4 Tanaman Receh Penghemat Uang dan Penyelamat Perut saat Pandemi

Menanam tumbuhan memberi manfaat ekonomi dan keseimbangan hidup. (Sumber gambar: https://p0.pikist.com/photos/220/476/chili-peppers-cooking-food-spices-spicy-ingredient-red-kitchen.jpg)

Like

Pandemi dan resesi global membuat banyak orang menghabiskan waktunya di rumah. Enaknya adalah bebas dari masuk sekolah, pergi ke kantor dan lebih banyak beraktivitas di sekitar tempat tinggal.

Tidak enaknya adalah rasa bosan, jenuh dan bingung sering datang. Tak jarang, orang bertanya, “Habis ini mau ngapain lagi, ya?”

Kadang saya sendiri juga begitu. Untuk mengurangi bosan dan jenuh, biasanya saya menanam tumbuhan.

Menanam tumbuhan di kebun dapat memperbaiki mood saat capek dan bosan. Kalau tidak punya kebun, bisa memanfaatkan tanah kosong di teras, atau bisa juga ditanam di polybag. Berkebun bisa dilakukan dimanapun.

Saat tumbuhan berkembang, orang dapat memanfaatkan beberapa bagian seperti buahnya untuk dimakan serta daunnya untuk sayur dan obat. Tanaman yang tak bisa dikonsumsi seperti bonsai dapat menyegarkan mata. Merawat tumbuhan bisa memberi banyak manfaat.
 
Karena saya tidak begitu mahir dalam urusan tanam-menanam, maka saya hanya menanam tumbuhan yang minim perawatan. Walau begitu, beberapa tanaman tersebut dapat saya ambil manfaatnya terutama saat pandemi melanda.

Apa saja tanaman receh di rumah saya? Berikut beberapa diantaranya.



Cabai

Tanaman berwarna merah, kuning dan hijau ini memiliki rasa pedas di lidah. Pedasnya dipakai untuk membuat bumbu dan sambal.

Dulu, saya membantu orang tua menanam cabai di sawah. Tapi karena sawahnya dijual, sekarang hanya bisa menanam sedikit di pekarangan rumah.

Kenapa saya menanam tanaman ini? Karena saya suka pedas dan sering bikin sambal sendiri. Sebenarnya membeli sambal botolan bisa, tapi dengan menanam cabai sendiri dan membuat sambal dengan racikan sendiri akan lebih puas dan lega.
 
 

Cabai hasil bibit sendiri.


Bibit cabai saya peroleh dari tetangga. Saya siram setiap hari dan sampai sekarang masih belum berbuah.

Biasanya, butuh waktu tiga bulan setelah masa tanam agar bisa dipetik buahnya. Rencananya, nanti akan saya pakai buat bibit karena saya ingin menanamnya lagi.

Kebetulan, di samping rumah masih ada sejengkal tanah kosong yang belum ditanami apa-apa. Jadi, kalau sudah banyak dan ingin buat sambal tinggal petik saja saat panen.


Belimbing

Belimbing sayur, atau belimbing wuluh, rasanya segar dan anyes di lidah. Buahnya sering dicemplungkan ke dalam sayur asem agar semakin nikmat. Tidak jarang juga, digerus bersama cabai saat membuat sambal.

Pohon ini juga sering ditemui di lingkungan sekitar kami. Biasanya, ibu-ibu mengambil buahnya untuk sayur. Selain itu, para orang tua juga meminumnya untuk mengurangi tekanan darah tinggi.

Kalau saya sendiri, biasanya saya ambil buahnya buat teman sambal ikan bakar. Menikmati secuil demi secuil dagingnya, lalu dicocol sambal bertabur belimbing merupakan kenikmatan yang hakiki.
 

Belimbingnya mulai bercabang.


Saya beli bibitnya sekitar dua tahun yang lalu. Setiap pagi saya siram, tapi kalau musim hujan kadang tidak karena tanamannya sudah segar. Beberapa waktu yang lalu sempat berbuah dan saya pangkas batangnya beberapa kali.

Rantingnya mulai tumbuh dan sekarang tinggi pohonnya sekitar 2-3 meter. Untungnya, selama merawat belimbing tersebut, sangat jarang terserang hama atau jamur.


Pepaya

Tanaman multifungsi ini butuh beberapa bulan agar berbuah. Buahnya bisa dibuat rujak atau sayur berkuah. Sedangkan daunnya, dipakai sayur lalapan.

Saat pepaya berbuah, para tetangga di depan dan samping rumah asyik rebutan dan bilang, “Pokoknya yang atas sendiri punyaku”, “Itu yang sudah kuning punyaku” dan beragam kalimat indent lainnya. Karena saya lebih sering memanfaatkan daunnya daripada buahnya, ya sudahlah, silahkan ambil dan dibagi dengan rata.
 

Kalau pepayanya berbuah, tetangga rebutan dan indent ke saya.


Sama dengan tiga tumbuhan di atas, pepaya ini juga saya siram setiap hari. Sempat beberapa kali mati lalu saya ganti dengan yang baru.

Terakhir, berhasil menghasilkan beberapa buah walau tidak besar, sebelum saya ganti dengan tanaman yang sekarang. Kalau tidak mati, mungkin tahun depan pohon yang ini akan berbuah dan bisa dikonsumsi. Untuk sementara ini, sepertinya saya hanya bisa mengambil daunnya untuk lalapan pecel.


Kelor

Tanaman yang disebut sebagai pengusir makhluk halus ini cocok dimasak sayur berkuah. Selain itu, daun kelor juga dapat dipakai untuk mengobati pusing dan tekanan darah tinggi.

Karena rumah saya tak jauh dari sawah, maka tak jarang kelor tersebar dimana-mana termasuk di teras rumah saya sendiri. Terkadang, ada saudara yang datang dari kampung lain meminta bibitnya untuk ditanam di rumahnya.
 
 

Kelor yang biasa saya petik buat sayur.


Hanya saja, tanaman kelor adalah tanaman yang cepat tinggi sehingga harus lebih hati-hati dalam merawatnya. Karena ada tetangga yang menanam kelor dan tumbuh sampai 5-6 meter di depan rumahnya.

Beberapa hari yang lalu, dahan pohon itu dihempas angin kencang sehingga patah dan jatuh di tengah jalan. Untungnya, tidak ada yang lewat. Jadi, harus tahu kapan waktunya dibiarkan tumbuh dan kapan waktunya dipangkas agar tidak mengganggu sekitar.

Walau begitu, menanam kelor membuat saya tak perlu membeli sayuran di pasar. Tinggal petik daunnya, ceburkan ke kuah, lalu jadilah sayur kelor. Perut kenyang, duit pun hemat.

Selain tumbuhan di atas, sebenarnya masih ada beberapa lagi seperti selada, katu dan kemangi. Tapi, sekarang masih belum tumbuh sehingga belum bisa diambil manfaatnya.

Saat pandemi dan krisis, beberapa tanaman di atas bisa jadi penyelamat dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Jadi, tidak perlu keluar uang demi makan buah dan sayur.

Dengan begitu, uang bisa dihemat sedikit. Tapi, yang lebih membuat asyik dan seru adalah saat memetik bahan-bahan itu dan mengolahnya menjadi masakan sedap bagi keluarga di rumah.
 
Jadi, mau masak apa hari ini? Yuk cek tanaman di rumah kita.