Berinvestasi di Saham Syariah, Bagaimana Strateginya?

Ilustrasi berinvestasi di saham syraiah (Gambar oleh Sergei Tokmakov, Esq. https://Terms.Law dari Pixabay)

Like

Investasi saham syariah semakin mendapat perhatian di Indonesia, terutama di bulan-bulan penuh berkah seperti Ramadan.

Di bulan ini, banyak umat Muslim yang mencari cara untuk mengelola keuangan mereka dengan prinsip syariah.

Dalam konteks ini, penting untuk memahami strategi investasi yang sesuai agar dapat memaksimalkan keuntungan sambil tetap mematuhi prinsip-prinsip syariah.
 

Mengapa Mesti Berinvestasi di Saham Syariah? 

Investasi saham syariah merupakan pilihan yang menarik bagi banyak orang, terutama bagi mereka yang ingin berinvestasi tanpa melanggar hukum Islam.

Menurut data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pertumbuhan pasar saham syariah di Indonesia menunjukkan tren positif.

Pada tahun 2022, total kapitalisasi pasar saham syariah mencapai Rp 1.200 triliun, meningkat 15% dibandingkan tahun sebelumnya (OJK, 2022). 


Selain itu, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa jumlah investor saham syariah meningkat sebesar 25?lam dua tahun terakhir.

Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak masyarakat yang menyadari pentingnya investasi yang sesuai dengan prinsip syariah.

Dengan cara ini, mereka tidak hanya mencari keuntungan finansial, tetapi juga ingin memastikan bahwa investasi mereka tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama. 
 

Prinsip dalam Investasi Saham Syariah 

Sebelum memulai investasi saham syariah, penting untuk memahami prinsip-prinsip dasar yang mendasarinya.

Investasi syariah harus bebas dari unsur riba, gharar (ketidakpastian), dan maysir (perjudian). Oleh karena itu, saham yang dipilih harus berasal dari perusahaan yang beroperasi dalam sektor yang halal dan tidak terlibat dalam aktivitas yang dilarang oleh Islam. 

Menurut Bank Indonesia, terdapat beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh perusahaan agar sahamnya dapat dikategorikan sebagai saham syariah.

Misalnya, perusahaan tidak boleh terlibat dalam bisnis yang berkaitan dengan alkohol, perjudian, atau produk-produk haram lainnya.

Dengan memahami prinsip ini, investor dapat lebih percaya diri dalam memilih saham yang sesuai dengan nilai-nilai mereka.