Musim Dividen Diprediksi Enggak Semeriah Tahun Lalu, Ini Alasannya

Money - Canva

Money - Canva

Siapa yang selalu menanti momen pembagian dividen dari para emiten?

Buat kamu yang belum tahu, diketahui dari laman Bursa Efek Indonesia (BEI), dividen yaitu pembagian keuntungan atau laba dari sebuah perusahaan terbuka (emiten). Dividen yang bakal dibagikan tersebut bisa dalam bentuk tunai maupun saham.

Dinilai jadi salah satu cerminan kinerja perusahaan, enggak heran, emiten yang royal bagi-bagi dividen kerap diburu sama para investor nih.

Sayangnya, musim pembagian dividen justru diprediksi enggak semeriah seperti pada tahun 2020 lalu. Kok bisa?

Baca Juga: Dividen Bebas Pajak, Enaknya Pilih Instrumen Investasi Apa Ya?
 

Prospek Yield Dividen

Menurut Analis Mirae Asset Sekuritas Handiman Soetoyo, dikutip dari Bisnis, dalam riset terbarunya mengatakan kalau yield dividen belum akan mengikuti rebound harga saham para emiten belakangan ini. 

Sudah bukan rahasia lagi, pandemi membuat pendapatan sebagian besar emiten di hampir seluruh sektor mengalami penurunan.

Terbukti, dari 720 saham dari emiten yang tercatat di BEI, Handiman menunjukkan hanya 9,2 persen emiten yang meningkatkan nilai pembayaran dividen untuk tahun buku 2019. Sedangkan 22,2 persennya, justru mengurangi nilai pembayaran dividen.

Sementara itu, 7,5 persen mempertahankan nilai pembayaran dividen, dan 51,4 persen perusahaan tetap belum membagikan dividen. Adapun, 9,8 persen lainnya adalah emiten baru.

Selain itu, Handiman menilai, yield dividen dari sektor keuangan akan turun. Meski begitu, pembayarannya belum tentu berkurang.

Bisa dilihat dari sektor perbankan misalnya, sektor ini diketahui telah mengalami perbaikan pendapatan pada kuartal III/2020. Sehingga, mayoritas emiten di sektor perbankan bisa mempertahankan pembayaran dividennya.

Salah satunya yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), yang dilansir dari laman Bisnis, mengaku kalau pihaknya siap buat menyetor dividen dengan rasio lebih tinggi dari laba tahun buku 2020.
 

Kesiapan Investor

Di satu sisi, dalam menyusun portofolio saham, Handiman menyarankan investor untuk menggabungkan saham-saham yang punya orientasi pertumbuhan (growth stock) dan saham pembagi dividen (dividend yield stock).

Adapun, saat growth stock bisa memberikan pendapatan yang luar biasa dalam jangka panjang, sebenarnya saham emiten pembagi dividen sudah mulai bekerja memberikan imbal hasil sejak awal.

Baca Juga: Cuan dari Saham yang Royal Kasih Dividen