Waspada, Ini Kesalahan Investor Pemula di Pasar Saham

Trader - Canva

Trader - Canva

Berinvestasi di pasar modal atau saham sekarang sudah mulai banyak dilirik bahkan jadi tren, terutama bagi kaum milenial nih. Namun, masih banyak juga investor pemula yang sering banget melakukan kesalahan dalam berinvestasi saham lho.

Setiap tahun, jumlah investor di pasar modal Indonesia selalu bertambah. Dari data KSEI, hingga Desember 2020 misalnya, jumlah investor naik hingga 53 persen, menjadi 1,68 juta Single Investor Identification (SID)!

Belum lagi, tren investasi di pasar modal juga sempat dipicu oleh banyaknya tokoh publik yang terjun ke investasi saham. Bahkan, beberapa di antaranya kerap menjagokan saham pilihannya di media sosial dan melahirkan fenomena “pompom saham” hingga “bandarmology”.

Sayangnya, tren investasi saham rupanya masih belum didukung sama pengetahuan yang cukup dan mendalam dari para investor. Soalnya, masih banyak investor, terutama pemula, yang kerap melakukan kesalahan dari investasi saham.

Memang sih, namanya juga pemula, pasti ada aja salahnya. Namun, kesalahan tersebut kalau terus-menerus dilakukan, tentunya bakal berdampak pada boncosnya kamu dalam berinvestasi.

Nah biar kamu jadi lebih waspada, sebaiknya kamu cek dulu yuk, kesalahan apa sih yang biasanya dilakukan investor pemula di pasar saham?

 

Ekspektasi Tinggi, Minim Riset

Ketika berinvestasi, pastinya kamu ingin cuan dong? Meski begitu, kamu juga perlu sadar kalau dalam berinvestasi itu juga selalu ada risikonya lho!

Ekspektasi yang terlalu tinggi cuma bikin kamu halu doang. Makanya, saat kamu berinvestasi, kamu juga harus melakukan riset atau analisa untuk jadi pertimbangan kuat dalam mengambil keputusan.

Kamu juga perlu menyadari, investasi saham atau investasi apapun tentunya ada hukum mutlak yaitu: semakin tinggi cuan, semakin tinggi pula risikonya (high risk high return).

Untuk itu, coba deh, pelajari terus soal investasi saham. Mulai dari risiko, peluang keuntungan, analisa saham, kinerja emiten, hingga aksi korporasi setiap emiten.

Memang, percaya diri dalam investasi itu penting. Namun, kalau terlalu percaya diri dan menomorduakan risiko investasi, jangan salahkan siapa-siapa yaa kalau kamu boncos.

 

Trader - Canva

Trader - Canva

 

Enggak Punya Tujuan

Ini juga jadi salah satu kesalahan investor pemula yang perlu kamu hindari, Be-emers. Apalagi, di tengah tren investasi, banyak yang cuma ikut-ikutan berinvestasi tanpa tujuan yang jelas.

Perlu diingat nih, Be-emers. Berinvestasi itu harus punya tujuan lho! Soalnya, hal itu akan membantu kamu untuk menentukan sikap dalam berinvestasi.

Dilansir dari laman Indopremier, keputusan menginvestasikan uang sudah sepantasnya sejalan sama tujuan keuangan kamu juga. Kamu juga perlu menyadari bahwa tujuan investasi setiap orang itu beda-beda, begitu juga hasil investasinya.

Tercapainya tujuan investasi pun perlu banget disesuaikan sama nominal investasi yang tepat alias realistis. Sehingga, kamu pun bisa mendapatkan tujuan kamu sesuai dengan jangka waktu yang sudah tepat pula.
 

Mengabaikan Diversifikasi Portofolio Saham & Evaluasinya

Kalian pernah dengar istilah, “Jangan taruh semua telur dalam satu keranjang?”

Nah, seperti itulah kira-kira penggambaran yang tepat untuk kamu yang mau atau sedang berinvestasi. Untuk itu, penting banget kamu melakukan diversifikasi portofolio saham lho.

Indopremier menyerbutkan dalam laman resminya, diversifikasi portofolio saham bisa mengurangi risiko dan meminimalkan kerugian nih, Be-emers. Soalnya, hal itu bisa membatasi kerentanan terhadap volatilitas pasar yang akan menyebabkan kerugian.

Jadi, bisa dibilang, kalau ada salah satu saham koleksi kamu yang boncos, kamu masih punya saham lainnya yang lebih prospektif.

Selain itu, kamu juga enggak boleh mengabaikan evaluasi dari hasil lho. Untuk saham yang telah dibeli dalam waktu tertentu, kamu penting banget untuk melakukan evaluasi.

Dari laman resminya, Indopremier menyebutkan bahwa sebaiknya kalau meninjau hasil investasi minimal 1 tahun sekali untuk semua investasi jangka panjang. Sehingga, kamu bisa memaksimalkan cuan.

Selama evaluasi, saham yang hasilnya buruk, bisa diganti sama saham lainnya yang lebih prospektif. Makanya, kalau kamu mengabaikan evaluasi, kamu juga mengabaikan percepatan untuk mencapai tujuan keuangan.