TikTok Layoff dengan Alasan Efisiensi Biaya

TikTok (Foto: Plann)

Like

TikTok adalah salah satu perusahaan terbaru yang terkena layoff yang melanda industri teknologi selama setahun terakhir. Mereka mengatakan layoff diperlukan untuk efisiensi biaya. 

Perusahaan teknologi di masa ini sedang dalam keadaan yang riskan. Di Indonesia sudah ada beberapa perusahaan teknologi yang melakukan layoff. 

Di tingkat global, TikTok menjadi salah satu perusahaan teknologi yang melakukan layoff. Meskipun memang TikTok pernah melakukan layoff beberapa kali sebelumnya.


TikTok Layoff Lagi


Layoff TikTok pertama kali dilaporkan pada Senin malam oleh NPR. Mengutip dari engadget, seseorang dari TikTok mengatakan mereka memberhentikan orang-orang dari divisi penjualan dan periklanannya.

Baca Juga: TikTok Shop Bangkit Kembali, Sudahkah Kamu Memanfaatkannya?


Juru bicara tersebut juga mengatakan bahwa perusahaan tersebut memberhentikan sekitar 60 karyawan, sebagian besar dari divisi penjualan dan periklanan di berbagai kantornya di AS – Los Angeles, New York, Austin – dan luar negeri.

Pada media, mereka mengatakan bahwa PHK adalah bagian dari reorganisasi rutin. Tapi media NPR juga mengatakan bahwa layoff ini untuk kebutuhan efisiensi biaya perusahaan.

ByteDance, perusahaan induk TikTok, dilaporkan memangkas ratusan pekerjaan di pengembang Marvel Snap, Nuverse, tahun 2023 lalu. 

Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, TikTok sendiri sempat melakukan PHK pada pertengahan tahun 2022 karena upaya restrukturisasi global dan kemudian pada awal tahun 2023 untuk melepas staf rekrutmennya di Dublin. 

Putaran ini hanya berdampak pada sebagian kecil dari tenaga kerja global ByteDance yang berjumlah sekitar 150.000 orang, namun seperti dicatat oleh media NPR, hal ini merupakan tanda kesulitan dalam industri teknologi.

Baca Juga: Kenapa Lebih Pilih Belanja Di TikTok Shop Ketimbang Shopee? Ini Alasannya!

TikTok terus berkembang, namun menurut data SensorTower, pertumbuhannya melambat. Pada tahun 2022, pengguna aktif bulanan TikTok tumbuh rata-rata 12 persen dari tahun ke tahun per kuartal. 

Pada tahun 2023, angka tersebut turun menjadi 3 persen. Meskipun TikTok mengatakan bahwa layoff hanyalah akibat dari reorganisasi, aplikasi tersebut mungkin mengalami kesulitan saat mencari cara untuk mengintegrasikan TikTok Shop.

Sejak itu, pengguna TikTok mengeluh bahwa FYP mereka dibanjiri dengan video dari pembuat konten yang ingin mendapatkan komisi afiliasi dengan mempromosikan produk dari TikTok Shop.

Mau tulisanmu dimuat juga di Bisnis Muda? Kamu juga bisa tulis pengalamanmu terkait investasi, wirausaha, keuangan, hingga lifestyle di Bisnis Muda dengan klik “Mulai Menulis”.
 
Submit artikelnya, kumpulkan poinnya, dan dapatkan hadiahnya!
 
Gabung juga yuk di komunitas Telegram kami! Klik di sini untuk bergabung.