Mengatur Keuangan Keluarga di Tengah Pandemi

sumber foto: pixabay

sumber foto: pixabay

Like

Siapa sangka tahun 2020 menjadi tahun penuh kejutan bagi kita semua. Serangan wabah Covid-19 telah menumbangkan negara-negara besar di dunia. Tidak terkecuali negara adidaya seperti Amerika. Virus yang berasal dari Kota Wuhan, Tiongkok, telah menyebar ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Virus Covid 19 tidak hanya mengancam jiwa manusia taoi juga sudah meruntuhkan sendi perekonomian negara.

Pertengahan Maret 2020, pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan agar masyarakat membatasi aktivitasnya untuk menyetop penyebaran virus corona. Hal itu dipicu oleh mulai tersebarnya virus ini dan mulai banyak korban berjatuhan. Kebijakan pemerintah untuk melakukan pembatasan kegiatan masyarakat diimplementasikan dengan menutup ruang-ruang publik seperti sekolah, tempat ibadah, mal-mal, dan beberapa kantor. Sehingga beberapa perusahaan memberlakukan 'kerja di rumah' atau dikenal dengan istilah WFH.

Kebijakan pembatasan kegiatan tersebut ternyata berdampak besar pada jatuhnya perekonomian negara. Banyak para karyawan yang kehilangan pekerjaan dan kehilangan penghasilan. Para pengemudi ojek online kehilangan pelanggan bahkan di beberapa tempat tidak boleh beroperasi.

Beberapa keluarga bisa melewati masa sulit ini karena sudah bisa mengatur keuangan. Namun tidak sedikit keluarga yang 'kaget' dan tidak siap dengan kondisi ini karena tidak punya dana cadangan. Sementara, kebutuhan sehari-hari tidak bisa ditunda, perut yang lapar tidak bisa ditahan, tagihan listrik dan air mesti tetap dibayar.

Pemerintah tentu tidak tinggal diam dengan kondisi tersebut. Pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan yang bisa meringankan pelaku usaha dan memberikan bantuan kepada rakyat. Namun, apakah setiap keluarga harus terus bergantung pada bantuan pemerintah? Alangkah baiknya mulai melakukan pengaturan keuangan keluarga, apalagi di masa pandemi seperti ini.


Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatur keuangan:
1. Mengecek dana di dalam tabungan dan perkirakan cukup untuk berapa bulan ke depan.
2. Fokus pada kebutuhan pokok seperti kebutuhan pangan dan taguhan wajib seperti tagihan listrik, air, dan kalau ada cicilan rumah. Syukur-syukur tidak punya cicilan bulanan yang wajib dibayar.
3. Siapkan perencanaan pangan keluarga dalam beberapa hari ke depan. Catat stok beras, stok air mineral, stok bumbu, stok lauk, dna kebutuhan pangan lainnya.
4. Mengurangi membeli makanan dari luar, kalau bisa masak sendiri agar lebih hemat.
5. Mulai bercocok tanam dan membuat warung hidup sebagai ketahanan pangan keluarga. Misalnya ada area halaman bisa diisi pot dan ditanami sayuran, pohon cabai, pohon tomat, dan bawan-bawangan.
6. Menunda bepergian ke luar rumah atau ke keluar kota jika tidak terlalu penting.
7.  Mengalokasikan budget transportasi ke dana darurat.
8. Membeli barang kebutuhan pokok dengan memanfaatkan promo-promo bebas biaya ongkos kirim di marketplace dan promo diskon.
9. Membeli barang yang benar-benar dibutuhkan, bukan barang konsumtif.
10. Lupakan dulu keinginan membeli baju, tas, dan sepatu.

 Jika memiliki keterampilan tertentu, misalnya bisa membuat camilan enak, atau bisa menjahit, gunakan masa karantina untuk memperdalam keahlian dan keterampilan. Jika memungkinkan bisa digunakan untuk menambah penghasilan.

Pada masa pandemi sekarang ini, tanpa disangka juga membuka peluang-peluang usaha baru. JIka memiliki keahlian menjahit bisa digunakan untuk membuat aneka masker kain dengan harga terjangkau. Selain itu, pada masa pandemi ini, banyak keluarga yang mengandalkan stok makanan pada makanan jenis frozen food. Jika bisa membuat frozen food yang enak dan sehat untuk keluarga bisa produksi lebih banyak dan dijual.