Terkait Kasus Sub Kontraktor Fiktif, Gimana Dampaknya ke Kinerja Waskita (WSKT)?

Construction - Canva

Like

Salah satu perusahaan konstruksi BUMN, PT Waskita Karya (Persero) Tbk., lagi menghadapi ujian nih, Be-emers.

Pasalnya, emiten berkode saham WSKT itu harus menjalani sejumlah pemeriksaan terkait kasus dugaan sub kontraktor fisik di sejumlah proyek yang dikerjakan.

Bahkan, dilansir dari laman Bisnis, KPK telah menetapkan mantan Kepala Bagian Keuangan dan Risiko Divisi II Waskita Karya Yuly Ariandi Siregar dan mantan Kepala Divisi (Kadiv) II Waskita Karya Fathor Rachman, sebagai tersangka.

Jadi, sebagian dari pekerjaan tersebut diduga sudah dikerjakan sama perusahaan lain. Namun, tetap dibuat seolah-olah bakal dikerjakan sama empat perusahaan sub kontraktor yang teridentifikasi sampai saat ini.

Nah, diduga empat perusahaan tersebut enggak melakukan pekerjaan sesuai yang tertuang dalam kontrak. Alhasil, atas subkontrak pekerjaan fiktif itu, WSKT selanjutnya melakukan pembayaran kepada perusahaan subkontraktor tersebut.


Meski begitu, ternyata perusahaan sub kontraktor itu malah balikin uang pembayarannya dan dipakai lah sama Fathor dan Yuly buat kepentingan pribadi. Hmmm…. nakal ya!

Waduh, terus gimana ya sama kinerja WSKT?

Meski tengah dirundung “skandal”, rupanya hal itu enggak berdampak ke kinerja operasional dan keuangan Waskita Karya lho.

Di sisi lain, jika melihat kinerjanya di semester pertama tahun 2020 ini, WSKT justru mengalami penurunan. Bahkan, WSKT mengalami rugi bersih yang lebih parah dari perkiraan.

Hal ini bukan tanpa sebab, margin kotor sektor konstruksi pun mengalami penurunan yang cukup signifikan, yakni 5,8 persen di kuartal II/2020. Alhasil, margin kotor pun turun jadi 13,3 persen secara year-on-year di semester I/2020.

Sementara itu, hingga akhir sesi perdagangan bursa, Senin (21/9), saham WSKT terjun bebas! Dengan longsor hingga -2,63 persen, saham WSKT pun kini berada di level Rp555 per saham.

Meski begitu, berdasarkan info di laman Bisnis, saat ini WSKT lagi melakukan upaya mengurangi utang (deleveraging), di antaranya seperti mengurangi:

  • Belanja modal (capex)
  • Eksposur terhadap proyek dengan skema turnkey, dan
  • Restrukturisasi utang

Enggak cuma itu, rencana adanya divestasi jalan tol juga dinilai bakal mendatangkan dana segar buat WSKT nih. Divestasi tersebut meliputi proyek tol Becakayu dan Cibitung-Cilincing.