Misteri di Balik Harga Coret dalam Produk Penjualan

Harga coret, sumber gambar: Canva

Harga coret, sumber gambar: Canva

Like

Sebagai orang yang malang-melintang di dunia belanja online, pasti kamu tahu yang namanya harga coret. Sebuah harga yang tidak jadi digunakan, lalu ada keterangan harga di bawahnya yang betul, harga yang sebenarnya, harga yang harus kamu bayar kalau ingin mendapatkan barang tersebut.

Apakah penjual salah dalam memberikan harga hingga muncul harga coret? Bukankah ketika kita sekolah, kalau ada tulisan yang salah, maka harus langsung dicoret?

Ternyata, kita pun sudah tahu, bahwa harga coret itu semata-mata memang strategi promosi. 

Misalnya, harga baju lengan panjang. Tentunya panjang di sini ya sampai tangan dong, masa mau panjang sampai kaki? Baju tersebut punya harga coret satu juta rupiah. Berarti harga itu tidak dipakai, lalu ada harga di bawahnya sebesar seratus ribu rupiah. Nah, diskon berapa persen tuh?

Dari harga satu juta, menjadi seratus ribu, dalam persepsimu, maka ini harga yang murah. Harga yang fantastis. Harga yang sangat menawan hati dan menawan dompet. Langsung deh kamu beli baju tersebut, meskipun mungkin harus merogoh dompet sampai ke basementnya.  


Padahal, bisa saja harga baju itu cuma empat puluh ribu. Dijual seratus ribu, maka untungnya enam puluh ribu bagi penjual.

Baca Juga: Marak Bisnis Beralih ke Digital, Yuk Simak Tips Cuan ala Presiden Bukalapak

Seperti kebanyakan mall atau tempat belanja modern lainnya, harga coret itu adalah harga yang dinaikkan. Setelah itu, baru didiskon, dicoret itu tadi. Dan, kamu pun tergiur dengan penawaran itu.

Apalagi jika kamu punya istri, pas diajak jalan-jalan ke mall, langsung dia bilang, "Ih, barangnya lucu. Belikan dong sayang!"

Mau tak mau, sebagai suami yang baik, atau mencoba jadi suami yang baik, kamu tidak enak hati untuk tidak membelikan barang tersebut. Apalagi istri kamu terus merajuk demi kata "barangnya lucu" itu tadi. Nah, apakah barangnya itu bisa melawak, kok dikatakan lucu?


Antara Produk Fisik dan Produk Digital


Membuat harga coret itu memang harus dengan pertimbangan matang. Ini maksudnya bukan timbangannya kamu goreng sampai matang, bukan begitu.

Menjual produk fisik itu pada dasarnya memang ada kelemahan-kelemahannya. Selalu saja ada ongkos produksinya yang notabene selalu ada di setiap produk. 

Contohnya, celana panjang. Untuk bisa menghasilkan satu celana panjang yang bagus, mungkin harga produksinya adalah lima puluh ribu. Ini misalnya lho ya, soalnya saya sendiri belum pernah juga membuat celana panjang, meskipun saya suka makan sayur kacang panjang. Lho, hubungannya apa coba? 

Baca Juga: Bisnismu Terkendala Ongkir? Ini Dia Solusinya!

Nah, memproduksi celana panjang sebanyak seribu buah, maka kalikan saja dengan lima puluh ribu. Begitulah ongkos produksinya. Belum ditambah dengan biaya pengemasan, distribusi, biaya yang muncul ketika dijual di toko milik orang lain, dan sebagainya.

Penjual produk fisik seperti celana panjang tersebut harus memikirkan ketika mau menerapkan harga coret. Kira-kira, harga coretnya berapa ya? Kalau harganya langsung dinaikkan jadi 50 juta, terus dicoret dan akhirnya jadi dua ratus ribu, rasanya mengada-ngada deh, alias ngadi-ngadi. 

Penjual perlu mempertimbangkan produk sejenis di pasaran. Kemudian, juga harus dipikirkan dengan stok. Kira-kira ketika menjual nanti, stok bisa tercukupi atau tidak? Mungkin pula barang tersebut jadi tidak laku ketika dijual, meskipun sudah harga coret. Apa perlu wajah si penjual juga dicoret agar konsumen mau beli?

Yang jelas, faktor utamanya adalah biaya produksi. Mau produksi seribu, seratus, atau bahkan sepuluh, maka biaya produksinya juga dikalikan sejumlah itu.

