Ketika Dolar Tembus Rp18.000, Haruskah Kita Ikut Panik?

Ketika Rupiah Melemah, Apakah Harus Panik? Sumber Gambar: Editing Pribadi


Dolar, oh, dolar. Ketika pertahanan dol, maka masalah jadi makin melar. Sekarang dolar sudah tembus 18.012 rupiah lebih. Itu sama sekali bukan nomor cantik, jadi jangan beli nomor HP yang itu.

Sekarang, dikhawatirkan rupiah akan makin melemah, seperti baterai HP kamu saat tidak bawa powerbank, chas, maupun panel surya, padahal ada chat si dia yang butuh segera dibalas, tidak boleh lewat sedetik pun. Walah. 

Banyak orang yang mulai panik ketika rupiah melemah. Namun, tunggu dulu! Jangan pergi sebelum bayar gorengan yang tadi dimakan! Ketika dolar masih Rp6.000,00, apakah kamu sudah punya dolar?

Sekarang saat dolar sudah Rp18.000,00, mungkin kamu juga tetap tidak punya dolar bukan? Jangan merasa minder, putus asa, meskipun banyak anak 2 tahun yang sudah putus ASI. 

Ternyata, kondisi sekarang, yang berubah bukanlah dolar saya. Justru yang berubah adalah harga barang yang makin terasa mahal.


Bila dolar seperti ini terus, jangan dulu berpikir mau beli kapal pesiar maupun pesawat terbang pribadi, ya? Soalnya, garasi kost kamu pastilah tidak akan cukup. 

Tentang pelemahan rupiah ini memang bukan kondisi yang baru. Bagi kamu, Be-emers, kamu punya keunggulan besar sekarang, yaitu: waktu. Yang penting, kamu tahu harus berbuat apa, rencana apa, dan mau nikah sama siapa. Lho, kok bahas nikah? 


Penyebab Rupiah Melemah

Sebelum bahas lebih jauh, mungkin kamu perlu tahu, apa sih penyebab rupiah jadi lemah sekarang? Tentu saja, jawaban rupiah jadi lemah adalah karena sedang tidak kuat. Eits, itu bukan jawaban yang diminta dewan juri! Awas, dikurangi 5 poin, lho

Penyebab rupiah melemah ada tiga, yaitu: suku bunga The Fed (AS) yang masih tinggi. Meskipun kamu suku Jawa, Bugis, Sunda, dan suku lainnya, suku bunga The Fed tetaplah tinggi. Hal itu menyebabkan dana global lebih tertarik parkir di AS. Jelas di sana parkir bukan Rp2.000,00 'kan?! 

Penyebab kedua adalah defisit neraca berjalan. Dalam poin kedua ini, dolar lebih banyak yang keluar dari Indonesia daripada yang masuk.

Terlalu banyak di luar memang bisa masuk angin. Sama dengan orang yang sering pergi, katanya cari angin, eh, pulang jadi masuk angin. Dan, rupiah sedang masuk angin juga sekarang. 

Ketiga, sentimen global. Artinya adalah ada ketidakpastian ekonomi dunia. Para investor kabur ke aset "safe haven". Misalnya: dolar atau emas. Kalau sentimen saja sudah seperti itu akibatnya, bagaimana kalau metermen, ya? Bukankah meter di atasnya senti? 

Dari ketiga penyebab itu, jelas bukan salah kamu. Bukan juga salah bawang merah yang jahat terhadap bawang putih. Tenang, kondisi pelemahan rupiah ini bukan kiamat.

Namun, perlu diwaspadai bahwa menyimpan semua uang dalam bentuk rupiah cash bisa bikin rugi. Nilai kekayaan kamu bisa mulai terkikis pelan-pelan.


Kesalahan Saat Rupiah Melemah

Panik ketika rupiah melemah memang wajar. Itu normal-normal saja. Apalagi rupiah melemah ini mengakibatkan harga barang impor naik. Harga barang elektronik ikut terkerek naik, contohnya: TV.

Sebenarnya, ada yang lebih diwaspadai daripada harga TV naik, yaitu: jangan sampai kita sudah beli TV, ternyata di atas barang itu, anak dan keponakan ikut naik. Jelas, kita tidak bisa ikutan bukan? 

Masalah lainnya adalah biaya pendidikan luar negeri naik. Bagi yang punya anak kuliah di luar negeri seperti tetangga saya, pastilah berpikir lebih dalam. Soalnya, biaya hidup di sana juga naik.

Begitulah salah satu konsekuensi kalau anak sekolah di luar negeri. Ini yang dimaksud benar-benar di luar negeri alias di luar Indonesia, lho! Bukan sekolah di luar negeri yang berarti belajar di sekolah swasta.

Meskipun rupiah terus melemah begini, ternyata muncul kesalahan-kesalahan dalam menghadapi, terutama bagi para pemula. Misalnya: ikut investasi karena FOMO. Tanpa mengecek lebih dalam tentang investasi tersebut. 


Kalau Memang Pemula, Harusnya Bagaimana?

Jika kamu benar-benar termasuk pemula, artinya pemula dalam memahami ilmu menghadapi rupiah melemah ini, bukan pemula yang berarti baru lahir ke dunia, maka ada langkah-langkahnya.

Apa yang harus dimulai terlebih dahulu? Jawabannya tentu saja huruf A. Itu yang harus dimulai dulu dalam urutan alfabet. Anak mahasiswa S3 pasti tahu ini, begitu juga anak TK. 

Langkah yang boleh kamu lakukan pertama adalah menyiapkan dana darurat. Tidak perlu harus ke ruang Unit Gawat Darurat terlebih dahulu demi mendapatkan dana darurat, tetapi sisihkan dari pendapatan kamu untuk itu. 

Berapa sih idealnya punya dana darurat? Menurut sumber-sumber yang ada, antara 3 hingga 6 bulan pengeluaran. Dana ini bisa untuk kebutuhan jangka pendek.

Contohnya: liburan, beli gadget baru jika yang lama memang sudah tidak bagus, bisa juga untuk biaya nikah jika memang merasa diri sudah laku dan ada yang mau. 

Ada satu masalah terkait dana darurat ini jika disimpan di bank. Bunga tabungan biasa di Indonesia itu kisaran 0,5–2 persen saja per tahun.

Padahal, inflasi bisa mencapai 3–5 persen. Dalam kata lain, uang kamu di bank sebenarnya berkurang nilainya. Solusinya, pisahkan rekening tabungan.

Bank yang satu untuk dana darurat. Ini tidak boleh disentuh kalau tidak penting-penting amat. Satunya lagi adalah rekening untuk kebutuhan harian.

Selanjutnya yang tidak kalah pentingnya dan tidak kalah pula mainnya adalah menabung rutin. Namanya rutin, bisa dilakukan setiap hari, setiap pekan, bulan, dua bulan, asal jangan tiap seratus tahun sekali, ya!