Survei Gallup: Wanita Kini Lebih Bebas Marah

Wanita Marah. (Ilustrasi: Canva)

Wanita Marah. (Ilustrasi: Canva)

Like

Selama berabad-abad wanita selalu identik dengan peran yang lemah lembut dan penuh kesabaran sehingga harus meredam amarah. Namun survei baru-baru ini menunjukan bahwa wanita kini lebih ekspresif soal emosi.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa perempuan dikatakan lebih perasa daripada laki-laki. Perempuan memiliki perasaan yang lebih sensitif, namun harus ditekan karena stereotip yang juga mengatakan perempuan adalah makhluk yang sabar.

Perasaan-perasaan seperti ini yang melatarbelakangi Gallup, sebuah perusahaan yang berfokus mengukur kinerja, melakukan survei terhadap perempuan-perempuan di seluruh dunia. 

BBC memberitakan, Gallup World Poll membuat analisis yang mengumpulkan data sepanjang 10 tahun. Dari data ini terlihat bahwa kaum perempuan semakin marah.
 

Survei Gallup World Poll


Survei yang dilakukan Gallup World Poll memakan waktu cukup lama. Setiap tahun, survei dilakukan terhadap 120.000 orang di lebih dari 150 negara.
 

Pertanyaan yang dilontarkan dalam survei ini antara lain tentang emosi apa yang paling sering mereka rasakan di hari sebelumnya. 
 
Baca Juga: 5 Alasan Perempuan Harus Financially Independent
 
Soal perasaan negatif seperti marah, sedih, stress, dan khawatir, perempuan secara konsisten mengatakan merasakan semuanya lebih sering ketimbang laki-laki.
 
BBC melalui analisisnya juga mengungkapkan bahwa sejak 2012 ada lebih banyak perempuan yang merasa sedih dan khawatir daripada laki-laki.
 
Soal rasa marah dan tertekan, jarak antar perempuan dan laki-laki semakin lebar. Pada 2012, kedua gender mengatakan marah dan stres dengan tingkat yang mirip. 
 
Sembilan tahun kemudian, perempuan semakin marah, lebih marah enam persen daripada laki-laki, dan semakin tertekan juga. Perbedaan khususnya tampak kentara di masa-masa pandemi.
 

Perempuan dan Perasaan Marah


Institute for Fiscal Studies pada 2020 melakukan sebuah jajak pendapat pada sekitar 5.000 orang tua di Inggris. Hasilnya para ibu mengambil lebih banyak tanggung jawab domestik selama lockdown ketimbang ayah.

Sebagai kompensasi, mereka harus mengurangi jam bekerja. Ini juga terjadi pada keluarga-keluarga di mana ibu memiliki pendapatan yang lebih besar.
 
Di beberapa negara, perbedaan angka antara perempuan dan laki-laki yang mengatakan mereka merasa marah di hari sebelumnya jauh lebih tinggi dari rata-rata global.
 
Di Kamboja, perbedaannya sebesar 17% pada 2021, sementara di India dan Pakistan sebesar 12%.
 
Baca Juga: Victoria’s Secret Collective, Transformasi ke Arah Pemberdayaan Perempuan
 
Banyak juga perempuan bekerja yang harus tetap mengerjakan pekerjaan-pekerjaan domestik karena tingginya patriarki. Ini meningkatkan angka stres mereka.
 
Sayangnya ketika perempuan merasa marah dan mengekspresikan emosinya, itu dianggap tidak sopan. Tapi, itu terjadi dulu.
 
Di masa lalu perempuan yang mengaku mereka merasa marah dianggap tak sopan, tapi itu sudah berubah. Sekarang ada sedikit kebebasan untuk perempuan mengekspresikan emosi mereka, begitupun soal perasaan marah.
 
Kini perempuan lebih bebas mengeluarkan emosinya dengan berbagai dukungan dari lingkungan sekitar.
 
Masyarakat sudah mulai paham bahwa emosi yang dirasakan merupakan hal yang sangat wajar apapun gendernya. 

Dukungan dari lingkungan sekitar membuat perempuan lebih bisa menyalurkan emosinya tanpa tekanan dan stereotip seperti dahulu. 

Mau tulisanmu dimuat juga di Bisnis Muda? Kamu juga bisa tulis pengalamanmu terkait investasi, wirausaha, keuangan, hingga lifestyle di Bisnis Muda dengan klik “Mulai Menulis”.
 
Submit artikelnya, kumpulkan poinnya, dan dapatkan hadiahnya!
 
Gabung juga yuk di komunitas Telegram kami! Klik di sini untuk bergabung.