Berkah Pandemi! Ubah Tren Bersepeda jadi Uang

Sepeda Minion yang sedang tren di kalangan masyarakat.

Sepeda Minion yang sedang tren di kalangan masyarakat.

Pandemi COVID-19 atau akrab disapa corona memang memukul telak hampir semua bidang yang ada di negeri ini. Tentu di bidang kesehatan  yang paling dirasakan. Mulai ramainya media tentang kelangkaan APD, masker, sampai  cerita-cerita perjuangan tenaga medis yang ramai di sosial media.

Bidang pendidikan pun juga tidak luput dari cengkraman pandemi ini. Para pelajar tepaksa harus belajar secara daring yang dianggap tidak efektif dan membosankan, sampai ramai berita tentang perjuangan untuk mendapatkan sinyal ataupun segenggam smartphone dan paketan.

Dalam bidang ekonomi misalnya, dari mulai muncul kasus pertama di Bogor, hingga terus merebak ke seluruh provinsi di Indonesia sampai waktu sekarang terus menggerogoti sendi perekonomian.

3 bulan karantina di rumah merupakan pukulan telak bagi para pencari nafkah. Ribuan buruh di rumahkan, para pelaku wirausaha sepi pembeli, jalanan sunyi karena para aparat terus berpatropli untuk membubarkan kerumunan.
 
Hal tidak menyenangkan juga saya rasakan di kala menghadapi pandemi ini. Saya lulusan SMA tahun 2019 yang berstatus gapyear, selama menunggu tes penerimaan mahasiswa baru tahun ajaran 2020/2021, saya bekerja sebagai karyawan Kantin sekolah salah satu SMA di Kota Solo.

Jelas pandemi covid-19 ini saya rasakan dampaknya karena drastis saya tidak bisa bekerja karena memang sekolah diliburkan. Dan sampai tulisan ini terbit memang belum ada tanda-tanda bahwa sekolah akan mulai masuk.

Waktu terus berlanjut, Kurang lebih selama 4 bulan akhirnya pemerintah harus mengubah gaya hidup menuju new normal karena jika diteruksan akan menjadikan negara ini semakin kacau, disamping kasus covid ini juga ternyata tidak hilang, dan malah bertambah.
 
Di dalam melepaskan kejenuhan selama karantina muncul sebuah tren baru yaitu, bersepeda. Bersepeda merupakan sebuah aktivitas maupun olahraga menaiki sebuah alat tranportasi tanpa mesin yang dinamakan sepeda.

Banyak kota-kota di Indonesia tiba-tiba ramai oleh orang-orang bersepeda. Toko-toko sepeda sampai kewalahan melayani karena stok barang selalu habis, tidak jarang sampai memberlakukan sistem pre-order karena minimnya stok.

Ada banyak jenis sepeda yang menjamur di masyrakat, sebut saja MTB, sepeda balap (road bike), sepeda lipat, bahkan tipe cross/trail. Dibalik menjamurnya tren sepeda, ternyata ada salah satu tren sepeda jenis baru yaitu “Minion”. Ya minion.

Salah satu jenis sepeda berframe tunggal yang muncul abad 19 akhir dengan model sepeda wanita ini memang sedang diminati. Selain karena unik juga sepeda ini sebenarnya tergolong antik. Dilihat dari tahun diluncurkannya saja tentu akan sulit mendapatkan sepeda jenis ini dengan kondisi layak di tahun sekarang, apalagi dalam kondisi baru.

Pada akhirnya orang yang ingin memilikinya harus menyervisnya agar sepeda tersebut layak dipakai. Bahkan di kalangan pemuda, sepeda tersebut diubah dengan mengambil kerangkanya (frame) saja.

Lantas sepeda tersebut diupgrade mulai dari mengganti ban, velg, mengecat ulang, hingga penambahan group set. Tentu biaya yang dibutuhkan beragam, tergantung dari jenis dan merk  komponen yang dipakai. Dari yang mulai harga dari ratusan ribu hingga jutaan.
 
Banyak orang tidak menyiakan peluang yang ada, termasuk tetangga saya. Ia pun lantas membuka  jasa daur ulang sepeda minion tersebut di rumahnya. "Bahan", begitulah khalayak ramai menyebut nama kerangka sepeda tersebut jika sedang mencarinya.

Bahan yang yg dijual pun didapat mayoritas dari daerah pesisir pantai utara Jawa Tengah, seperti Purwodadi, Gerobogan, Pati dan sekitarnya. Karena untuk di Kota Solo sendiri  sulit dicari, kalaupun ada tentu dengan harga berlipat yang akan nenghasilkan keuntungan sedikit jika untuk dijual lagi.

Banyak orang memesan mulai dari kerangkanya saja sampai memesan dalam bentuk siap pakai. Dalam hal penjualan tidak hanya offline saja, tapi sudah merambah ke laman online. Saya pun ditawari untuk diiajak membantu dalam melaksankan pekerjaannya.

Tentu saya tidak akan menyiakan kesempatan ini. Karena selain menambah uang jajan, saya juga dapat mengisi waktu luang sembari menunggu hasil pengumuman penerimaan mahasiswa baru.
 
Semua yang terjadi di dunia ini ternyata ada sisi positif dan negatif. Tapi tidak seperti sisi negatif yang muncul dengan cepat dipikiran kita. Sisi positif ini agaknya perlu dicari dengan lebih berfikirakeras dalam menggalinya.

Intinya kita sebegai generasi muda harus sekreatif mungkin dalam berinovasi. Jadikan hal yang dianggap jelek sekalipun di sekitar kita untuk diubah oleh mindset kita menjadi hal yang baik. Bukan tidak mungkin akan memberikan manfaat secara lahiriyah, tapi jasmaniyah pun bisa juga merasakan manfaatnya.