Tahun Depan Daya Saing Kita Wajib Melompat

Potret Ekonomi Indonesia (Sumber : Bisnis.com)

Potret Ekonomi Indonesia (Sumber : Bisnis.com)

Negara dan perbandingan jumlah wirausaha sebuah negara linear dengan kemajuan negara tersebut. Semakin banyak persentase wirausaha di sebuah negara, semakin maju negara tersebut.

Seperti Indonesia yang belum bisa keluar dari predikat negara berkembang memiliki rasio wirausaha dibandingkan jumlah penduduk sebesar 3,1%.  Padahal negara-negara maju memiliki nilai rasio sebesar 14%. Bahkan, kita kalah dengan Malaysia yang memiliki rasio 5%. 

Satu lagi ciri negara maju adalah keunggulan prestasi olahraga. Coba perhatikan perolehan medali emas Olimpiade yang didominasi oleh Amerika Serikat, China, Rusia dan negara-negara Eropa. Tentu saja rasio medali dan jumlah penduduk suatu negara juga harus diperhitingkan. 

Coba tengok pula, penguasa Asian Games yang berpindah dari Jepang ke China. Bukankah kita menyaksikan sendiri produk China benar-benar telah mulai menggusur berbagai produk Jepang? 

Coba kita tengok pula penguasa Sea Games. Indonesia pernah mendominasi Sea Games selama periode 1977 - 1997. Dalam 20 tahun itu, kita juara 9 kali, hanya terlepas 2 kali diambil alih oleh Thailand. Setelah 1997, Indonesia tenggelam dan hanya berhasil juara sekali. Itupun karena Sea Games 2011 digelar di Jakarta dan Palembang. Ada faktor tuan rumah. 

Uniknya bukan hanya Thailand, namun Malaysia, Filiphina dan Vietnam bergantian menjuarai Sea Games. Kita lihat pula negara-negara tersebut adalah pesaing utama Indonesia sebagai negara pilihan investor. Jokowi pernah marah-marah, China lebih memilih membangun pabrik ponselnya di Vietnam. 

Olahraga adalah simbol dari indeks kedisiplinan dan  kerja keras suatu bangsa. Jika kita lihat keseluruhan perolehan medali Sea Gamea sepanjang massa, Thailand telah mengkoleksi lebih dari 2000 medali emas, Indonesia menuju 2000, sedangkan Malaysia sangat produktif menambah medali di beberapa Sea Games terakhir.

Tingkat kedisiplinan dan kerja keras inilah yang menjadi tingkat saya saing. Artinya, setelah reformasi (1997-1998) kita mengalami penurunan daya saing di tingkat Asia Tenggara. Boleh jadi, tingkat kedisiplinan dan kerja keras kita meningkat. Namun, beberapa negara tetangga mengalami lompatan-lompatan, bukan hanya kenaikan. 

Resesi ekonomi 1998 telah membuat Malaysia, Vietnam dan Filiphina jauh lebih kuat. Mereka mampu belajar dari krisis melebihi kita. Dulu mereka yang tertinggal dari kita, telah berhasil sejajar, dan sesekali berhasil menyalib. Apakah hal yang sama akan terjadi setelah pandemi dan resesi ini berakhir?

Hal menarik lainnya adalah Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Filiphina sepakat memberlakukan lockdown dalam upaya memutus mata rantai covid-19. Sedangkan, Indonesia memilih melakukan karantina wilayah setengah hati bernama PSBB (Pembatasan Sosia Berskala Besar).

Alasannya jelas, agar ekonomi tetap berputar walaupun leih pelan. Seperti dikatakan Presiden Jokowi andaikan dulu kita mengambil kebijakan karantina wilayah, maka ekonomi Indonesia hari ini minus 17%.

Apakah ekonomi Malaysia hari ini minus 17%? Tidak. Ekonomi para juara Asian Games itu relatif sama, yaitu mengalami kontraksi di kisaran 5%. Tentu saja kita tunggu di triwulan III ini. Siapakah yang jatuh dan siapakah yang lebih tangguh. Ataukah perlombaan menghindari resesi itu berakhir seri? Semuanya selamat atau sama-sama terjatuh. 

Jika seri, maka ekonomi Thailad, Malaysia, Filiphina, dan Vietnam terlihat lebih tangguh dibandingkan Indonesia. Lock Down dan PSBB efeknya sama saja. Padahal pemerintah kita ketakutan setengah mati mengambil kebijakan karantina wilayah.

Jangan-jangan karena pilihan PSBB dan kita sekarang paling kewalahan dengan angka pertambahan kasus covid-19, menjadikan posisi kita hari ini paling sulit dalam mengambil kebijakan pemulihan ekonomi. 

Seperti kata pelatih timnas Shih Tae Yong, problem timnas adalah stamina. Nah, apakah ujian bernama pandemi covid-19 ini akan meningkatkan stamina kita untuk bekerja lebih keras? Ataukah jadi momen Malaysia benar-benar menyalib kita?

Untuk mengejar Malaysia kita butuh lebih dari 4 juta wirausaha baru.  Belum lagi perlombaan dengan Vietnam sebagai negara tujuan utama investasi. Maka tugas berat kita adalah apa yang kita kerjakan selama masa pandemi ini.

Benarkah kia belajar dan mempersiapkan diri? Ataukah kita hanya menunggunya berlalu di tahun depan? Kemudian kita bangkit dengan kenormalan lama. Bukankah seharusnya kita  menjadi manusia baru yang mengalami peningkatan kapasitas berlipat?

Tahun depan, apakah KONI sudah menemukan cara menjadi runner-up Sea Games 2021? Tahun depan sudahkah pemerintah menemukan satu cara baru 'doktrinasi' wirausaha di sekolah dan kampus? Sudahkah tahun depan setiap kita menemukan satu cara baru menghasilkan uang tambahan?

Jika tidak, sia-sia Presiden Jokowi memberi nama kabinetnya dengan Kabinet Kerja dan Kabinet Indonesia Maju. 

Sebab, satu dasa warsa yang lalu kita pernah membuat kesalahan dengan berusaha  meningkatkan rasio SMK berbanding SMA menjadi 2 : 1, yang sebelumnya 3 : 7.  Dengan argumen, SMK lebih siap kerja. SMK tumbuh subur, tetapi kembali menciptakan problem penganguran. Benar kita butuh tenaga terampil, tetapi ketersediaan tenaga terampil itu menjadi sia-sia tanpa adanya lapangan pekerjaan baru. 

Pertanyaanya dari manakah mentalitas wirausaha itu terbentuk? Jika sekolah tidak mampu membentuknya, lalu apakah kontribusi sekolah untuk Indonesia Maju? Indonesia Maju membutuhkan 36 juta wirausaha, sedangkan kita baru memiliki 8 juta. Kita masih butuh hampir 30 juta wirausaha. 

Seperti nasehat Paulo Freire, pendidikan yang hanya menghasilkan kelas pekerja adalah pendidikan model penjajah. Pendidikan yang menghaslkan mentalitas mandiri, disiplin dan kerja keras jauh lebih kita butuhkan. Di masa krisis ini, sudahkan seluruh elemen bangsa ini merenungkannya?