Jika Benar Terjadi, Apa Pengaruh Resesi terhadap Perbankan?

Resesi. (Ilustrasi: Canva)

Like

Resesi ekonomi sangat banyak dibicarakan oleh media yang ada di Indonesia. Prediksi akan terjadi resesi tahun 2023 dikhawatirkan akan membuat goncangan ke berbagai industri, salah satunya industri perbankan.

Industri perbankan di Indonesia memiliki peran yang signifikan bagi perekonomian. Perbankan memiliki andil yang besar dalam pemberian modal kerja maupun pinjaman konsumtif bagi masyarakat.

Apabila resesi terjadi maka akan memberikan dampak penurunan ekonomi pada perusahaan dan rumah tangga sebagai nasabah kredit bank.

Guncangan ekonomi pada kedua pelaku ekonomi dan bisnis tersebut tentu akan memberi dampak dan berpengaruh kepada industri perbankan.
 

Pengaruh Resesi ke Perbankan


Ada beberapa pengaruh dari terjadinya resesi ke industri perbankan di Indonesia.
 

1.   Inflasi Tinggi, Suku Bunga Acuan Meningkat



Bank sentral sebagai regulator kebijakan moneter akan merespon tingginya inflasi dengan meningkatkan suku bunga acuan.

Peningkatan suku bunga acuan harus direspon oleh bank umum dengan meningkatkan suku bunga pinjaman dan deposito.

Baca Juga: Dilema Perbankan: NPL Rendah dan Target Penyaluran Kredit

Peningkatan suku bunga tersebut tentu akan memperberat nasabah dalam pengambilan kredit. Minat masyarakat dalam mendapatkan pinjaman akan menurun sehingga bank akan mengalami penurunan keuntungan.
 

2.   Meningkatnya Kredit Macet


Tidak dapat dipungkiri penurunan kegiatan ekonomi akan membuat rumah tangga produsen dan konsumen akan mengalami penurunan input dan output.

Hal ini karena rumah tangga produsen akan menurunkan produksi karena produk mereka kurang laku terjual dan menurunkan keuntungan.

Sedangkan rumah tangga konsumen akan mengalami PHK karena pekerjaan mereka mengalami layoff.

Akibat dari penurunan penjualan dan PHK maka kredit yang diberikan kepada perusahaan dan individu akan macet karena tidak bisa mendapatkan penghasilan untuk membayar cicilan dan hutang menumpuk sehingga kredit macet akan meningkat secara pesat.
 

3.   Risiko Fluktuasi Dolar


Kondisi resesi biasanya berdampak kepada krisis mata uang yakni dolar sebagai mata uang perdagangan dunia.

Fluktuasi ini akan berpengaruh kepada bank terutama bank yang erat berkaitan dengan pinjaman dan pengumpulan dana dari luar negeri.

Bank yang menerbitkan obligasi dengan dolar akan cukup terdampak serta pengumpulan dana pihak ketiga dari luar negeri akan meningkat biaya yang harus dibayarkan. Sehingga fluktuasi dollar berpengaruh negatif pada operasional bank itu sendiri.
 

4.   Ekspansi Kredit Terganggu


Tidak dapat dipungkiri pada saat resesi hal yang harus dihindari adalah berhutang. Hal tersebut membuat dampak negatif pada penyaluran dana kredit bank.

Banyak nasabah dan calon nasabah tidak mengambil pinjaman karena takut tidak bisa membayar kembali karena kondisi ekonomi yang sedang buruk.

Pertumbuhan kredit yang stagnan dan berkurang menjadikan perusahaan tidak bisa memanfaatkan dana yang tersedia sebagai aktiva produktif. Akibatnya bank akan mengalami penurunan profit bahkan kerugian.

Baca Juga: Mengenal Kerawanan dalam Industri Perbankan, Apa Saja Ya?

Keempat hal tersebut merupakan salah satu contoh dampak resesi bagi industri perbankan. Tulisan ini bermaksud untuk memberikan pemahaman mengenai risiko yang dihadapi perbankan jika memang benar terjadi resesi ekonomi.

Kita harus bisa membaca situasi sehingga bila kita berinvestasi pada perusahaan perbankan bisa mengambil keputusan yang tepat dan terhindar dari kerugian akibat adanya isu resesi ekonomi global ini.

Jangan lupa follow IG saya @onietjaan untuk diskusi dan menyambung silaturahmi, sekian terimakasih. 

Punya opini atau artikel untuk dibagikan juga? Segera tulis opini dan pengalaman terkait investasi, wirausaha, keuangan, lifestyle, atau apapun yang mau kamu bagikan. Submit tulisan dengan klik "Mulai Menulis".
 
Submit artikelnya, kumpulkan poinnya, dan dapatkan hadiahnya!
 
Gabung juga yuk di komunitas Telegram kami! Klik di sini untuk bergabung.