Belajar dari Womenwear: Bangun Tim yang Kuat Agar Bisnis Tidak Melorot ke Tingkat Gawat

Artikel tentang membangun bisnis yang kuat, belajar dari Womenwear, brand fashion busana muslimah dari Serang, Banten


Waktu awal datang ke Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, sekitar tahun 2010, saya mulai berbisnis batik. Ini yang dimaksud adalah pakaian, terutama untuk perempuan, tidak ada kaitannya dengan pesawat terbang. Waktu itu memang belum ada brandnya. 

Saya titip jualan kepada seorang teman yang pekerjaannya menjaga sebuah penginapan. Meskipun aslinya memang penginapan, tetapi di papan namanya tertulis hotel. Rupanya, memang itulah standar di sini, penginapan bisa dikatakan hotel.

Ada sebuah agenda saya datang ke Kendari, ibukota Sulawesi Tenggara. Ada sebuah pameran perumahan. Maket-maket terpajang dan terlihat apik dari kotak kaca yang anggun dan mengkilap. Itu kalau rumahnya terjual, bagaimana cara menempatinya, ya? Kecil sekali soalnya. 

Saya pun berkenalan dengan seorang penjaga stand. Kalau tidak salah ingat, semoga bukan penyakit insomnia, dia adalah orang Jawa juga. Seorang laki-laki dengan perawakan yang bisa berdiri ketika tidak sedang duduk. 

Mengobrol ngalor-ngidul, sampai akhirnya saya bercerita bahwa saya sedang berbisnis batik. Mengambil barang dari teman saya di Jogja, untuk dijual di Bombana. 


Saya bercerita juga bahwa ada teman yang bantu menjualkan. Tiba-tiba, tidak ada hujan, tidak ada angin, apalagi yang berbau tajam itu, dia bercerita bahwa bisnis saya sudah mirip orang yang mendapatkan passive income

Soalnya, bisnis saya sudah ada yang mengurus. Sementara saya jalan-jalan di Kendari, bisnis tetap jalan di sana. Teman saya menunggu barang jualan saya. Dia akan mendapatkan komisi jika pakaian itu berhasil terjual. 

Mendengar kata passive income dari dia, saya juga senyum-senyum dan berharap itu menjadi kenyataan. Namun, kok rasanya ini jadi mimpi di malam bolong, ya? Maaf, karena bukan siang, waktu itu kejadiannya malam, jadi bolongnya terikut, tanpa harus dikaitkan juga dengan sundel. 

Dari situ, saya berpikir lebih dalam lagi, bahwa passive income memang menjadi cita-cita banyak orang, apalagi yang merintis usaha. Membayangkan bisnis bisa jalan, sementara pemiliknya jalan-jalan. 

Membayangkan duduk ongkang-ongkang kaki di rumah, uang terus mengalir ke rekeningnya dari hasil bisnisnya. Dia tinggal terima laporan saja dari anak buahnya dan tidur dengan nyenyak. 

Kalau sebatas mimpi, memang indah. Namanya juga mimpi, tetapi apakah untuk mencapainya cukup dengan usaha yang mudah? Tentunya tidak sama sekali, nonsense, over domeh. Mana si Pitung? 

Nah, justru, di situlah tantangan bisnis. Bisnis memang berbeda dengan dunia kerja. Bagi para karyawan atau pegawai, mereka bekerja sebisanya, nanti di awal bulan akan mendapatkan gaji, uang makan, dengan tunjangan-tunjangan lainnya. 

Saat menjelang hari raya Idul Fitri, para pegawai itu akan mendapatkan THR. Lebih enak lagi yang menjadi PNS, karena penghasilannya dari negara. Tidak perlu terlalu pusing, jika tidak ada kredit maupun cicilan. 

Namun, bandingkan dengan seorang pengusaha. Penghasilannya per hari tidak pasti. Hari ini untung, besoknya bisa buntung. Hari ini dapat duit, besoknya bisa gulung tikar. Rupanya, dia memang usaha jual tikar. Pantas, kalau sudah selesai jualan, digulung tikarnya. 

Perjuangan berat seorang pengusaha itu membutuhkan dukungan. Membutuhkan support yang pernah saya dengar dari status medsos teman saya, malah ada ibu-ibu membacanya, "Suprot".

Kalau seseorang membuka bisnis dan dia sendirian terus di situ, niscaya bisnisnya tidak akan berkembang. Dan, itu bukanlah bisnis, melainkan dia kerja di situ. Dia memang pemilik bisnis, tetapi dia juga pekerja sekaligus karyawannya. 


Bisnis Berkembang Karena Memiliki Tim yang Kuat

Pengusaha yang berhasil seringnya memang memiliki cukup banyak bisnis. Secara logika, itu tidak mungkin dikerjakan sendirian. Kemampuannya pastilah terbatas. Waktunya pun tidak cukup selama 24 jam. 

Seorang pakar bisnis pernah mengatakan bahwa bisnis itu superteam, bukan superman. Kalau sendirian terus, berarti fokusnya cuma di situ saja. Dia akan sulit untuk memikirkan membuka cabang. Masa kalah sama pohon yang banyak cabangnya?

Memiliki tim bisnis itu perlu. Lebih perlu lagi memiliki tim bisnis yang kuat. Tim ini terdiri dari orang-orang yang punya visi yang sama terkait bisnis itu. 

Tidak mungkin, dong, tim akan bekerja sama jika arahnya berbeda. Satunya mau ke barat, mungkin sambil mau mencari kitab suci, satunya mau ke timur. 

Sebuah tim bisnis harus kompak. Lebih kompak daripada salam kompak yang sering disampaikan waktu acara request lagu zaman dahulu.

Ibarat sapu lidi, jika diikat oleh niat, kemauan, harapan, dan fokus yang sama, akan bisa untuk menyapu halaman, meskipun memang tidak bisa dipakai untuk terbang. 

Nah, jadi membuka bisnis itu suatu aksi yang mulia. Terlebih jika diniatkan untuk tidak hanya sekadar mendapatkan cuan, tetapi juga bisa memberdayakan orang lain. Mengangkat ekonomi keluarga orang lain. 

Tujuan-tujuan sosial semacam itu justru akan lebih indah diperoleh daripada pundi-pundi rupiah. Sebab, apalah artinya uang, jika tidak disertai dengan kebahagiaan bersama orang lain maupun orang banyak. Ya 'kan? Sudah, bilang saja iya. 

Lalu, bisnis yang berhasil berkembang dan melesat karena memiliki tim yang kuat itu contohnya mana?

Dalam artikel ini, saya mencontohkan sedikit tentang Womenwear, brand fashion busana muslimah dari Kota Serang, Banten. Ada yang pernah ke sana? Rasanya, banyak orang Zimbabwe yang belum pernah ke Serang.