BEI: Investor Ritel Mulai Tinggalkan Saham Gorengan untuk Beralih ke Blue Chip!

Invesment - Canva

Invesment - Canva


Saham yang punya volatilitas tinggi atau harganya naik tinggi dengan sangat cepat mungkin kelihatannya sangat menarik untuk dikoleksi. Namun, dibalik volatilitas yang meroket itu, sering kali dipicu adanya modus “saham gorengan”.

Buat kamu yang belum tahu, “saham gorengan” merupakan sebuah istilah yang dipakai untuk menggambarkan saham dengan kualitas biasa aja, yang sebenarnya telah direkayasa kinerja sahamnya oleh sejumlah pihak buat mengeruk cuan secara instan atau jangka pendek.

Sebenarnya sih, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah punya panduan untuk investor supaya enggak gampang terjebak dalam “saham gorengan”. Panduan tersebut antara lain:
  • Melalui unusual market activity (UMA)
  • Para broker atau trading online bakal didorong untuk mengimplementasikan notifikasi khusus pada emiten yang diperdagangkan.

Namun, ternyata kini pola investasi para investor ritel sudah mulai berubah nih, Be-emers. Hal itu dipicu oleh peningkatan kesadaran dalam berinvestasi di pasar modal.

Menurut Direktur Perdagangan dan Penilaian Anggota Bursa PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Laksono Widodo, dikutip dari laman Bisnis, pihaknya telah melihat adanya perubahan pola investasi yang dilakukan oleh para investor ritel.

Soalnya, diketahui sebelumnya, investor ritel lebih banyak menaruh modalnya pada saham-saham kecil dan dengan valuasi yang enggak begitu besar, alias saham yang terindikasi sebagai “saham gorengan”.


Namun, sekarang hal itu sudah terbalik. Kini investor ritel justru cenderung mengincar saham-saham blue chip atau saham unggulan di bursa Indonesia. Adapun, saham-saham tersebut merupakan saham dari emiten penghuni indeks LQ45 atau IDX30.

Selain itu, Laksono menilai kalau kini investor ritel lebih memikirkan tata kelola perusahaan dan kondisi fundamental perusahaan agar tingkat volatilitas dalam investasinya berkurang.

Baca Juga: Apa Itu Saham Gorengan?
 

Literasi Investasi Semakin Baik

Sementara itu, bagi Laksono, hal tersebut rupanya jadi penanda semakin membaiknya literasi masyarakat dalam berinvestasi di pasar modal lho!

Untuk itu, pihak BEI pun pun bakal terus berupaya mengadakan program pelatihan dan seminar terkait investasi guna meningkatkan minat masyarakat untuk berinvestasi, khususnya di pasar modal.

Adapun, sejak 2017,  jumlah investasi yang dilakukan dari sektor ritel terus menunjukkan tren kenaikan! Bahkan, saat pandemi Covid-19 melanda, 51 persen investor ritel mendominasi rata-rata perdagangan harian senilai Rp6,3 triliun hingga September 2020.

Kenaikan tersebut juga terjadi seiring adanya tingkat suku bunga acuan di Indonesia yang terbilang rendah dan pola masyarakat yang enggak melakukan pengeluaran konsumtif. Alhasil, masyarakat cenderung punya kas berlebih, sehingga mencari alternatif investasi supaya dapat return yang optimal deh.

Baca Juga: Aksi Goreng Saham Sudah Berkurang? Ini Buktinya