Siap Menjadi “Akuntan Dadakan” di Tengah Pandemi

Akuntan Dadakan (Sumber gambar:dlpng.com)

Akuntan Dadakan (Sumber gambar:dlpng.com)

Like
Ketika mendengar atau membaca kata akuntansi, sebagian orang mungkin akan merasa bosan atau jenuh, bahkan mengabaikannya. Mungkin mereka beranggapan bahwa akuntansi penuh dengan angka – angka, berhitung, debet kredit, penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian hingga pada akhirnya akan menjadi suatu laporan untuk digunakan dalam pengambilan keputusan bagi para penggunanya.

Sebagian orang berpikir bahwa “Akuntansi itu kan bukan bidang saya, untuk apa saya capek2 belajar akuntansi? Bagaimana bisa saya membaca laporan keuangan, saya tidak pernah belajar akuntansi? Apa gunanya belajar akuntansi? Saya sudah bisa mencukupi kebutuhan sehari – hari tanpa adanya akuntansi.” Yang terpenting bagi sebagian orang itu adalah mendapatkan penghasilan yang banyak untuk mencukupi kebutuhan sehari – hari sudah baik tanpa harus mempelajari akuntansi.

Atau sebaliknya, adanya anggapan bahwa belajar akuntansi juga tidak serta merta akan menjadikan diri seorang yang kaya raya sehingga belajar akuntansi hanya buang – buang waktu dan tenaga saja. Bahkan dengan menjadi seorang akuntan juga belum tentu menjadi orang terkaya sedunia. Melihat pola pikir sebagian orang, mungkin ada benarnya juga bahwa belajar akuntansi tidak akan langsung seseorang menjadi kaya raya.

Apakah akuntansi itu dan seberapa pentingnya mempelajari akuntansi? American Institute of Certified Public Accountants mendefinisikan akuntansi sebagai proses pencatatan, penggolongan, dan peringkasan transaksi kejadian dalam bentuk satuan uang yang tepat (berdaya guna) dan penginterpretasian hasil tersebut. Jika ditinjau dari segi bahasa, akuntansi berasal dari kata kerja “to account” yang berarti memperhitungkan.

Sejak kapan akuntansi itu ada?
Mengutip tulisan Arfan Ikhsan dan Herkulanus Bambang Suprasto dalam bukunya yang berjudul Teori Akuntansi dan Riset Multiparadigma, akuntansi sudah ada sejak jaman dahulu bahkan pada jaman pra – masehi yang dibuktikan dengan beberapa penemuan, antara lain gudang – gudang Mesir sebagai tempat penyimpanan barang berharga serta tablet – tablet tanah liat Babilonia yang berisi catatan – catatan mengenai informasi berapa jumlah uang dan barang yang diterima, nama orang yang memberikannya, nama orang yang menerimanya, dan tanggal kejadian. Selain itu, terdapat juga penemuan di Mesir atas catatan “Zenon Papyri” pada abad ke tiga sebelum Masehi dimana Zenon merupakan administrator dari bagian yang luas; serta tablet lilin pada periode Romawi yang berisi catatan – catatan.

Selanjutnya, akuntansi modern yang saat ini dipelajari oleh murid – murid di sekolah dan di perguruan tinggi dikenal dengan pencatatan debet kredit tersebut hadir pada masa Renaisans Italia sekitar abad ke – 13 yang disebut dengan tata buku berpasangan (double entry book keeping). Orang yang pertama mengkodifikasi akuntansi adalah Luca Pacioli dalam bukunya yang berjudul: Summa de Arithmatica, Geometrica, Proportioni et Proportionalita.

Jika melihat dari sejarahnya, maka dapat diketahui bahwa akuntansi memang sudah sangat diperlukan dalam setiap aspek kehidupan manusia meskipun pada jaman dahulu belum menggunakan tata buku berpasangan. Salah satu peran utama akuntansi adalah pengendalian biaya organisasi.

Dengan membuat catatan terhadap semua transaksi yang terjadi, maka akan lebih memudahkan untuk dilakukannya analisis untuk pengambilan keputusan selanjutnya. Yang sering terjadi adalah orang malas atau menganggap tidak penting mencatat transaksi – transaksi yang dilakukannya, misalnya transaksi pembelian makanan dan minuman.

Meskipun mungkin harga atau biaya makanan atau minuman tersebut sangat murah, namun jika dijumlahkan dalam satu bulan dapat sangat mungkin menjadi biaya yang besar. Di akhir bulan, kemungkinan besar orang akan lupa mengenai makanan dan minuman apa saja yang dibelinya pada hari – hari di awal minggu bulan tersebut apalagi pembelian makanan dan minuman di bulan yang sudah lewat karena tidak dicatatnya pembelian tersebut.

Jika orang memiliki uang yang mencukupi atau bahkan berlebihan, maka besarnya biaya pembelian makanan dan minuman dalam satu bulan tersebut tidak akan terlalu signifikan atau dengan kata lain tidak terlalu dirasa berat sehingga mereka beranggapan tidak perlu mencatatnya.

Namun, sebagian besar orang akan mengalami masalah keuangan ketika berada di dalam situasi ekonomi yang tidak menentu atau dalam situasi pandemi dimana banyak orang yang mengalami situasi yang tidak menyenangkan seperti dirumahkan oleh perusahaan tempatnya bekerja serta sulit mendapatkan penghasilan tambahan yang lebih besar. Mengutip dari Bisnis.com pada tanggal 5 Mei 2020 dengan judul "Waduh! Covid - 19 Bisa Bikin Orang Miskin Bertambah 12 Juta", Center of Reform on Economics (CORE) memproyeksikan jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan akibat pandemi Covid - 19 bisa bertambah 5,1 juta hingga 12,3 juta pada kuartal II/2020 ini.

