BAGAIMANA JADINYA SAAT BISNIS PORAK-PORANDA?

Ketika Bisnis Porak Poranda Maka Putus Asa Bukanlah Pilihan

Ketika Bisnis Porak Poranda Maka Putus Asa Bukanlah Pilihan

Like
Saat mulai ditemukannya bahwa pandemi covid-19 telah masuk ke wilayah indonesia maka sejak itu muncullah masalah baru. Tidak sedikit bisnis yang terempas karena pandemi meliputi berbagai sektor usaha. Hal ini juga berdampak terhadap beberapa kegiatan ekonomi, sosial dan budaya. Bahkan perdampak juga pada psikologi, banyak diantara masyarakat merasakan kecemasan, rasa takut dan rasa khawatir. 

Usaha yang porak poranda diantaranya meliputi beberapa sektor bidang usaha yang harus tutup, adanya pengurangan jumlah karyawan, minimnya jumlah produksi dan terbatasannya minat pembelian produk dan penggunaan jasa oleh konsumen.

Di saat seperti ini banyak orang yang memutar otaknya untuk dapat bertahan di tengah pandemi COVID-19. Untuk mewujudkan ini semua dibutuhkan ide untuk berkreativitas yang didukung dengan semangat sehingga memudahkan dalam memulai sesuatu dan setidaknya untuk bertahan.

Menurut Scoott Belsk di bisnis.muda.id dikatakan bahwa “ini bukan tentang ide tetapi tentang bagaimana merealisasikan ide tersebut” hal dimaksudkan bahwa tindakan itu penting untuk mewujudkan ide. Ide tanpa tindakan maka akan sia-sia jadinya.

Nadin Makarim pendiri gojek menyampaikan pesan pada bisnis.muda.id yaitu “Setiap orang bisa mencuri ide, tetapi tidak untuk eksekusi”. Dapat disimpulkan bahwa tidak perlu khawatir jika ide kita ditiru, yang terpenting jika ide sudah dimiliki segera lakukan tindakan dan lakukan dengan versi terbaik kamu.

Beberapa bidang usaha yang akhirnya banting setir setelah bisnisnya porak-poranda dan kembali memulai dengan ide usaha yang telah dipilih. Diantaranya yaitu usaha Yuni Susanti seorang penjahit di Padang berarlih memproduksi masker. Ia mengakui semenjak pandemi COVID-19 pesanan jahitannya menurun drastis.

Bahkan pendapatannya tidak sampai 10 persen dari tahun sebelumnya. Sehingga ia terpaksa harus merumahkan untuk pengurangan karyawannya. Lebih lanjut, ia menerangkan biasanya saat hari perayaan besar selalu dibanjiri pesanan, bahkan pesanan jahitan mencapai 10 setelan per hari. Akan tetapi sekarang tidak masuk pesanan sama sekali. Sehingga membuatnya harus lebih kreatif agar pemasukan tetap ada.

Andy Hwantono yang biasa membuat tas kini banting setir membuat baju hazmat ia juga memproduksi face shield dan masker kain untuk pesanan donasi ataupun dipakai sendiri oleh masyarakat. Tukang cukur mengenakan alat pelindung diri (APD) dari plastik saat mencukur rambut pelanggan di Pondok Kelapa, Jakarta, Selasa (5/5/2020).

Tukang cukur mengenakan APD untuk mengurangi risiko penularan virus corona COVID-19. Suyadi (49), tukang potong rambut kini menggunakan alat pelindung diri untuk memotong rambut. Mengutip info antara, pelaku usaha potong rambut kini menerima jasa panggilan cukur ke rumah seiring sepi pengunjung yang datang ke barbershop. Selain itu juga berkeliling dengan membayar seikhlasnya.

Setiap masyarakat diharapkan untuk tidak putus asa dan lebih kreatif menyikapi ekonomi di tengah pandemi COVID-19 karena selalu ada jalan keluar dibalik kesulitan. “Lakukan tindakan kreatif dengan mengkreasikan ide yang dimiliki, katakan pada diri sendiri dengan berfikir positif bahwa kamu mampu mewujudkannya dan fokus meminta pada yang pemilik segala Tuhan Yang Maha Esa”.