Kenapa Silicon Valley Bank Bisa Bangkrut?

Silicon Valley Bank (Foto: Wikimedia)

Like

Ramai kabar mengenai jatuhnya salah satu andalan startup dan venture capital, Silicon Valley Bank. Jarang terdengar soal kesusahannya, apa yang sebenarnya membuat Silicon Valley Bank bangkrut?

Silicon Valley terkenal sebagai salah satu kawasan di California, Amerika Serikat yang menjadi pusat bagi perusahaan-perusahaan teknologi besar. Perusahaan yang berkantor di wilayah ini di antaranya Google, eBay, Apple, Cisco, dan lainnya.

Silicon Valley juga menjadi rumah untuk salah satu bank komersial terbesar ke-16 di AS, Silicon Valley Bank. Sayangnya, bank yang menjadi satu-satunya bank publik yang berfokus pada Silicon Valley dan perusahaan rintisan atau startup ini mengalami kolaps.
 

Silicon Valley Bank Bangkrut


Pada 10 Maret 2023, Bank yang berfokus pada startup ini mengalami keruntuhan hebat. Bahkan keruntuhan ini disebut kegagalan bank terbesar sejak krisis keuangan tahun 2008.

Mengutip dari Bisnis.com, Silicon Valley Bank runtuh hanya dalam waktu 48 jam setelah nasabahnya melakukan penarikan besar-besaran atau rush pada Jumat, 11 Maret 2023. 


Baca Juga: Silicon Valley Bank (SVB) Bangkrut! Ini Dampaknya

Saham bank mulai anjlok pada Kamis pagi (9/3) dan di sore harinya menyeret turun saham bank lain karena investor mulai takut akan terulangnya krisis keuangan 2007-2008.

Perdagangan saham SVB dihentikan pada Jumat (10/30). Regulator California turun tangan, menutup bank dan menempatkannya dalam kurator di bawah Federal Deposit Insurance Corporation.
 

Penyebab Silicon Valley Bank Bangkrut


Silicon Valley Bank atau SVB mengalami kebangkrutan dikarenakan hal yang bisa dibilang masalah klasik bank, yaitu rush money atau penarikan uang tunai di bank yang dilakukan serentak dalam jumlah banyak.

Namun, pada kenyataannya tidak hanya itu yang menyebabkan SVB jatuh seperti saat ini. Ada proses panjang dan rumit yang berdampak pada kejatuhan SVB. 

Ini berawal dari kebijakan The Fed, Bank Sentral AS, yang menaikan suku bunga beberapa kali untuk menekan laju inflasi. 

Kenaikan suku bunga yang dilakukan The Fed secara agresif menyebabkan biaya pinjaman menjulang serta melemahkan momentum kenaikan saham teknologi yang selama ini menguntungkan SVB.

Suku bunga yang lebih tinggi juga mengikis nilai obligasi jangka panjang yang dipegang SVB dan bank lain selama era suku bunga yang sangat rendah dan mendekati nol. 

Pada saat yang sama, modal ventura mulai mengering, memaksa para pemula untuk menarik dana yang dipegang oleh SVB. 

Baca Juga: Trending, Bukit Algoritma di Sukabumi Bakal Jadi Silicon Valley versi Indonesia! Apa Saja Dampaknya?

SVB menjalankan rencana untuk meningkatkan nilai kepemilikannya. Pihaknya akan menjual lebih dari US$ 20 miliar obligasi berimbal hasil rendah dan menginvestasikan kembali hasilnya dalam aset dengan pengembalian lebih tinggi.

Sayangnya, rencana tersebut tidak berjalan dengan baik dan malah menjadi bumerang. Kabar penjualan membuat banyak startup buru-buru menarik simpanan mereka.

Hal tersebut membuat SVB jatuh secara hebat dan kemungkinan akan berdampak pada perekonomian AS.

Mau tulisanmu dimuat juga di Bisnis Muda? Kamu juga bisa tulis pengalamanmu terkait investasi, wirausaha, keuangan, hingga lifestyle di Bisnis Muda dengan klik “Mulai Menulis”.
 
Submit artikelnya, kumpulkan poinnya, dan dapatkan hadiahnya!
 
Gabung juga yuk di komunitas Telegram kami! Klik di sini untuk bergabung.