Bersantap ala Orang Eropa di Stockholm Syndrome Bogor

Nuansa cozy Stockholm Syndrome Bogor (Foto Pribadi)


Dalam dunia psikologi, Stockholm Syndrome merupakan suatu kondisi ketika korban kekerasan justru merasa simpatik terhadap pelakunya. Namun, aku bukan mau membahas psikis. Stockholm Syndrome yang kumaksud di sini adalah kafe di Kota Hujan!

Tak hanya sejarah, Bogor memiliki segudang tempat makan menarik yang layak untuk disambangi. Aku tahu kafe ini belum lama, padahal kafe ini sudah berdiri sejak awal 2019.


Jadi Orang Eropa Sehari di Stockholm Syndrome Bogor

Minimalis terpancar di setiap sudut kafe (Pribadi)

 
Cuaca Bogor tak terlalu terik kala aku menemukan gedung mungil di sudut. Sama sekali tidak mencolok perhatian, aku tanpa ragu memasuki pintu kafe.

Suasana minimalis kental terasa. Tak berlebihan jika Swedia identik dengan gaya hidup minimalis, termasuk adaptasi rumah makan di Indonesia. Stockholm Syndrome adalah kafe bernuansa Swedia pertama di Bogor.

"Menu favorit di sini apa kak?" tanyaku pada perempuan muda yang berdiri di kasir. Buku menu yang kupegang juga simpel, tak terlalu banyak perintilan di dalamnya.

"Köttbullar kak, ini menu bola daging (bakso) khas Swedia. Ada yang isi 5, ada juga yang 8," jawab mbaknya dengan senyum ramah.


Baca Juga: Mencari Keberadaan Benteng Ciampea, Pos Pertahanan Belanda di Masa Lampau

Berhubung aku belum terlalu familier dengan menu Swedia, aku memutuskan mencoba dulu yang isi 5 bulatan daging.

Seumpama kurang di lidah, setidaknya tidak harus bersisa. Begitu selalu prinsipku jika mencoba kuliner baru. Untuk minuman, pilihanku jatuh pada Nordic Shake karena gambarnya menarik.


Inner Child yang Seketika Bangkit

Ragam permainan tradisional membangkitkan memori masa kecil

 
Menariknya, sisi bocah dalam diriku turut menyeruak ke permukaan. Ada banyak mainan anak-anak tersusun rapi persis dekat kasir. Ada buku bergambar anak, kereta-keretaan, bahkan boneka menyerupai buaya yang rasanya ingin kubawa pulang.

Sambil menunggu makanan datang, aku mengintip rak buku mungil yang bersandar dekat meja yang aku pilih. Ownernya pandai, dia menaruh segala buku dan majalah yang berhubungan dengan Swedia di kafe ini.

Hingga tak terasa, bakso ala Swediaku datang juga. Makanan diplating begitu cantik sehingga sayang untuk dimakan. Keputusanku memilih yang isi 5 tepat, karena bulatan bola dagingnya cukup besar.

Bola daging sapi menggelosor masuk ke mulutku, empuk sekali. Mashed potato yang bumbunya tidak terlalu berlebihan menjadi padanan pas untuk si bakso Sweden. Tak ketinggalan saus jamur dan acar timun yang menciptakan orkestra rasa di dalam indera pengecap.

Salah satu menu favorit: Kötbullar alias baksonya Swedia


Yang menurutku menjadi bintangnya adalah selai lingonberry yang membuat meatballs tidak terlalu 'berat'. Preferensi orang Eropa yang tidak terlalu doyan masakan berbumbu sukses dikreasikan di sini, dengan tetap menyesuaikan lidah orang Indonesia. Asam manis gurih berpadu, sungguh menu makan siang sempurna.

Hasil baca buku dan kunjungan ke pameran kebudayaan Eropa yang pernah kukunjungi waktu kuliah, selai lingonberry adalah selai khas Skandinavia yang kini sudah bisa dijumpai di Indonesia.