Hal ini berbeda dengan produk digital. Hey, tahukah kamu produk digital itu? Secara umum, produk ini adalah produk yang tidak nyata. Hah, maksudnya jualan tuyul? Tentu tidak dong, produk digital itu bisa kita rasakan, meskipun tidak benar-benar tampak seperti produk fisik.

Software, ecourse, ebook, template Powerpoint, template Canva, audio berlisensi, tutorial video, sistem membership, plugin Wordpress, dan lain sebagainya. Bahkan media sosial yang setiap hari kamu pakai dan setiap saat kamu buka, itu termasuk produk digital juga. 

Dikatakan produk digital karena kamu tidak tahu berapa beratnya dalam kilogram, tidak bisa dipegang dengan tangan, tidak tahu ukurannya dalam sentimeter, tidak bisa tercium baunya, dijilat juga tidak bisa, begitulah keunikan dari produk digital.

Baca Juga: Project S TikTok Shop Ancaman untuk UMKM Indonesia?

Nah, ternyata, produk digital ini memang sangat berbeda dengan produk fisik. Membuat produk digital itu cukup satu kali saja. Iya, betul, cukup satu kali saja! Lebih dahsyatnya lagi, diproduksi sekali, tetapi bisa dijual berkali-kali. Wah, mantap!
 

Menentukan Harga Produk Digital


Untuk menentukan harga pun, jadi lebih bebas lagi. Oleh karena dibuatnya hanya sekali, maka dijual dua atau tiga kali saja sudah balik modal.

Ada produk template Powerpoint dengan harga 300-400 ribuan saja, ketika dijadikan jasa video atau gambar promosi bagi orang lain, bisa dijual dengan harga satu juta rupiah. Ini satu kali terjual, sudah untung. Apalagi jika dijual berkali-kali. 

Memang banyak produk digital yang berlisensi PLR alias Private Label Rights. Namanya pakai private, bukan berarti ini ada kaitannya dengan les privat anak-anak atau keponakan kamu ya! 

Produk PLR itu sangat menarik karena bisa dijual lagi berkali-kali dan bisa diklaim bahwa itu produk kita. Iya, betul! Meskipun bukan kita sebagai pembuatnya, tetapi penjual pertama memberikan hak bagi yang beli produknya untuk dijual atas nama pembeli tersebut, bukan lagi namanya. Lho, tidak rugi, Mas? Tentu tidak dong, sebab itu adalah bagian dari strategi penjualan juga. 

Baca Juga: Tips Mengelola Keuangan Bisnis dengan Bijak untuk UMKM!

Contohnya, produk PLR tentang strategi berjualan di marketplace. Bisa dijual utuh semua videonya, bisa dijual per seri, dikirim tiap pekan atau tiap bulan ke customer.

Bisa diubah, dijadian ebook kalau kita mahir menulis. Bisa dijadikan konten sendiri di TikTok. Begitu banyak pilihan yang bisa dilakukan dari produk digital tersebut. 

Ketika di awal sudah untung, sudah kembali modal, tinggal memainkan strategi harga coret. Mau dijadikan harga berapapun bebas. Namun, ini juga biasanya ada ketentuan khusus dari penjualnya. Boleh dijual dengan harga sesuai kemauan kita, tetapi ada harga minimalnya.

Biasanya sih seratus ribu atau 99.000 saja. Dijual empat ribu rupiah, mungkin akan laris, tetapi untungnya jauh lebih sedikit perproduk. Tentu, lebih menggiurkan kita dapat seratus ribu sekali terjual daripada empat ribu rupiah bukan?

Begitulah keuntungan ketika kita menjual produk digital dibandingkan produk fisik. Tertarik untuk beralih ke produk digital dan memainkan harga coret lebih bebas? Jualan saja dua-duanya jika kita mampu dan punya tim untuk menanganinya.

Pilihan ada di tangan kita karena hidup itu memang sebuah pilihan. Namun, yang lebih penting, harga coret itu memang bagian dari strategi bisnis. Begitu banyak strategi bisnis, pilih satu atau dua saja, yang lainnya dicoret! Memangnya, cuma harga saja yang bisa dicoret? 

Punya opini atau tulisan untuk dibagikan juga? Segera tulis opini dan pengalaman terkait investasi, wirausaha, keuangan, lifestyle, atau apapun yang mau kamu bagikan. Submit tulisan dengan klik "Mulai Menulis".
 
Submit artikelnya, kumpulkan poinnya, dan dapatkan hadiahnya!
 
Gabung juga yuk di komunitas Telegram kami! Klik di sini untuk bergabung.