Indosat (ISAT) & Tri Bakal Merger di Tengah Prospek Cerah Sektor Telekomunikasi, Ini Penyebabnya

Merger - Canva

Merger - Canva

Peleburan perusahaan atau yang biasa disebut merger, tentunya jadi hal yang menarik perhatian nih, Be-emers. Apalagi, sejumlah rencana aksi merger pun mewarnai tahun 2020.

Hingga di penghujung tahun ini, kabar merger dua perusahaan telekomunikasi yakni PT Indosat Tbk. dengan PT Hutchison 3 Indonesia (Tri Indonesia) jadi topik yang cukup hangat diperbincangkan lho.

Bahkan, kabar ini sempat membuat performa Indosat di pasar modal mengalami lonjakan yang cukup signifikan. Emiten dengan kode saham ISAT itu sempat menguat hingga 6,19 persen ke level 6.000 di perdagangan hari ini (29/12) pukul 9:40 WIB.

Bahkan, melonjaknya saham ISAT sebesar 30,48 persen selama sepekan membuat pergerakannya harus disuspensi oleh BEI pada Senin (28/12) lalu lho!

Sebenarnya, apa sih penyebab merger Indosat dan Tri Indonesia?
 

Persiapan 5G

Menurut Chief of Marketing Jarvis Asset Management Kartika Sutandi, dikutip dari Bisnis, persiapan menuju 5G menjadi salah satu pertimbangan merger antara Indosat dengan Tri Indonesia.

Soalnya, untuk menggelar 5G dibutuhkan belanja modal yang besar sekaligus spektrum frekuensi yang cukup nih, Be-emers. Nah, gabungan antara Tri dan Indosat bakal menghadirkan frekuensi sebesar 30 MHz di pita 1800 MHz dan 2100 Mhz.

Sayangnya, jumlah tersebut belum terlalu cukup untuk mencapai batas minimum 5G – 40 MHz. Kecuali, kedua perusahaan merger dan bekerja sama berbagi spektrum frekuensi dengan operator seluler lainnya.

Kartika menilai, dengan melebur menjadi satu perusahaan, pemilik modal akan melihat efisiensi dari sisi operasional perusahaan dan peningkatan dari sisi jumlah pelanggan.

Adapun, dengan merger, ia berpendapat bahwa persaingan dalam perebutan pelanggan juga akan makin sehat. Jumlah pelanggan yang besar bakal mendorong keduanya untuk meningkatkan kualitas layanan dibandingkan harus jual murah layanan untuk mendapat pelanggan.