Menanti Bangkitnya Canningrara – Si Manis dari Pattaneteang

Desa Pattaneteang, sumber gambar: Asdar Marannuang.

Like

Sedih juga ketika mengetahui sirup aren Canningrara berhenti berproduksi selama masa pandemi Covid-19 ini. Sejak launching  bulan Januari 2020 lalu, saya ikut bersemangat share informasi mengenai sirup aren yang diproduksi di Desa Pattaneteang, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Tak sabar menanti bangkitnya produksi sirup aren masyarakat setempat ini.

Desa Pattanateang terletak di ujung tenggara Provinsi Sulawesi Selatan dan berjarak hanya 8 km (garis lurus). Jarak tempuh dari Pattaneteang ke Banyorang (pusat Kecamatan Tompobulu) adalah 10 km. Desa ini terletak pada ketinggian 650 – 1760 mdpl.
 

Tentang Canningrara, Tak Mudah Menghasilkannya

Canningrara dibuat dengan teknik khusus. Produk ini bukan gula merah cair walau kelihatannya mirip sekali. Tak ada campuran air sama sekali di dalamnya. Memasak nira butuh kesabaran karena prosesnya yang tidak sebentar dan membutuhkan ketelatenan dalam mengaduknya terus-menerus.

 

Canningrara sebagai teman minum kopi.


Memasak nira bisa makan waktu hingga 5, 6, bahkan 8 jam. Butuh ketelatenan tingkat tinggi dalam mengolahnya karena jika salah sedikit saja, malah bisa jadi padat bukannya mendapatkan  sirup aren yang diinginkan.

Mendapatkan teknik yang pas pun tak mudah. Dua orang lelaki – Mansyur Rahim (Ancu) dan Asdar Marannuang membutuhkan waktu berbulan-bulan melakukan trial and error sebanyak puluhan kali. Mereka berdua melakukan uji coba sejak September hingga akhir November 2019 untuk mendapatkan cara mengolah aren yang pas hingga menjadi sirup aren yang lezat.


“Sama sekali tidak boleh ada air menetes. Satu tetes air saja yang jatuh saat memasak maka nira akan berhenti mendidih,” demikian Asdar menjelaskan mengenai tantangan memasak nira.

Kemauan yang sangat kuat menghasilkan sirup aren yang lezat. Salut dengan kegigihan mereka, mengingat mereka berdua tidak memiliki latar belakang pengolahan pangan. Berangkat dari itikad baik demi memajukan Desa Pattaneteang yang alamnya kaya dengan pohon nira, mereka belajar mengolah nira secara otodidak.
 

Dua Lelaki di Balik Si Manis Canningrara

Ancu bukanlah warga asli Desa Pattaneteang. Lelaki berambut gondrong ini mulanya mendampingi desa dalam mengembangkan Sistem Informasi Desa (SID) yang menghasilkan peta digital, peta 3D, buku, dan website desa https://desapattaneteang.id/. Setelah melihat potensi ekonomi desa, Ancu pun mendampingi UMKM dengan produk Canningrara ini.

Sementara Asdar merupakan warga desa asli Pattaneteang yang pernah mengenyam bangku pendidikan tinggi di Kota Makassar. Lelaki muda ini lulus Informatika UIT pada tahun 2018.

Setelah dua bulan hanya mereka berdua yang terlibat dalam percobaan dan  pengolahan nira, akhirnya mereka mampu melibatkan 4 warga desa sebagai petani aren dan 1 orang lainnya terlibat dalam proses pengolahan. Saya menyampaikan apresiasi kepada Ancu dan Asdar ketika mereka berkunjung ke kediaman saya pada bulan Januari lalu.


Mengapa Perlu Mengonsumsi Canningrara

Bagi orang-orang yang sangat memerhatikan asupan makanan sehat yang dikonsumsinya,  gula merah atau gula aren menjadi pilihan ketimbang gula pasir. Mengapa demikian? Karena indeks glikemik gula aren lebih rendah daripada indeks glikemik gula tebu/pasir.

