Intip Gaya Menabung Masa Kini

Gaya Menabung Masa Kini

Gaya Menabung Masa Kini


Sejak kecil, kita mungkin sering mendengar pepatah "Hemat Pangkal Kaya." Nah, apakah itu masih relevan untuk kondisi sekarang ini?

Salah satu pesan, yang kerap kali ditanamkan orang tua kepada kita sejak dini adalah menabung. Kebiasaan menabung yang dikenal adalah menyisihkan sebagian uang jajan yang didapatkan saat mengenyam pendidikan di bangku sekolah.

Perkembangan teknologi saat ini, telah mengakselerasi berbagai aspek kehidupan kita sehari-hari. Mulai dari  kebutuhan  telekomunikasi, transportasi, sampai dengan kebutuhan berbelanja dan termasuk dalam urusan keuangan.

Dikutip dari data kominfo.go.id, per Januari 2021 pengguna internet di Indonesia telah mencapai 202,6 juta orang. Data tersebut juga menunjukkan potensi yang cukup besar bagi para pelaku industri jasa keuangan untuk dapat menghadirkan platform financial technology (fintech) yang dapat memberikan akses layanan keuangan lebih luas ke berbagai kalangan dengan akses internet yang terhubung pada gawai pintar.

Kini, gaya menabung juga telah berevolusi seiring dengan perkembangan teknologi. Misalnya, dahulu menabung masih di bawah bantal atau celengan, kemudian berkembang menabung di bank dan sekarang ini cukup dengan koneksi internet saja.


Menabung sudah dapat dilakukan melalui aplikasi atau platform fintech yang menawarkan beragam pilihan produk, mulai dari tabungan biasa, deposito, reksa dana, sampai yang terkini Surat Berharga Negara (SBN) ritel. Salah satu, produk yang serupa dengan tabungan deposito adalah reksa dana jenis pasar uang, dimana komposisi portfolionya adalah instrumen pasar uang, seperti deposito maupun obligasi yang jatuh temponya kurang dari 1 tahun.

Menabung di produk reksa dana pasar uang memiliki beragam keunggulan dibandingkan di tabungan biasa. Beberapa manfaat dari produk tersebut antara lain nilai minimum menabung yang lebih terjangkau, dapat dimulai dari Rp10,000, mendapatkan imbal hasil yang rata-rata di atas bunga tabungan biasa, hingga imbal hasil dari reksa dana yang diterima oleh investor dapat dinikmati secara lebih optimal karena tidak dikenakan pajak. Selain itu, yang menjadi daya tarik lainnya adalah fleksibilitas dari produk ini yang dapat dicairkan kapan saja.

Tak jarang, reksa dana pasar uang kini juga digandrungi para milenials dalam mempersiapkan dana darurat karena memiliki karakteristik yang cocok untuk memenuhi kebutuhan darurat. Misalnya, kondisi dimana harus memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah kondisi keuangan sedang mengalami penurunan penghasilan atau terpaksa harus kehilangan pekerjaan akibat pandemi Covid-19.

Terlepas dari keunggulan yang ditawarkan tersebut, investor juga perlu memahami bahwa menabung reksa dana pasar uang juga terdapat risiko, yaitu perubahan nilai aktiva bersih per unit yang mengikuti kondisi pasar.

Jalan- jalan ke kota Kembang
Beli baju baru yang lagi trendi
Yuk, Cermat mengelola Uang
Menabung Reksa Dana Pasar Uang

Baca Juga: Dinilai Lebih Stabil, Reksa Dana Pasar Uang Dominasi Kelolaan Fintech