Manusia Modern, Manusia Sadar Menabung

Manusia tak layak mengaku modern jika tak menabung (Sumber Gambar: Dokumentasi Pribadi)

Manusia tak layak mengaku modern jika tak menabung (Sumber Gambar: Dokumentasi Pribadi)

Like

Manusia modern, manusia sadar menabung. Kedua frase yang disandingkan bersama ini mungkin akan membingungkan, menggelitik, atau menyentak sebagian orang. Sejumlah pertanyaan dipastikan kemudian mencuat.

Apakah manusia yang mengaku modern harus sadar menabung? Apakah aspek-aspek modernitas bersesuaian dengan kegiatan menabung dan segenap keberadaannya?
 
Bagaimanakah karakteristik manusia modern? Untuk menjawabnya, dapat dirujuk pendapat para ilmuwan sosial.

Alex Inkeles mengemukakan bahwa manusia modern memiliki rencana jangka panjang. Mereka selalu merencanakan segala sesuatu di masa depan serta mengetahui apa yang akan mereka capai pada bertahun-tahun mendatang.

Menyisihkan sebagian pendapatan, mengurangi pengeluaran, maupun menunda konsumsi agar dapat menabung, sejatinya merupakan wujud perencanaan untuk mempersiapkan masa depan serta memenuhi kebutuhan atau keinginan pada suatu hari kelak.

Maka, menabung jelas amat sesuai bagi kehidupan manusia modern, terlebih saldo di bank kini dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan paling banyak sebesar Rp2 miliar untuk setiap nasabah pada satu bank. Jadi, tak perlu cemas tabungan lenyap hingga membuyarkan perencanaan.


Manusia modern ditandai pula oleh bertumbuhnya kemandirian (privatization). Manusia-manusia modern memandang campur tangan dari pihak luar terhadap masalah ataupun urusan pribadinya sebagai sesuatu yang sama sekali tidak dapat diterima.

Kecenderungan privatization sejatinya dapat diwadahi oleh kegiatan menabung di bank yang dilindungi oleh aturan kerahasiaan. Bank wajib merahasiakan keterangan mengenai nasabah penyimpan dan simpanannya, kecuali untuk keperluan perpajakan, penyelesaian piutang bank, kepentingan peradilan dalam perkara pidana, kasus perdata antar bank dengan nasabahnya, maupun hal lain yang diatur oleh peraturan perundang-undangan.

Manusia modern tak luput mengalami gejala modernisasi berupa sekularisasi, yakni proses dimana keyakinan tradisional akan digantikan gagasan dan aturan yang disahkan oleh argumen logis serta pertimbangan duniawi. Dalam konteks sekularisasi, menabung jelas sesuai logika sebab memberikan manfaat bagi kehidupan manusia di dunia.

Selain wujud perencanaan, menabung juga diyakini menumbuhkan manajemen diri yang kokoh agar lebih bijak mengelola keuangan, menghindari hidup berlebihan atau boros, serta membiasakan terampil berpikir antisipatif terhadap keadaan tidak terduga.

Manusia modern pun menghadapi homogenisasi, yaitu terbentuknya kecenderungan dan struktur yang relatif menyerupai negara-negara maju. Di sini, pentingnya sadar menabung bagi manusia modern sesungguhnya dapat dikaitkan dengan kenyataan di sejumlah negara maju.

Sejumlah penelitian mengungkap bahwa warga di negara-negara maju, segera setelah menerima gaji, akan langsung mengalokasikannya untuk tabungan serta investasi. Survei Barclays Bank (2013), misalnya, menemukan betapa rata-rata warga Singapura menempatkan 61 persen dari kekayaannya dalam bentuk tabungan di bank maupun investasi pada pasar modal.

Warga Singapura bahkan dipaksa mengikuti program tabungan wajib yang disebut ‘Central Provident Fund’ dengan tingkat pengembalian tinggi. Adapun, Bureau of Labor Statistics (2018) mengemukakan hanya 10,3 persen warga Amerika Serikat yang tidak memiliki tabungan.

Jepang, sebagai salah satu negara maju di Asia Timur, tak ubahnya. Irianti (2014) menyebut bahwa warga Jepang memiliki tabungan dengan nilai tertinggi kedua di dunia, setelah Italia. Jauh sejak masa kolonialisme dulu, Jepang sebenarnya telah mulai mempropagandakan anjuran untuk berhemat dan menabung guna mendukung kepentingan perang.

Pada negara-negara jajahannya, Jepang menggiring warga agar menyisihkan uang yang mereka miliki dan mau mempercayakannya kepada lembaga-lembaga keuangan (perkumpulan menabung). Maka, jika manusia modern bertekad mengadopsi gaya hidup warga negara maju, hendaknya jangan lalai meniru kebiasaan menabung yang mereka miliki.

Karakteristik lain dari manusia modern adalah ekonomisme. Seluruh aspek kehidupan sosial manusia modern lazimnya memang didominasi oleh aktivitas ekonomi, tujuan ekonomi, kriteria ekonomi, maupun prestasi ekonomi.

