IHSG Jadi yang Paling Unggul di Bursa Asean, Masih Rawan Koreksi?

Trading - Canva

Trading - Canva

Setelah reli sejak perdagangan Senin (11/1), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) harus tergelincir di zona merah nih, Be-emers.

Hingga akhir perdagangan hari ini (14/1), IHSG terpantau terkoreksi 0,11 persen dan parkir di level 6.428,32. Waduh!

Padahal, di perdagangan kemarin (13/1), IHSG baru saja menembus level psikologis 6.400. Hingga akhir perdagangan, pergerakan IHSG di hari itu melonjak 0,62 persen ke level 6.435,20.

Meski terkoreksi, rupanya IHSG berhasil mencatatkan kinerja yang cukup cemerlang lho, Be-emers! Dengan berhasil tembus ke level psikologis 6.400 di perdagangan Rabu lalu, kinerja tersebut bikin IHSG jadi indeks yang paling unggul di bursa Asia Tenggara!

Jika dilihat sepanjang tahun berjalan 2021, IHSG telah mengalami penguatan hingga 7,63 persen. Alhasil, penguatan itu menjadikannya sebagai indeks komposit terbaik di antara negara Asean lainnya.

Sebagai informasi, kinerja IHSG unggul dibanding bursa Vietnam (+7,44 persen) dan Thailand (+7,34 persen).

Baca Juga: Waspada Insider Trading, BEI Minta Penjelasan ke Sejumlah Emiten Jagoan Public Figure
 

Dipicu Sentimen Vaksinasi

Menurut Head of Market Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana, dikutip dari Bisnis, penguatan indeks berhasil didukung euforia vaksinasi Covid-19 pertama di Indonesia. 

Soalnya, vaksinasi dinilai memberikan harapan terhadap pemulihan kegiatan masyarakat dan ekonomi dalam negeri.

Selain itu, progres vaksinasi Covid-19 di Indonesia jadi salah satu yang terdepan di antara emerging market lainnya. Sehingga, hal itu semakin mendorong investor asing untuk melirik bursa Indonesia.

Wawan juga menilai, pencapaian IHSG tersebut jadi bukti bahwa pasar asing juga lebih melirik pasar modal dalam negeri. Bahkan, sejumlah institusi keuangan asing pun diketahui menyematkan peringkat overweight untuk pasar modal Indonesia.
 

Rentan Koreksi

Tergelincirnya IHSG di perdagangan hari ini sebenarnya sudah diprediksi. Soalnya, selama reli, penguatan IHSG tetap enggak bisa luput dari risiko koreksi.

Hal itu disebabkan euforia vaksinasi Covid-19 yang masih mendapat tantangan distribusi. Kalau sampai distribusi vaksin tersebut gagal atau terkendala, hal itu jelas bakal menjadi katalis negatif buat IHSG.

Makanya, ia juga menyarankan agar para investor terus mengedepankan risk profile dari setiap saham emiten.

Baca Juga: Musim Dividen Diprediksi Enggak Semeriah Tahun Lalu, Ini Alasannya