Begini Trik Berinvestasi di Tengah Resesi

Think - Canva

Think - Canva

Like

Kata “resesi” seringkali bikin banyak orang jadi merasa was-was. Resesi merupakan suatu periode penurunan ekonomi sementara dari suatu negara.

Adapun, hal itu bisa terlihat dari penurunan Produk Domestik Bruto (PDB). Dengan kata lain, resesi terjadi akibat adanya aktivitas ekonomi yang lesu.

Dilansir dari laman Bisnis, Head of Market Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menilai kalau investor pada dasarnya enggak punya banyak pilihan karena ketidakpastian sangat tinggi di tengah situasi saat ini.

Meski begitu, haruskah kita takut untuk berinvestasi di saat resesi?

Daripada kamu galau, ini trik berinvestasi yang bisa kamu lakukan di tengah resesi.


Baca Juga: Jangan Gegabah, Simak Tips Ini saat Kamu Bingung Berinvestasi
 

Tentukan Profil Risiko, Jangka Waktu, dan Tujuan Investasi

Sebelum mulai investasi, kamu perlu untuk tahu profil risiko yang dimiliki. Dengan begitu, kamu akan mudah untuk menentukan jenis instrumen investasi yang sesuai sama diri kamu.

Setelah itu, tentukan jangka waktu dan tujuan investasi. Hal ini sebenarnya bisa dilakukan bersamaan saat menentukan profil risiko.

Jadi, sebelum kamu berinvestasi, sebaiknya kamu ketahui dulu seberapa lama investasi yang akan dilakukan dan dana dari hasil investasi tersebut akan digunakan untuk apa saja.
 

Pilih Instrumen yang Minim Risiko

Menurut Wawan, instrumen investasi yang cenderung minim risiko tetap menarik lho! Misalnya, kamu bisa berinvestasi pada surat utang yang diterbitkan sama pemerintah.

Soalnya, surat utang negara nyaris nihil risiko. Bahkan, kamu bisa mendapatkan imbal hasil yang tetap (fixed rate).

Sedangkan untuk kamu yang lebih suka di pasar saham, tapi masih tergolong konservatif, kamu bisa pilih saham-saham blue chip yang memiliki tingkat volatilitas harga yang tergolong rendah. 

Untuk investor moderat, kamu bisa diversifikasi aset antara aset aman dan aset berisiko, atau bahkan memilih reksa dana campuran. Sementara itu, untuk investor agresif, kamu juga bisa susun portofolio dari berbagai jenis instrumen berisiko dengan melakukan sejumlah pengukuran terlebih dahulu.

Baca Juga: Berburu Investasi ala Milenial di Tengah Pandemi
 

Tetap Alokasi Aset (Diversifikasi)

Meski begitu, kamu juga tetap perlu untuk mengalokasi aset, atau istilahnya, melakukan diversifikasi investasi. Jadi, kamu juga perlu untuk berinvestasi pada instrumen atau aset lainnya.

Ibaratnya nih, jangan pernah meletakkan semua telur dalam satu keranjang. Hal ini untuk menjaga volatilitas tetap rendah dalam berinvestasi.

Enggak cuma itu, diversifikasi portofolio dapat mengkompensasi ketika kelas aset yang satu sedang melemah tetapi kelas aset lainnya menguat.

Nah di tengah resesi, Wawan menyarankan, kamu bisa menjalankan skema investasi 5-3-2, yaitu:
  • 50 persen pada instrumen berbasis pendapatan tetap
  • 30 persen pada instrumen pasar uang, dan
  • 20 persen pada saham.

Adapun, penempatan lebih banyak di instrumen pendapatan tetap khususnya obligasi pemerintah disebut Wawan menjadi pilihan yang paling tepat pada masa resesi. Sementara itu, untuk ekuitas, saham sektor perbankan bisa kamu jadikan opsi di tengah volatilitas pasar.