Duh, LinkedIn Kena Hack, 92 Persen Data Pengguna Bocor!

LinkedIn App Illustration Web Bisnis Muda - Canva

Like

Baru-baru ini, platform pencarian pekerjaan LinkedIn dikabarkan mengalami peretasan lho, Be-emers! Karena peretasan ini, data penggunanya bocor dan dijual di Dark Web.

Sebanyak 92 persen data pengguna bocor dan dijual, yaitu sebanyak 700 juta data dari total 756 pengguna LinkedIn.

Hacker yang tidak dikenal tersebut telah mengunggah sampel sebanyak satu juta data pengguna untuk para pembeli yang ada di Dark Web. Informasi tersebut pertama kali ditemukan oleh akun RestorePrivacy, dan sampel datanya telah di crosscheck oleh 9to5Google.

Kebocoran data sampel meliputi informasi penting seperti email, nama lengkap, nomor telepon, alamat, catatan geolokasi, nama pengguna LinkedIn, dan URL profil. Selain itu, informasi mengenai gaji, pengalaman & latar belakang pribadi dan profesional, jenis kelamin, serta akun media sosial juga ikut terpublikasi.

Sang peretas, yang sempat dihubungi oleh situs 9to5Google, mengatakan bahwa data tersebut ia peroleh dengan memanfaatkan LinkedIn API untuk mengumpulkan informasi yang diunggah para pengguna ke dalam situs tersebut.


Kumpulan data tersebut tidak menyertakan kata sandi dari para akun LinkedIn tersebut, namun informasi yang bocor termasuk sangat berharga yang merupakan pencurian identitas atau upaya phishing.

LinkedIn mengkonfirmasi publikasi data yang memengaruhi 500 juta pengguna pada bulan April 2021 lalu. Namun, pihak LinkedIn menuturkan bahwa itu tidak termasuk dalam pelanggaran data, melainkan informasi yang diperoleh dari pengikisan jaringan.

Pihak LinkedIn menjelaskan bahwa mereka masih menyelidiki masalah terkait. Ditunjukkan pada analisis awal bahwa kumpulan data mencakup informasi yang diambil dari LinkedIn serta informasi yang diperoleh dari sumber lain.

Menurut penyelidikan yang dilakukan oleh pihak LinkedIn, menyebutkan bahwa kebocoran data tersebut bukanlah pelanggaran dan menetapkan bahwa tidak ada data pribadi anggota LinkedIn yang terekspos.

Para pengguna disarankan untuk melihat pengaturan keselamatan, keamanan, dan privasi dar aplikasi yang digunakan agar bisa memastikan bahwa hal ini diatur dengan benar. Pengguna juga diminta mengganti password secara rutin dan menggunakan sandi yang kuat.

Aktivasi two factor authentication (2FA) juga diperlukan untuk menggandakan keamanan. Selain itu, jangan terima koneksi dari orang yang tidak dikenal, terutama pada LinkedIn dan Facebook.

Baca Juga: Apa Itu Linkedin dan Gimana Menggunakannya?