Kondisi ini menuntut orang untuk segera melakukan evaluasi terhadap kondisi keuangannya untuk dapat beradaptasi dalam situasi tersebut. Evaluasi keuangan tentu saja dapat dilakukan apabila dia memiliki catatan mengenai transaksi – transaksi yang telah dilakukannya selama ini untuk dapat mengetahui biaya apa saja yang selama ini berjumlah paling besar, berapa jumlah hutang yang harus segera jatuh tempo, dan hal – hal lainnya.

Apabila selama ini tidak mempunyai catatan mengenai transaksi keuangan pribadinya, maka ada satu alternatif lainnya, yaitu mengingat kembali semua biaya belanja yang telah dilakukan dalam satu bulan, kemudian mengingat semua hutang piutangnya, dan berbagai transaksi lainnya, lalu kemudian melakukan pencatatan ulang supaya dia dapat melakukan evaluasi terhadap kinerja keuangan pribadinya. Mengingat – ingat berbagai jenis transaksi yang telah dilakukan dalam satu bulan mungkin merupakan kegiatan yang sangat melelahkan dan tidak efisien waktu.

Namun, ini merupakan satu – satunya cara untuk dapat memperbaiki kinerja keuangan pribadinya. Kalau pun dia menyewa konsultan keuangan, sudah pasti dia akan mengeluarkan biaya untuk konsultan keuangan tersebut dan pastinya dia akan ditanya juga oleh konsultan keuangan tersebut mengenai transaksi – transaksi yang telah dilakukannya selama ini supaya dapat dilakukannya analisis keuangan oleh konsultan keuangan tersebut.

Mungkin lebih baik menjadi akuntan bagi diri sendiri daripada minta bantuan kepada ahli keuangan karena permasalahannya pun sama, yaitu perlu mengetahui catatan transaksi selama ini. Dengan demikian, siapa pun yang mengelola keuangan pribadinya harus sudah siap untuk menjadi seorang “Akuntan Dadakan” atau dengan kata lain akuntan yang secara tiba – tiba, sebuah profesi baru di tengah pandemi ini.

Bagaimana menjadi seorang “Akuntan Dadakan” yang profesional?


Pertama

Seorang akuntan sudah pasti seorang yang menjalankan fungsi – fungsi akuntansi. Tahap awal dalam suatu siklus akuntansi adalah pencatatan. Oleh karena itu, bagi orang yang belum memiliki catatan transaksi keuangan pribadinya, maka sudah sangat penting untuk mulai melakukan pencatatan transaksi keuangan pribadinya. Akan lebih baik apabila siapa pun dia yang memiliki kepercayaan untuk memegang uang kas, kepadanya perlu untuk diberikan tanggung jawab mencatat transaksi keuangan pribadinya akan lebih baik apabila disertai dengan bukti – bukti transaksi.

Misalnya dalam suatu rumah tangga, dimana “manajer keuangan” rumah tangga mendelegasikan wewenang kepada tiap – tiap anggota keluarga untuk melakukan pencatatan transaksi keuangannya. Misalkan seorang anak yang diberi uang jajan, maka anak tersebut perlu untuk mencatat transaksi keluarnya uang jajan tersebut setiap harinya atau misalkan ibunya yang menjabat sebagai “manajer keuangan” menanyakan kepada anak tersebut setiap hari mengenai penggunaan uang jajan yang diberikan tersebut, lalu ibu anak tersebut mencatat pengeluarannya.


Kedua

Setelah transaksi – transaksi keuangan pribadi dapat dicatat dan diadministrasikan dengan baik, maka dapat disusun anggaran. Dalam hal ini, setiap orang perlu untuk menyusun skala prioritas kebutuhan, misalnya mulai dari kebutuhan yang paling penting sampai kepada kebutuhan yang kurang penting atau hutang mana saja yang paling mendesak untuk segera dibayar dan hutang mana saja yang masih lebih lama jatuh temponya.

Misalnya dalam kondisi pandemi ini, yang perlu diutamakan dalam anggaran rumah tangga adalah biaya kebutuhan pangan, biaya air, biaya listrik, dan biaya pendidikan anak. Sedangkan biaya untuk membeli barang mewah, tamasya atau rekreasi, dan sebagainya sebaiknya ditempatkan dalam prioritas paling akhir. Apabila perabotan rumah tangga masih sangat layak digunakan, maka sebaiknya tidak perlu mengganti atau membeli dengan yang baru.


Ketiga

Setiap orang penting untuk memiliki sikap kehati – hatian dalam mengambil setiap tindakan. Misalnya, ketika uang kas tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari, maka orang tersebut perlu meminjam dana dari pihak lain atau dengan kata lain hutang dengan menggunakan agunan. Dalam situasi ini, orang tersebut perlu untuk menimbang besarnya bunga dan jangka waktu yang ditetapkan oleh pihak yang memberikan pinjaman tersebut, apakah nantinya dia akan mampu untuk membayar bunga pinjaman tersebut atau tidak.


Keempat

Perencanaan jangka panjang tetap penting untuk dibuat meskipun dalam situasi pandemi. Misalnya, ketika mempunyai kelebihan uang akan lebih baik menabung sedikit dari penghasilan tersebut dan memiliki komitmen untuk tidak mengambil tabungan tersebut dalam jangka waktu yang panjang, misalnya tiga tahun atau lima tahun. Dengan menabung sedikit demi sedikit dari penghasilan yang dimiliki, maka nanti akan dapat digunakan apabila ada kebutuhan yang mendesak.