

First principle thinking tidak harus mengenai bagaimana kita membangun perusahaan ataupun menambah profit. Cara kita menjadi pusat perhatian pun juga bisa diterapkan.

Sekarang, bagaimana? Tertarik menerapkan dua cara berpikir ini?

Baca Juga: Penting, Pebisnis Coba Simak Cara Berpikir Elon Musk!