Euforia Vaksinasi Covid-19, Saham Sektor Farmasi Makin Diburu

Vaccine - Canva

Like

Hari ini (13/1), vaksinasi Covid-19 mulai dilakukan di Indonesia. Meski pelaksanaanya masih pro-kontra, hal ini tentunya jadi harapan baru untuk penanganan pandemi Covid-19.

Enggak hanya jadi angin segar untuk prospek kesehatan masyarakat, euforia vaksinasi juga mempengaruhi pasar modal lho, Be-emers.

Vaksinasi menjadi salah satu sentimen yang bikin laju bursa terus menguat. Sejak perdagangan Senin (11/1), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup menguat hingga 2 persen ke level 6.382,98!

Tepat di hari itu, izin penggunaan darurat untuk vaksin Covid-19 buatan Sinovac sudah dikeluarkan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

Sementara itu, sentimen vaksin Covid-19, tentunya juga membangkitkan saham-saham sektor farmasi nih, Be-emers. Bahkan, investor tampak terus memburu saham farmasi, meski secara valuasi, mayoritas saham sudah tergolong mahal lho.


Di perdagangan Selasa (12/1), mayoritas saham farmasi terpantau betah di zona hijau. Saham PT Indofarma Tbk. (INAF) menjadi yang paling kuat dengan berhasil mencatatkan kenaikan hingga 11,6 persen.

Kemudian, hal itu disusul oleh saham PT Pyridam Farma Tbk. (PYFA) (+10,45 persen) dan saham PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) (+8,14 persen).

Di sisi lain, saham IRRA malah sempat kena suspensi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Selasa (12/1) lalu. Hal itu disebabkan oleh penguatan saham IRRA yang dinilai enggak wajar (Unusual Market Activity/UMA).

Namun, di perdagangan hari ini, gembok IRRA sudah kembali dibuka. Sayangnya, hingga sesi pertama perdagangan bursa, saham IRRA malah anjlok hingga 6,76 persen ke level 3.450 nih, Be-emers.

Baca Juga: Pergerakan Saham IRRA di Luar Kebiasaan, BEI Peringatkan Investor
 

PER & PBV di Luar Batas

Menurut Analis PT Phillip Sekuritas Anugerah Zamzami, dikutip dari Bisnis, PER dan rasio price to Book Value (PBV) sejumlah saham farmasi sudah melambung tinggi dan di luar batas wajar.

Diketahui, sejumlah emiten farmasi telah memiliki price earnings ratio (PER) ratusan kali atau termasuk saham-saham dengan valuasi yang mahal. Misalnya saja INAF, yang berdasarkan data Bloomberg, memiliki PER di level 899,93 kali dan IRRA diposisi 178,29 kali.

Kalau dilihat dari rasio tersebut, ia menilai kalau saham farmasi tersebut jauh lebih mahal dari sejumlah saham big caps, yang notabene biasa dihargai premium.

Di satu sisi, Kepala Riset NH Korindo Sekuritas Indonesia Anggaraksa Arismunandar mengatakan, valuasi beberapa saham farmasi, terutama saham BUMN farmasi, sudah masuk kategori premium. 

Padahal, sebelum pandemi, likuiditas saham farmasi justru enggak terlalu tinggi. Sehingga, arus dana atau kenaikan volume yang signifikan sangat berpengaruh ke pergerakan harga.

Untuk itu, Zamzami memperingatkan investor terkait adanya potensi koreksi dari pergerakan saham sektor itu. Soalnya, kenaikan harga yang terjadi juga belum disertai dengan adanya perubahan fundamental.

Baca Juga: Cek Fakta: Benar Enggak Sih Vaksin Covid-19 Sinovac Disebut Paling Lemah dalam Respon Imun?