Tahukah Anda bahwa makanan dengan indeks glikemik yang rendah dicerna dan diserap tubuh lebih lambat sehingga peningkatan kadar glukosa dan insulin dalam darah terjadinya perlahan-lahan?

Artikel-artikel kesehatan (boleh googling, yang menyebutkan tentang indeks glikemik ini di antaranya alodokter.com) menyebutkan bahwa gula merah  memiliki indeks glikemik yang relatif rendah, yaitu sekitar 54 sementara indeks glikemik gula pasir 68.
 
Video saya tentang Canningrara dan Pattaneteang, sumber foto Pattaneteang dari Asdar.


Nah, ketahuilah bahwa asupan dengan indeks glikemik rendah telah terbukti memperbaiki kadar glukosa dan lemak pada pasien-pasien diabetes melitus dan  memperbaiki resistensi insulin. Itu makanya mengonsumsi gula aren lebih aman ketimbang gula putih.

Cara konsumsinya, tidak hanya dengan diminum langsung. Bisa juga menjadi topping atau isian roti tawar, roti maryam, roti mantou, pancake, es krim, kue lopis, es buah, atau putu. Bisa pula dijadikan campuran minum kopi, teh, susu, jus, atau minuman rempah. Jika ingin dijadikan bahan kolak juga bisa. Simple, tak perlu memotong-motong gula merah lagi, langsung tuang saja.


Canningrara Setelah Pandemi

Sebelum pandemi Covid-19 – terhitung sejak aktif memperkenalkan dan memasarkan Canningrara (Januari – Maret 2020), sudah ada 13 reseller yang  membantu memasarkan Canningrara. Warga yang membantu proses produksi Canningrara tentunya merasa terbantu dengan aktivitas tersebut.

Untung tak dapat ditolak, malang tak dapat diraih, seperti yang dialami sebagian besar penduduk bumi ini, pandemi juga mengubah stabilitas produksi dan pemasaran Canningrara. Jika sebelum pandemi, setiap harinya bisa diproduksi sebanyak 10 – 15 botol ukuran 330 ml Canningrara maka sejak masuk masa pandemi, Canningrara berhenti total berproduksi.

 

Canningrara bisa jadi topping roti


“Selama istirahat proses pengolahan Canningrara, bagaimana aktivitas petani aren?” tanya saya pada Asdar melalui pesan Whatsapp.

“Tidak ada kegiatannya selama pandemi ini,” jawabnya.

“Tiga bulan ini, bagaimana Canningrara menyikapi pandemi?” tanya saya kepada Ancu.

“Selama pandemi kami jeda produksi mengingat adanya PSBB Makassar sehingga distribusi dari desa ke Makassar agak terhambat. Daya beli masyarakat juga menurun drastis sehingga penjualan berkurang,” jawabnya.

Syukurnya, jeda tak berlangsung lama. Ketika mendengar Canningrara akan beroperasi kembali, saya kembali mewawancarai Ancu dan Asdar melalui Whatsapp. Rencananya dalam bulan Juli ini Canningrara kembali berproduksi.

“Apa harapannya untuk Canningrara jika diproduksi kembali?” tanya saya kepada Ancu dan Asdar, melalui pesan Whatsapp berbeda.

 

Desa Pattaneteang. Sumber gambar Asdar Marranuang.


“Semoga pandemi cepat berlalu, penjualan kembali normal sehingga dapat kembali berproduksi. Kami berencana membuat varian gula semut dan gula mini, jadi akan ada 3 varian produk. Harapannya tentu semakin banyak yang beli,” kurang lebih jawaban keduanya serupa.

Saya mengaminkan harapan keduanya. Saya juga berharap demikian. Desa Pattaneteang masih butuh local heroes yang bisa menggiatkan sociopreneurship di sana. Desa yang potensial dengan pohon-pohon aren yang tumbuh subur, sayang sekali jika tak memanfaatkan potensi alamnya semaksimal mungkin demi kemajuan warga desa..

Bayangkan saja, dalam 2 bulan Canningrara sudah bisa menarik 5 warga desa dan 13 reseller, bagaimana jika pengolahan aren berkelanjutan produksinya. Pasti jauh lebih banyak lagi warga desa dan reseller yang diberdayakan.