Prospek Manisnya Bisnis Kuliner di bulan Ramadhan, Semanis Santapan Berbuka Puasa

Sumber: Dokpri

Like

Jika kamu membuka bisnis, pastikan bisnis tersebut dibutuhkan manusia. Tidak mungkin bukan di antara kita buka bisnis sewa baju pengantin untuk jin? 

Bisnis yang dibutuhkan manusia itu biasanya memang berkaitan dengan kebutuhan pokok. Apa, sih, kebutuhan pokok manusia itu? 

Kalau kita masih ingat masa-masa sekolah, kebutuhan pokok itu ada sandang, pangan, papan, ditambah dengan kesehatan dan pendidikan. Kelima unsur ini mesti dipenuhi, karena kalau tidak, hidup manusia akan terganggu. 

Baca Juga: Menjelajahi Ragam Kuliner Ramadhan di Kabupaten Sinjai, 5 Jenis Usaha yang Menggiurkan

Mengenai urutannya, bisa diacak, kok. Meskipun sekarang ada lagi kebutuhan pokok, sehingga menjadi enam, yaitu: sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, dan colokan! Wuih, akan menderita hati dan jiwa ini, meronta-ronta, jika tidak ada colokan listrik, sementara baterai HP sudah mau sekarat. Ya apa ya?


 

Urusan Perut

Saya mengambil salah satu saja dari aneka kebutuhan pokok tersebut, yaitu: pangan. Ini memang berkaitan dengan makan dan minum. Kalau cuma membahas makan, tanpa minum, rasanya memang seret! Tercekat di tenggorokan. 

Makan dan minum jelas berhubungan dengan ibadah puasa Ramadhan kali ini. Namanya puasa 'kan memang menahan makan dan minum. Anak TK saja tahu, apalagi yang mantan anak TK. Ya 'kan? 

Meskipun hukumnya halal dan enak, makan dan minum tersebut tidak boleh dimasukkan melalui mulut sampai ke dalam perut kalau belum tiba waktunya. Infus juga tidak diperbolehkan, karena hukumnya tetap sama dengan memasukkan makanan. 

Baca Juga: Ide Usaha Selama Ramadhan, Hampers Salah Satunya!

Sejak Subuh sampai terbenam matahari alias Maghrib, kita menahan diri dari makan dan minum tersebut. Menjelang Maghrib, inilah yang paling ditunggu-tunggu. Persiapan untuk berbuka puasa. Persiapan untuk hunting aneka makanan dan minuman yang tersedia.

Sebagaimana diulas oleh banyak kreator konten, begitu pula beberapa penulis di media Bisnismuda ini, sekarang ada namanya war takjil. Apa maksudnya, takjil dijadikan alat perang? Dilempar-lemparkan ke orang lain begitu? 

Oh, bukan begitu definisinya, Gustavo! Ih, siapa juga Gustavo ini? War takjil merujuk kepada perburuan makanan berbuka puasa yang juga dilakukan oleh nonmuslim. Istilah kerennya adalah nonis alias nonislam. 

Saya menonton cukup banyak video tentang war takjil tersebut. Bahkan, saking niatnya, nonis pun sampai berpakaian gamis dan jilbab pula.

Baca Juga: 4 Manfaat Zakat Bagi Perekonomian, Usaha Produksi Jadi Sektor yang Terdampak

Lucu juga, sih. Ada laki-laki yang pakai jubah, ternyata pas dibuka lengannya ada tato salib. Ada juga perempuan beli takjil, diangkat sedikit jilbabnya, eh, di dadanya ada kalung salib. 

Seorang pendeta muda pun menyarankan untuk ikut war takjil ini. Yah, menyaksikan yang begitu, memang baru terasa sekarang. Persaudaraan antara muslim dan nonmuslim rupanya sudah terjalin sejak lama dan terlihat sekali mutiaranya kali ini. 

Kalau memang demikian indahnya Islam, bisa membuat nonis ikut berburu takjil, berarti yang mengatasnamakan Islam dan menjadi teroris itu jelas salah besar! Pemahaman seperti itu, perlu diluruskan, utamanya ke anak-anak kita agar mereka tidak berpikir terlalu radikal terhadap agama ini nantinya. Oke?