Apa yang Dimaksud dengan Teori Invisible Hand?

Invisible Hand Theory Illustration Web Bisnis Muda - Canva

Invisible Hand Theory Illustration Web Bisnis Muda - Canva


Dalam istilah ekonomi, teori invisible hand atau tangan tak terlihat merupakan hal yang mengacu pada kekuatan yang dapat menggerakkan pasar menuju keseimbangan saat tidak adanya intervensi apapun, Be-emers.

Nah, menurut teori tersebut, untuk mendapatkan keseimbangan pasar, hanya didasarkan pada interaksi antara para pelaku ekonominya, yang mana hal tersebut akan menghasilkan alokasi sumber daya dengan efisiensi tinggi serta memaksimalkan manfaat sosial yang dihasilkan.
 

Asal Mula Teori Invisible Hand

Teori dasar invisible hand dicetuskan oleh Adam Smith pada tahun 1795 melalui bukunya yang berjudul “Theory of Moral Sentiments”. Setahun setelahnya, ia menggunakan istilah serupa dalam buku barunya yang berjudul “An Inquiry to the Nature and Causes of the Wealth of Nations”.

Menurut Smith, pada pasar yang bebas, tiap individu dan juga bisnis akan sama-sama mengedepankan kepentingannya sendiri. Secara rasional, pebisnis atau perusahaan akan memaksimalkan keuntungan dalam produksi barang atau jasa, sedangkan individu atau konsumen akan memaksimalkan utilitas dan kepuasan dalam menggunakan suatu produk atau jasa.

Hal tersebut nantikan akan memaksimalkan manfaat sosial yang ada. Konsumen dan pebisnis akan berinteraksi mencari yang terbaik bagi kedua belah pihak.
 

Konsep Invisible Hand

Ketika berbicara tentang pasar bebas, tidak ada intervensi eksternal yang terjadi. Masing-masing aktor ekonomi pastinya akan memaksimalkan keuntungan untuk diri sendiri dan akan menciptakan kekuatan penawaran serta kekuatan permintaan.


Dengan tidak adanya intervensi, harga yang ada di pasar mencerminkan kondisi permintaan dan penawaran pasar. Masing-masing pihak pun akan mengefisienkan alokasi sumber daya yang dimiliki.

Atas dasar tersebut, maka output dan harga yang seimbang dan berada pada titik ekuilibrium adalah hal yang terbaik, yang mana keputusan tersebut disesuaikan oleh kedua pihak dengan melihat kondisi permintaan dan penawaran.

Ketika mencari harga terendah dengan kualitas baik, konsumen menyadari produsen tidak ada yang mau memasoknya. Begitu pun sebaliknya, produsen melihat tidak ada konsumen yang mau membelinya jika membebankan harga yang terlalu tinggi.
 

Kritik Terhadap Teori Invisible Hand

Ada beberapa pihak yang memiliki pernyataan kontra dengan teori invisible hand. Menurut mereka, invisible hand atau tangan tak terlihat tidak akan selalu menghasilkan manfaat sosial yang terbaik.

Konsep dan motif yang mengedepankan kepentingan pribadi justru akan mendorong perbuatan jahat dan kriminal demi menguntungkan diri sendiri dan akan menyebabkan beberapa dampak lainnya, seperti:
 

Monopoli

Dalam persaingan, pasti akan ada pihak yang menang dan yang kalah. Perusahaan atau pebisnis yang dominan pada hakikatnya akan mencoba menyingkirkan kompetitor dari pasar, sehingga ia bisa memaksimalkan keuntungan untuk dirinya sendiri.

Saat monopoli pasar terjadi, perusahaan bisa dengan mudah menaikkan harga atau mengurangi biaya dengan menurunkan kualitas yang pastinya akan merugikan konsumen.
 

Eksternalitas negatif

Dengan tujuan teori invisible hand untuk memaksimalkan keuntungan, maka akan mendorong perusahaan untuk bersikap eksploitatif, Be-emers. Misalnya, mengeksploitasi sumber daya alam untuk mendapatkan bahan baku tanpa memperdulikan kondisi lingkungan dan dampak jangka panjang.

Jika pada pasar tidak ada intervensi, maka parktik seperti itu akan sangat rawan terjadi dan akan merugikan banyak pihak, terutama konsumen.
 

Bantahan Melalui Teori Keynesian

Dalam makroekonomi, teori invisible hand dibantah oleh teori Keynesian, yang mempertanyakan validitas konsep invisible hand secara jangka pendek. Teori yang dicetuskan oleh John Maynard Keynes berisi tentang argumen perlunya intervensi pemerintah dalam membangun keseimbangan pasar.

Salah satu kondisi yang memerlukan intervensi eksternal yaitu pemerintah adalah pada masa resesi. Sebab, sektor swasta dinilai tidak cukup mampu untuk menggerakkan perekonomian agar bisa terbebas dari resesi.

Pemerintah bisa menerapkan kebijakan yang nantinya bisa meningkatkan daya beli, salah satunya seperti menyesuaikan tarif pajak, sehingga ekonomi bisa bergerak dan demand pun meningkat.

Kalau kamu sendiri lebih setuju dengan teori Adam Smith atau John Maynard Keynes nih, Be-emers?