Jadi Sorotan, Ini Penyebab Biaya Kereta Cepat Jakarta-Bandung Membengkak

Kereta Cepat Illustration Bisnis Muda - Image: Canva

Kereta Cepat Illustration Bisnis Muda - Image: Canva


Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung menuai kontroversi dan menjadi soortan lantaran biayanya yang membengkak. Sebenarnya, apa sih penyebabnya?

Saat ini pemerintah tengah menyiapkan sebuha proyek kereta cepat pertama di Indonesia. Proyek yang termasuk dalam Proyek Startegis Nasional (PSN) tersebut berada di bawah naungan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).

Namun, di tengah pembangunan proyek tersebut, justru ditemukan pembengkakan biaya nih, Be-emers. Bahkan, dilansir Bisnis, Komisi VI DPR/RI tengah meminta kepada PT Kereta Api Indonesia (Persero) untuk segera melakukan audit dan melaporkan kembali pembengkakak biaya proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

Hal itu dilakukan sebelum DPR Ri menyetujui usulan Penyertaan Modal Negara (PMN) senilai Rp4,1 triliun untuk proyek tersebut nih, Be-emers. Soalnya, meski tengah terjerat kasus pembengkakan anggaran, pemerintah dikabarkan masih ingin mengoperasikan proyek tersebut secara mulus menjelang perayaan G20 pada tahun 2022.

Hmm.. sebenarnya apa sih yang bikin biaya proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung membengkak?


Baca Juga: Polemik BUMN: Banyak yang Mau IPO, Sementara Lainnya Siap Dibubarkan
 

Alasan Biaya Kereta Cepat Jakarta-Bandung Membengkak

Tahun 2022 tinggal sebentar lagi, yang artinya, proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung harus benar-benar kejar target.

Bahkan, hal tersebut tertera dalam melalui Peraturan Presiden No.93/2021 tentang Percepatan Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Sayangnya, pembengkakak biaya menjadi hal yang cukup mengganjal proses percepatan proyek tersebut.

Dikutip Bisnis, ini sejumlah alasan pembengkakan biaya Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang diungkapkan oelh Kementerian BUMN:
 

Penggunaan APBN

Pepres No.93/2021 itu mengganti Pepres No.107/2015. Nah, dalam Pepres terbaru, pembiayaan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung dapat melalui APBN.

Padahal, di Pepres No.107/2015, proyek tersebut sebelumnya enggak boleh menggunakan APBN nih, Be-emers.
 

Kondisi Geologis dan Geografis

Di sisi lain, Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mengungkapkan bahwa bertambahnya anggaran pembangunan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung juga disebabkan oleh perubahan desain.

Hal itu terjadi lantaran adanya kondisi geologis dan geografis yang berbeda jauh dari yang diprediksi di awal rencana proyek.
 

Kenaikan Harga Lahan

Arya pun menyebutkan kalau persoalan harga lahan yang naik seiring berjalannya waktu, menjadi salah satu faktor bertambahnya biaya proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

Adapun, Arya menjelaskan, hampir semua pembangunan, sejak dulu selalu ada perubahan yang akhirnya membuat pembengkakan anggaran. Walaupun, menurut Direktur Eksekutif Instran Deddy Herlambang, dilansir Bisnis, dari sisi trase sebenarnya enggak perlu pembelian lahan baru karena proyek tersebut menggunakan lahan tol PT Jasa Marga.

Hmmm… gimana menurut kamu, Be-emers? Masuk akal atau tidak ya alasannya?