Kripto Jatuh Sepanjang 2022, Pendirinya Kehilangan US$116 Miliar

Kripto. (Ilustrasi: Canva)

Kripto. (Ilustrasi: Canva)


Industri kripto pada tahun 2022 mengalami penurunan yang tajam dari tahun-tahun sebelumnya. Imbasnya pada pendiri kripto kehilangan aset hingga US$116 Miliar. 

Salah satu peristiwa kunci yang terjadi pada industri kripto di tahun 2022 ini adalah jatuhnya FTX, bursa kripto yang masuk jajaran terbesar.

Aset-aset investor yang ada di dalam FTX lenyap, membuat kepercayaan terhadap industri kripto menurun. Tren kripto terus mengalami penurunan.

Jatuhnya FTX hanya salah satu dari banyak peristiwa negatif yang dialami industri kripto.

Mengutip dari Forbes, guncangan ekonomi pasca-pandemi, yang memicu inflasi dan kenaikan suku bunga menyedot modal keluar dari ekosistem kripto yang spekulatif. 


Perusahaan-perusahaan terkemuka ambruk, mulai dari ambruknya stablecoin algoritmik TerraUSD senilai US$40 miliar pada bulan Mei, hingga dana lindung nilai kripto Three Arrows (yang dinyatakan bangkrut pada bulan Juli). 

Ada juga kebangkrutan bisnis pinjaman berbunga Voyager Digital, Celsius, dan BlockFi. Bitcoin, mata uang kripto terbesar dan pelopor industri, turun 65 persen dari puncaknya US$69.000 pada November 2021. 

Sementara itu, sekitar US$2 triliun nilai pasar telah hengkang dari kripto dan beralih ke sektor yang dianggap lebih aman.

Baca Juga: Ada Kemungkinan Kripto Dilarang, Bagaimana Nasib Investor?
 

Pendiri Kripto Kehilangan US$116 Miliar


Keadaan industri kripto yang seperti ini mengakibatkan banyak pelakunya yang juga kehilangan aset.

Akibatnya, 17 investor dan pendiri kripto terkaya secara kolektif kehilangan sekitar US$116 miliar kekayaan pribadi sejak Maret, menurut perkiraan Forbes

Lima belas dari mereka telah kehilangan lebih dari setengah kekayaan mereka selama sembilan bulan terakhir. Sepuluhnya telah kehilangan status miliarder mereka sama sekali.

Orang yang paling banyak kehilangan adalah Changpeng Zhao, CEO Binance, bursa kripto terbesar. 

CZ, nama panggilannya, diperkirakan memiliki 70 persen saham di Binance, yang menurut Forbes bernilai US$4,5 miliar. Nilai ini turun dari US$65 miliar pada bulan Maret.

Barry Silbert, kepala konglomerat Digital Currency Group (DCG), juga menjadi salah satu yang mengalami kerugian dari industri kripto. Selain itu, DCG dibebani dengan hutang.

DCG berhutang kepada Genesis sebesar US$575 juta, yang akan jatuh tempo pada bulan Mei. DCG juga berhutang US$350 juta kepada perusahaan investasi Elridge jika Genesis bangkrut.

Penurunan juga terjadi pada Coinbase, bursa kripto lainnya. Saham Coinbase turun 64 persen sejak Agustus dan lebih dari 95 persen dari IPO senilai US$100 miliar pada April 2021, menghapus sebagian besar kekayaan pendirinya.

Sementara itu, salah satu pendiri Coinbase lainnya, Fred Ehrsam, dihabisi oleh Bankman-Fried. Perusahaan ventura kripto miliknya, Paradigm, menginvestasikan US$278 juta dalam ekuitas FTX. 

Baca Juga: Era Crypto Winter Datang, Apa yang Harus Dilakukan?

Tim Draper, seorang pemodal ventura yang memiliki sekitar 30.000 bitcoin, turun dari peringkat miliarder awal tahun ini, ketika Bitcoin mencapai US$33.000. 

Seperti biasa, Draper tetap optimis tentang masa depan bitcoin, meskipun target harga US$250.000 yang sering diulangnya terlihat lebih fantastis dari hari ke hari. 

“Saya menduga bahwa ini adalah awal dari akhir dari token terpusat,” kata Draper kepada Forbes. “Jika token dipusatkan, Anda bergantung pada belas kasihan orang yang mengontrol mata uang. Dan itu pasti terjadi pada FTX.”

Melihat kondisi saat ini apakah kamu masih konsisten mencari cuan dari sektor investasi ini, Be-Emers?

Mau tulisanmu dimuat juga di Bisnis Muda? Kamu juga bisa tulis pengalamanmu terkait investasi, wirausaha, keuangan, hingga lifestyle di Bisnis Muda dengan klik “Mulai Menulis”.
 
Submit artikelnya, kumpulkan poinnya, dan dapatkan hadiahnya!
 
Gabung juga yuk di komunitas Telegram kami! Klik di sini untuk bergabung.