Problematik, Pengguna Twitter Pindah ke Medsos Baru Mastodon

Mastodon. (Ilustrasi: Webiste Mastodon)

Mastodon. (Ilustrasi: Webiste Mastodon)


Setelah Twitter diakuisisi Elon Musk banyak kebijakan yang mendapat respon negatif dari penggunanya. Muak, mereka pilih pindah ke Mastodon. Bisakah medsos baru ini menggantikan Twitter?

Elon Musk resmi mengakuisisi Twitter senilai US$44 Miliar. Setelah berita ini sampai ke publik, masyarakat menjadi heboh karena sudah menantikan akuisisi yang prosesnya cukup lama ini. 

Setelah sah akuisisi pun Twitter, tepatnya Elon Musk, masih membuat heboh dengan kebijakan-kebijakan yang mendapat sentimen negatif dari masyarakat khususnya pengguna Twitter.
 

Kebijakan Baru Twitter


Dibawah kepemimpinan Elon Musk, Twitter segera berbenah dengan merumuskan kebijakan-kebijakan baru. 

Salah satu kebijakan yang cukup mengagetkan adalah berubahnya Twitter dari perusahaan terbuka atau publik menjadi perusahaan privat. Artinya saham Twitter akan delisting dari bursa.


Kebijakan lainnya adalah munculnya Twitter Blue, yang akan memberikan centang biru atau verified kepada pengguna yang membayar sebesar US$8 setiap bulannya.

Hal lain yang lebih mengejutkan, Twitter melakukan layoff terhadap hampir setengah karyawannya.

Baca Juga: Elon Musk Mohon Pengiklan Enggak Tinggalkan Twitter, Kenapa Sih?

Elon Musk mengatakan melalui akun Twitternya bahwa kedepannya akan ada perubahan-perubahan ‘bodoh’ di Twitter.

Hal ini membuat pengguna Twitter merasa kesal karena ketidakjelasan dan menganggap Twitter setelah diakuisisi Elon Musk menjadi platform yang problematik.

Ditengah keadaan ini muncul media sosial baru naik daun bernama Mastodon.
 

Apa Itu Mastodon?


Mastodon adalah jejaring sosial gratis dan bersifat terbuka (open-source) yang didirikan oleh Eugo Rochko pada tahun 2016. 

Aplikasi Mastodon dapat digunakan oleh pengguna Android dengan cara download di Play Store ataupun pengguna iOS dengan cara download di App Store.

Akses Mastodon via browser dapat melalui https://mastodon.social/. Tampilannya sekilas mirip dengan Twitter browser, mungkin ini yang membuat pengguna Twitter pindah ke Mastodon.

Sama seperti Twitter, Mastodon memiliki linimasa, explore, dan trending topic. Ada juga tab tagar atau hashtag dan news

Fitur-fiturnya juga tidak jauh dari Twitter, ada reply, retweet, bookmark, like, favorite, dan follow. Kemiripan ini yang bisa jadi membuat pengguna Twitter nyaman menggunakan Mastodon.

Baca Juga: Delisting, Ini Deretan Pemegang Saham Twitter

Pengguna Mastodon Naik

Dilansir dari Bisnis.com, pendiri Mastodon Eugen Rochko mengatakan platlform ini mencatat 120.000 pengguna baru dalam empat hari setelah Elon Musk mengakuisisi Twitter. 

Pada Senin (7/11), Rochko mengatakan di akun Mastodonnya bahwa pengguna aktif bulanan mencapai 1.028.362 akun, dengan server baru bertambah 1.124 sedangkan pengguna baru mencapai 489.003 sejak 27 Oktober 2022.

Mastodon pada dasarnya sangat mirip dengan Twitter. Perbedaan utama terletak pada desentralisasi. 
Mastodon bukan satu platform yang kohesif, tetapi sebenarnya kumpulan server yang berbeda yang dijalankan secara independen dan didanai sendiri. 

Pengguna di server yang berbeda masih dapat berkomunikasi satu sama lain, tetapi siapa pun dapat membangun server dan menetapkan aturan sendiri untuk diskusi. 

Mastodon mendapat pendanaan dari crowdfunding. Platform ini tidak memiliki hak untuk memaksa pemilik server melakukan apa pun, bahkan mematuhi standar moderasi konten dasar. 

Meskipun terlihat bebas, dalam praktiknya banyak server Mastodon memiliki aturan yang lebih ketat daripada Twitter.

Mau tulisanmu dimuat juga di Bisnis Muda? Kamu juga bisa tulis pengalamanmu terkait investasi, wirausaha, keuangan, hingga lifestyle di Bisnis Muda dengan klik “Mulai Menulis”.

Submit artikelnya, kumpulkan poinnya, dan dapatkan hadiahnya!

Gabung juga yuk di komunitas Telegram kami! Klik di sini untuk bergabung.