Tukang Rumput Juga Bisa Umroh!

Gambar Kabbah/Pexels.com

Gambar Kabbah/Pexels.com

Bangunan hitam dengan ornamen keemasan yang menutupinya dan dikelilinggi oleh banyaknya manusia di sana sering kali membuat air mata ini menetes.

Pekik talbiyah tidak pernah berhenti dari mulut mereka sambil terus menyerukan kalimat yang penuh makna itu. Di layar kaca, aku hanya bisa menatap haru, lalu bergumam lirih,"Kapan aku dipanggil, ya, Rabb."
 
Dulu, impian itu bukan hanya milikku, tetapi juga milik mamangku (adik ipar ibuku) yang hanya berprofesi sebagai tukang rumput keliling. Setiap hari beliau berjalan dari rumah ke rumah untuk menawarkan jasa potong rumput. Dari pekerjaan itu, beliau bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga berhasil tamat SMA.
 
Bibiku sendiri hanyalah buruh lepas dari pabrik pembuat kasur lihab (kasur lantai yang diisi kapuk). Bibi menjadi penjahit kasurnya.

Bibi mengerjakan semuanya di rumah, termasuk menjahit kasur. Dengan begitu, bibi bisa bekerja sekaligus menjaga anak-anaknya di rumah. Semua pekerjaan itu mereka lakukan tanpa henti. Ternyata dari hasil yang mereka peroleh itu mereka sisihkan juga untuk ibadah umroh.
 
Keinginan umroh itu makin menjadi ketika mereka memasuki usia yang sudah cukup senja, lebih dari 60 tahun.

Alhamdulillah, uang yang mereka tabung pun sudah cukup untuk bekal pergi umroh. Tahun 2018, keinginan itu ingin mereka wujudkan melalui sebuah travel yang kini sudah kolaps.

Sebelum travel itu kolaps, mamang dan bibi sudah menyetorkan uang itu ke travel itu. Tidak salah memang promo harga jor-joran dari travel itu memang luar biasa sehingga mamang dan bibi tergiur untuk menyetorkan uang mereka ke sana.