Maka, menabung di bank sebagai lembaga intermediasi jelas relevan dengan aspek modernitas tadi karena akan menyokong sektor perekonomian. Tingginya nilai tabungan menunjukkan bahwa bank berhasil serta dipercaya menjalankan fungsi menghimpun dana (deposit collection) dari masyarakat.

Dengan demikian, bank dipastikan mampu menyalurkan dana (loan underwriting) kepada unit-unit ekonomi yang membutuhkan. Pada akhirnya, dunia usaha dapat melakukan investasi serta produksi dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi.

Pajak yang diperoleh dari berbagai sumber, termasuk tabungan, pun kian mendominasi pendapatan negara selama tiga tahun terakhir, yakni dari 68,76 persen (2016), meningkat menjadi 71,52 persen  (2017), hingga mencapai 73,14 persen (2018).

Penggunaan pajak, menurut Penjelasan Pasal 11 (5) UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, adalah untuk menyelenggarakan fungsi pelayanan umum, pertahanan, ketertiban dan keamanan, ekonomi, lingkungan hidup, perumahan dan fasilitas umum, kesehatan, pariwisata, budaya, agama, pendidikan, serta perlindungan sosial. Oleh karenanya, menabung di bank sama saja artinya dengan memberikan dukungan kepada pemerintah agar mampu melayani dan menyejahterakan warganya.

Manusia modern juga dikenal memiliki orientasi mobilitas dan ambisi hidup yang tinggi. Mobilitas sosial menuju peningkatan taraf kehidupan hanya mungkin dicapai bila memiliki tabungan. Mengapa demikian?

Jawabannya, karena tabungan dapat dimanfaatkan untuk berinvestasi maupun modal berwirausaha. Dalam investasi tentunya dibutuhkan pemahaman memadai mengenai instrumen yang tepat serta menguntungkan, seperti investasi bitcoin atau aset kripto melalui Tokocrypto.

Sementara jika memilih berwirausaha memanfaatkan tabungan sebagai modal, haruslah jeli mencermati bahan baku yang berlimpah dan bisa diperoleh dengan harga rendah atau cuma-cuma, teliti mengolahnya agar menjadi produk yang sesuai tren ataupun kebutuhan masyarakat, sekaligus piawai membidik konsumen agar menjadi pengguna loyal dari produk yang dihasilkan. Hanya dengan demikian tabungan akan semakin membengkak oleh laba dan bukannya malah terkuras akibat beban kerugian.  

Manusia modern percaya terhadap ilmu pengetahuan, termasuk percaya pada kemampuannya untuk menundukkan alam semesta. Manusia modern menyukai kegiatan-kegiatan yang memperluas pengetahuan juga wawasannya.

Terkait aspek tersebut, kegiatan menabung dijamin akan memuaskan ’dahaga’ manusia modern. Sebab, didukung kegiatan literasi keuangan yang dilakukan oleh berbagai pihak agar nasabah yang semula hanya ’less literate’ (hanya memiliki pengetahuan tentang lembaga jasa keuangan, produk, dan jasa keuangan) atau ’sufficient literate’ (memiliki pengetahuan dan keyakinan tentang lembaga jasa keuangan serta produk dan jasa keuangan, termasuk fitur, manfaat, risiko, hak, dan kewajiban terkait produk dan jasa keuangan) dapat bertumbuh menjadi ’well literate’ (memiliki pengetahuan dan keyakinan tentang lembaga jasa keuangan serta produk jasa keuangan, termasuk fitur, manfaat, risiko, hak, dan kewajiban terkait produk dan jasa keuangan; serta memiliki keterampilan dalam menggunakan produk dan jasa keuangan).

Manusia modern yang ’well literate’ diyakini akan mampu memanfaatkan berbagai instrumen, termasuk investasi bitcoin atau aset kripto, secara maksimal guna menghasilkan cuan berlimpah. Untuk itu, Tokocrypto layak dijadikan pilihan sebab mengusung misi menjadi exchange terdepan di Asia Tenggara bagi aset digital melalui penyediaan platform yang mudah, simpel, instan, dan aman kepada konsumen untuk melakukan transaksi dengan kepercayaan diri.

Manusia modern tak seharusnya berpuas diri dengan instrumen usang, melainkan mesti berani menggunakan instrumen kekinian yang menjanjikan keuntungan amat dahsyat.

Manusia modern memang harus sadar dan giat menabung. Jika tidak menabung, maka manusia tak layak mengaku modern. Hal ini karena menabung serta segenap keberadaannya terbukti modern dan sejalan dengan kehidupan masa kini.

Semoga dapat dijadikan inspirasi untuk mulai menabung atau semakin disiplin menabung. Mari menabung untuk diri, masyarakat, dan bangsa yang kuat, kokoh, juga maju! Mari menabung, lebih giat menabung, serta menularkan kesadaran menabung kepada sesama manusia modern!
 
#YoungCompetitionBisnisMuda #BisnisMuda #YangMudaYangCuan