Katanya Mau Hidup Sehat, Kok Dompet Jadi Ikut Sakit?

Makanan Sehat Murah dan Bergizi, Sumber Gambar: Editing Pribadi

Makanan Sehat Murah dan Bergizi, Sumber Gambar: Editing Pribadi


Ketika kamu masih remaja, kalau laki-laki, dan ketika kamu masih remaji, kalau perempuan, maka sangat sering merasa tubuh atau badan sehat terus. 

Wajar, masih remaja memang masih terhitung anak muda. Darahnya muda, yaitu: darah yang berapi-api. Dan, selalu merasa gagah dan tidak pernah mau mengalah. Begitulah darah muda. 

Namanya manusia, ketika usia muda sudah mulai berlalu dan berubah menjadi usia dewasa sampai menjelang tua, maka aneka penyakit mulai bersilaturahmi. Tubuh mulai melemah, kekuatan mulai merendah. 

Saat itulah, mulai terpikir lebih dalam untuk menjaga kesehatan. Padahal, ketika masih jadi anak muda, gaya hidup cukup bebas, dalam arti makan dan minum secara bebas, tanpa terlalu peduli kandungan gizi. 

Ditambah dengan merokok yang saking seringnya, asapnya mencoba mengalahkan asap kapal pesiar. Masih pula rajin begadang, baik siang maupun malam. Tidak terlalu banyak olahraga, tetapi rajin rebahan. 


Kini, perilaku-perilaku kurang positif yang ditanam sejak muda, mulai dituai di usia tua. Baru benar-benar sadar kesehatan memang ketika kondisi kurang sehat. 

Itulah yang dikatakan oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam tentang dua nikmat yang sering dilalaikan manusia, yaitu: kesehatan dan waktu luang. Dan, waktu muda punya waktu luang yang masih banyak, meskipun uang belum tentu selalu tergenggam telapak. 

Sebagai manusia yang normal dan netral, kadang juga Noah dan Jamrud, tentu berharap jangan sampai sakit. Maunya sehat terus. Apa gunanya punya triliunan rupiah, tetapi badan sakit-sakitan, ya 'kan? Eh, memangnya punya uang segitu? 

Salah satu cara menjaga kesehatan adalah dengan mengonsumsi makanan sehat. Dari namanya makanan sehat, pastilah sehat. Kalau makanan sakit, berarti perlu diperiksa ke dokter. Kan namanya sakit. 


Persepsi Salah Kaprah Tentang Makanan Sehat

Menurut Be-emers, apa cermin yang sering dipakai orang sekarang? Apakah cermin dengan ukiran kayu? Apakah cermin yang sering digantung di dinding? Apakah cermin kecil yang sering dibawa dan dilihat untuk mengecek kosmetik? 

Jawabannya yang paling tepat adalah media sosial. Hah, yang benar, Mas? Apakah sedang tidak bermimpi di siang bolong? Oh, tidak. Kalau mimpi di siang bolong, berarti harus ditambal bolongnya. Kalau sundel bolong, entah penjahit mana yang bisa menambal?  

Media sosial memang menjadi cermin bagi kehidupan banyak orang. Apalagi kalau bukan berkaca pada kehidupan orang lain. Yap, itulah banyak dari kita. Banyak menghabiskan waktu di layar menonton kehidupan orang lain yang dianggap lebih makmur dan sukses. 

Termasuk dalam hal ini adalah makanan sehat. Sering muncul video atau postingan di media sosial membuat sebagian dari kita merasa bahwa makanan sehat itu memang mahal. 

Bentuknya memang premium, estetik, dan tentu saja cantik. Bentuknya memang penuh artifisial. Kesan mahal itu muncul pada makanan sehat karena banyak yang mengira bahan-bahannya harus impor. 

Kita memang maunya sehat, tetapi kalau makanan-makanan sehat harus impor seperti itu sehingga harganya mahal, jangan sampai terpikir untuk beli makanan yang tidak sehat saja, karena harganya lebih murah.  

Kalau pikiran bahwa makanan sehat itu selalu mahal, maka hidup sehat hanya untuk orang kaya, dong! Gaya hidup sehat akhirnya tidak bisa dinikmati oleh semua orang karena terkendala biaya. 


Makanan Sehat Tersedia Murah dan Mudah di Tempat Kita

Benar, memang ada makanan sehat yang terhitung mahal. Misalnya yang bahannya dari ikan salmon. Ikan tersebut jika dibeli banyak di supermarket, harganya memang lumayan menguras dompet hingga ke basementnya.

Ternyata, di negara kita, di Nusantara ini, juga punya banyak makanan sehat, kok. Bahkan, begitu mudah didapatkan. Dan, begitu murah dan bergizi juga.

Contohnya: ikan kembung, tempe, jangan lupa temannya tempe, tentu saja tahu. Ada juga pepes ikan, sayur urap, sayur bening. Lalu ada jagung, ubi, dan sayur lalapan.

Meskipun bisa terbilang murah bahannya, tetapi bagaimana sih agar lebih menghemat uang lagi? Apalagi sekarang ini adalah fase ekonomi yang terbilang cukup sulit. Bahkan, mahasiswi ekonomi pun bisa berada dalam kesulitan, terutama dalam urusan dapat jodoh. Lho, eh! 

Agar makanan sehat itu lebih pas di kantong dan tidak membuat dompet berteriak, ada beberapa cara. Pertama, masak sendiri. Yap, ini adalah cara yang lebih mudah dan murah untuk memperoleh makanan sehat. 

Memang ada sih warung makan yang menjual makanan jadi dengan bahan-bahan yang tadi saya sebutkan. Namun, apakah kita bisa menjamin kebersihan atau aspek higienisnya? 

Selain itu, apakah kandungan makanan tersebut juga bisa dipastikan benar-benar sehat? Misalnya, dari segi penggunaan gula, garam, maupun bahan penyedap dan pengawet lainnya. Kita memang ingin awet muda, tetapi bukan dengan cara banyak mengonsumsi pengawet, ya 'kan? 

Kedua, beli bahan lokal. Harga di pasar tradisional sama di minimarket atau supermarket memang berbeda. Agar lebih hemat, belanjalah di pasar tradisional saja. Ini bisa meningkatkan ekonomi lokal, lho! 

Kalau belanja di minimarket atau supermarket modern, yang punya jelas orang berada. Bahkan, memang orang yang kaya raya. 

Sebagian besar dari kita mungkin bukan kaya raya, meskipun "raya" akrab dengan kehidupan kita. Misalnya: merayakan tahun baru, merayakan Idul Fitri, dan sebentar lagi merayakan Idul Adha. Yang penting raya dulu, kaya nanti. 

Dan, yang ketiga untuk mendapatkan makanan sehat dengan cara murah, yaitu: jangan lapar mata, cukup perut saja yang lapar. Jika kita berjalan ke pasar tradisional maupun modern, maka tetap beli sesuai kebutuhan. 

Tetap kita beli sesuai rencana awal waktu masih di rumah. Jangan semua barang mau dibeli, termasuk jam tangan kasirnya atau malah HP-nya pegawai di minimarket tersebut. Dia memang HP, alias Hanya Pegawai.