Single Stock Futures: Peluang Cuan Baru di Pasar Saham yang Dirilis BEI

BEI rilis produk derivatif baru bernama Single Stock Futures (Sumber gambar: iStockphoto/teerasub)

Like

Pada bulan Maret lalu, Bursa Efek Indonesia (BEI) menghadirkan instrumen investasi baru yang bisa investor gunakan sebagai peluang strategi saham di masa depan.

Instrumen investasi tersebut bernama Single Stock Futures (SSF). Di Indonesia SSF dikenal dengan nama Kontrak Berjangka Saham (KBS).

Dilansir dari laman website resmi BEI, SSF merupakan produk derivatif berupa kontrak keuangan antara kedua belah pihak untuk menjual atau membeli saham dengan jangka waktu yang telah ditentukan.

SSF sendiri bergantung terhadap nilai aset dari suatu saham (underlying) dengan indeks LQ45. Dalam hal ini, BEI nantinya akan menerbitkan 15 seri efek yang asalnya dari saham dengan likuiditas tinggi yaitu ASII, BBRI, BBCA, TLKM, dan MDKA.

Baca Juga: Mengenal Kabunushu Yutai, Profit Investor Saham Unik dari Jepang


Menurut BEI, produk SSF ini dapat mendorong perkembangan pasar modal di Indonesia. Selain itu, SSF dapat membantu investor untuk melindungi nilai saham mereka dari risiko ketidaksesuaian antara indeks dan portofolio.

BEI berharap peluncuran produk SSF ini bisa meningkatkan sektor pasar derivatif di Indonesia.

 

Mekanisme Instrumen Investasi SSF

Mekanisme dari SSF ini berbeda dengan saham pada umumnya. Kesepakatan SSF berupa kontrak yang terbagi jadi 2, yaitu kontrak beli (long) dan kontrak jual (short).

Dilansir dari bisnis.com, kontrak beli (long) berarti investor bisa dapat untung meskipun kondisi harga saham dalam keadaan bullish.

Dalam hal ini, investor akan mengunci harga beli yang rendah dibanding harga pasar yang tinggi.

Sementara, dalam kontrak jual (short), investor akan tetap dapat cuan walaupun harga saham turun atau bearish.

Sebab, investor telah mengunci harga jual yang lebih tinggi daripada harga pasar yang rendah.

Makanya, investor jauh lebih banyak dapat cuan dengan SSF. Namun, perlu diingat sebelum melakukan transaksi, investor harus membuka rekening derivatif yang ada di Anggota Bursa (AB). 

Modal transaksi SSF pun hanya 4 persen dari harga pasar. Hal ini yang membuat SSF lebih murah daripada saham yang lain yaitu sebesar Rp250 per kontrak.

Pembelian setiap kontrak ini setara dengan membeli 100 lembar saham.

Sistem perdagangan SSF menggunakan mekanisme continuous action dengan membaginya dalam beberapa sesi. 

Baca Juga: Kondisi Geopolitik Memanas dan Tantangan Bagi Saham Sektor Perbankan, Begini Penjelasan Menurut Analis

Setiap hari Senin-Kamis, sesi I dimulai pukul 08.45-12.00 dan sesi II dimulai pukul 13.30-16.15.

Sementara hari Jumat, sesi I akan berlangsung pukul 08.45-11.30, dilanjut ke sesi II pukul 14.00-16.15.

Auto rejection dari SSF sendiri bergantung pada ketentuan underlying saham yang dibeli oleh investor.

Namun, perlu diingat bahwa SSF sifatnya jatuh tempo sesuai dengan periode kontrak yang telah disepakati kedua belah pihak.

Periodenya bisa dipilih sendiri, mulai dari 1 bulan, 2 bulan, dan 3 bulan. 

Investor nantinya akan mendapatkan keuntungan dari SSF berupa tunai, sehingga bisa langsung dikirim 1 hari setelah transaksi ke rekeningnya.