Tren Pelemahan Saham Bank Raksasa: 5 Analisis tentang Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya

Ilustrasi Pelemahan Saham Bank (Sumber gambar: Okezone.com)

Ilustrasi Pelemahan Saham Bank (Sumber gambar: Okezone.com)

Like

Pasar modal Indonesia menyaksikan saham-saham bank raksasa, yang dikenal sebagai "the big four", mengalami pelemahan signifikan.

Fenomena ini berlanjut sejak awal pekan, di tengah tekanan jual yang dipicu oleh investor asing.

Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memimpin pelemahan dengan turun 3,79% menjadi Rp9.525 per saham.

Selain itu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) terdepresiasi sebesar 2,74%, disusul oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) masing-masing 1,81%, 0,88%.

Baca Juga: Debut Ahyeon BABYMONSTER Gemparkan Penggemar, Dongkrak Saham YG Entertainment!


Pelemahan ini juga tercermin dalam nilai transaksi yang mencapai Rp1,7 triliun untuk BBCA. Dalam rentang waktu seminggu, saham-saham tersebut menunjukkan penurunan yang signifikan: BBCA turun 5,22%, BBNI 10,50%, BMRI 5,57%, dan BBRI 10,71%.

Faktor yang menyebabkan pelemahan ini mencakup tekanan jual yang signifikan dari investor asing, serta berbagai faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi pasar modal Indonesia.



1. Penurunan Nilai Dividen dan Sentimen Dovish dari The Fed

Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap pelemahan saham bank raksasa adalah penurunan nilai dividen yang diterima oleh investor.

Sentimen dovish dari The Fed, yang mereda, juga berdampak pada pasar modal Indonesia.

Investor mulai menarik dananya dari saham-saham tertentu, termasuk bank-bank besar, untuk mencari peluang investasi yang lebih menguntungkan atau lebih aman di tempat lain.

Hal ini berdampak pada penurunan harga saham BBCA, BBNI, BMRI, dan BBRI.

Baca Juga: Melihat Aksi Jual Dominan: IHSG Tergelincir 1,75%, Sektor Transportasi Pimpin Pelemahan


 

2. Depresiasi Rupiah dan Data Inflasi yang Tinggi

Depresiasi rupiah terhadap dolar AS juga menjadi perhatian pasar. Rupiah terdepresiasi hingga mencapai level Rp15.900 per USD pada Rabu (3/4), terendah sejak Oktober-November tahun lalu. Selain itu, data inflasi yang tinggi juga mempengaruhi pasar modal.

Peningkatan indeks harga konsumen (IHK) dari 105,58 pada Februari 2024 menjadi 106,13 pada Maret 2024 menunjukkan adanya tekanan inflasi yang signifikan.

Kenaikan inflasi yang tinggi, terutama menjelang bulan suci Ramadhan, menimbulkan kekhawatiran atas dampaknya terhadap daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

Baca Juga: 10 Saham Terbesar yang Merosot di BEI: Penurunan Tajam dan Dampaknya pada Pasar