Mitos-Mitos di Pasar Saham

Mitos-Mitos di Pasar Saham Illustration Web Bisnis Muda - Canva

Like

Pasar saham merupakan salah satu tempat yang diserbu oleh investor untuk menanamkan modalnya. Banyak dari mereka yang berbondong-bondong mencari cuan dengan terjun ke dunia saham.

Selayaknya orang Indonesia yang banyak percaya dengan mitos, ada beberapa fenomena-fenomena dalam pasar saham yang banyak dipercaya oleh investor namun seringkali disebut sebagai mitos lho, Be-emers.

Apa aja sih fenomena-fenomena tersebut? Yuk, kita bahas lebih lengkap!
 

January Effect

Usut punya usut, fenomena January Effect ini terjadi dari tahun 1995 hingga tahun 2017 dan hanya pada bulan Januari di tiap tahunnya. Karena January Effect ini, IHSG mengalami peningkatan sebanyak 16 kali dan penurunan sebanyak 7 kali di setiap periodenya.
 

Monday Effect

Nah, fenomena yang satu ini merupakan suatu anomali di mana rata-rata return saham atau pengembaliannya pada hari Senin bernilai negatif secara signifikan.

Ahli menyebutkan bahwa hasrat investor melakukan transaksi jual saham pada hari Senin cenderung lebih tinggi jika dibandingkan dengan hari-hari lainnya, sehingga harga saham pada hari Senin menjadi lebih rendah.
 

December Window Dressing

Kondisi anomali yang satu ini terjadi di akhir tahun, Be-emers. Umumnya, perusahaan melakukan ‘window dressing’ dalam rangka memperbagus laporan keuangan dan harga saham di bursa, dengan tujuan untuk menarik investor baru.


Tak hanya emiten perusahaan, manajer investasi pun turut melakukan aksi tersebut agar portfolio-nya terlihat lebih baik dan maksimal, serta menunjukkan hasil yang positif.
 

Friday Effect

Friday Effect atau yang juga dikenal dengan Weekend Effect yang menunjukkan kondisi di mana return saham pada hari Jumat menunjukkan angka yang positif dibandingkan dengan hari-hari lainnya.

Hal ini disebabkan para investor yang pada umumnya melakukan aksi profit taking untuk siap menyambut weekend, Be-emers. Investor merasa bahwa detik-detik menuju penutupan bursa sebelum akhir pekan merupakan waktu yang baik untuk melakukan transaksi saham.
 

Sell in May and Go Away

Istilah yang satu ini cukup populer lho, Be-emers. Jika kamu belum tau, istilah Sell in May and Go Away ini merupakan gambaran strategi investasi saham di mana investor menjual saham-sahamnya pada bulan Mei.

Kondisi tersebut disebabkan oleh anggapan bahwa kinerja pasar saham akan memburuk di bulan Mei hingga Oktober. Investor biasanya lebih memilih menyimpan uangnya dalam bentuk kas atau reksa dana pasar uang, dibandingkan harus melakukan Buy and Hold dalam waktu yang lama.

Kalau menurut kamu, fenomena-fenomena di atas termasuk mitos atau fakta, nih?