Mana yang Lebih Dulu: Investasi, Asuransi atau Dana Darurat?

Ilustrasi menabung (Sumber gambar: Pexels)

Ilustrasi menabung (Sumber gambar: Pexels)

Like

Pandemi COVID-19 lalu banyak menyadarkan kita soal perencanaan keuangan untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan terburuk yang bakal terjadi. Berbagai media juga banyak yang memberikan edukasi mengenai pentingnya literasi keuangan agar tidak salah jalan dalam menggunakan ataupun menyimpan uang yang kita punya. 

Selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, ada baiknya sebagian pemasukan kita dialokasikan untuk keperluan di masa mendatang, nih Be-emers. Awamnya sih orang-orang akan menabung uangnya seperti di bank. Tapi, ternyata perlu juga lho untuk mengalokasikan pemasukan tersebut menjadi beberapa pos agar tujuan menabung tadi lebih jelas. 

Mungkin Be-emers sudah banyak mengenal istilah dana darurat, asuransi hingga berbagai instrumen investasi untuk meletakkan sebagian pemasukan kita. Tapi, dari ketiga pos ini, sebenarnya mana dulu sih yang harus kita utamakan untuk dipenuhi?

Baca Juga: Jenis-Jenis Investasi yang Bisa Digunakan untuk Simpan Dana Darurat

 

Penuhi Dana Darurat Terlebih Dahulu

Sama seperti namanya, dana darurat atau emergency fund adalah dana yang dapat kita gunakan dalam keadaan darurat dan mendesak. Bisa jadi karena kecelakaan, bencana alam atau bahkan PHK mendadak yang membuat pemasukan terhenti.


Coba bayangkan kalau tidak ada dana darurat untuk menanggung biaya-biaya tak terduga ini, mungkin kita akan kewalahan mencari pinjaman ke sana-sini. 

Idealnya jumlah dana darurat yang perlu dikumpulkan sebanyak 3-6 kali gaji saat ini bagi yang belum memiliki tanggungan atau single. Sementara bagi yang sudah berkeluarga sebaiknya memiliki dana darurat sebanyak 6-12 kali gaji. Mengumpulkan dana darurat juga bisa dilakukan dengan mengalokasikan 10-20 persen dari pemasukan bulanan hingga terpenuhi. 

Perlu diperhatikan juga, usahakan tidak menggunakan dana darurat tersebut untuk hal-hal yang kurang mendesak, ya! Penyimpanan dana darurat juga harus di instrumen yang aman dengan risiko yang rendah, mudah untuk diakses dan harus likuid atau mudah untuk dicairkan sewaktu-waktu seperti tabungan bank, deposito berjangka, obligasi berjangka atau reksa dana pasar uang.
 

Pastikan Asuransi Aman

Setelah dana darurat terpenuhi, alangkah baiknya kita juga memiliki asuransi untuk mengantisipasi risiko finansial yang muncul karena kondisi tak diinginkan, Be-emers. Ada beberapa jenis asuransi dasar yang setidaknya perlu dimiliki mulai dari asuransi kesehatan, asuransi jiwa, asuransi pendidikan, hingga asuransi kendaraan dan lainnya. 

Baca Juga: Jenis-Jenis Asuransi Dasar yang Wajib Kamu Miliki!

Salah satu jenis asuransi yang populer dan setidaknya harus dimiliki adalah asuransi kesehatan. Asuransi kesehatan dapat menanggung berbagai biaya yang dibutuhkan pada berbagai masalah kesehatan mulai dari perawatan hingga kita sembuh. Tanpa asuransi, mungkin biaya yang dibutuhkan untuk mengobati suatu penyakit bisa sangat membebani keuangan kita.
 

Investasi Setelah Semua Terpenuhi

Terakhir, jika masih terdapat “uang dingin” dari pemasukan bulanan maka dapat dialokasikan ke berbagai pilihan instrumen investasi. Pada dasarnya, investasi bertujuan untuk mencegah dana tergerus inflasi.

Investasi tanpa ada dana darurat atau asuransi bisa dibilang sama dengan bohong dan justru bisa jadi bencana buat keuangan kamu kalau suatu saat ada hal mendesak. 

Kenapa begitu? Investasi diibaratkan mengalokasikan uang dengan kemungkinan yang tidak terduga.

Sebab, untung dan rugi dari investasi gak ada yang menjamin. So, jangan sekali-kali pakai uang untuk kebutuhan utama kamu buat diinvestasikan dulu, ya!

Gimana Be-emers? Sudah tahu mana yang harus didahulukan kan?

Jangan sampai tertukar lagi untuk mengalokasikan uang yang kita punya, ya!




Editor: Rachma Amalia