Ciri Toxic Positivity: Sisi Gelap Harus Selalu Berpikir Positif

Toxic Positivity. (Ilustrasi: Canva)

Like

Berpikiran positif atau memiliki positive mind menjadi sesuatu yang selalu dianggap baik bagi banyak orang. Namun ternyata selalu berpikiran positif dapat mengarah pada toxic positivity, seperti apa?

Ketika menghadapi suatu masalah banyak orang yang menyarankan agar lihat sisi positifnya saja. Hal tersebut tidak sepenuhnya salah, namun bukan berarti benar dan harus diikuti juga. 

Terkadang untuk memahami apa yang sedang dirasakan kita harus bisa menerima hal-hal negatif yang membuat kita merasakan perasaan-perasaan yang membuat tidak nyaman. 

Hal tersebut tidak dapat dilakukan jika kita hanya melihat sisi positif saja. Keadaan mengabaikan permasalahan atau sisi negatif dari suatu hal dan hanya mau melihat sisi positif dapat menuntun pada toxic positivity.
 

Apa Itu Toxic Positivity

 
Dilansir dari thepsychologygroup.com, toxic positivity adalah keadaan dimana seseorang berlebihan dan selalu berusaha menunjukan perasaan senang, bahagia, dan optimis di segala situasi. 


Proses toxic positivity ini menghasilkan denial atau penolakan, perasaan yang tidak tervalidasi, dan membuat orang jadi merasa kecil karena segala pengalaman dan perasaannya tidak diolah dengan baik.

Baca Juga: Selamatkan Keuangan Kamu, Ini Cara Menghindar dari Teman yang Toxic 

Seperti segala sesuatu yang berlebihan lainnya, saat positif digunakan untuk menutupi atau membungkam perasaan dan pengalaman seseorang akan suatu hal, ini akan menjadi beracun atau toxic. 

Dengan memblokade kehadiran perasaan-perasaan tertentu, orang akan terjebak dalam fase penolakan dan perasaan-perasaan yang direpresi. 

Padahal sangat wajar jika seorang manusia mengalami perasaan sedih, tidak mampu, dan perasaan yang dianggap rapuh lainnya. Menutupi dengan selalu berpikiran positif akan membuat kita jadi pribadi yang kecil dan selalu menolak perasaan yang dialami. 

Situs psikologi lainnya, verywellmind, menyebutkan toxic positivity sebagai kepercayaan bahwa kita harus mempertahankan positive mindset dan melihat semua hal dari kacamata positif apapun situasi dan kondisinya. 

Toxic positivity menolak semua perasaan agar tetap menjadi orang yang ceria dan menebarkan aura positif. Padahal hidup diibaratkan roller coaster yang naik turun tidak selalu positif.

Baca Juga: Apa Itu Toxic Positivity dan Dampaknya Bagi Kesehatan?
 

Ciri Toxic Positivity


Mungkin saja selama ini secara tidak sadar kamu telah mengaplikasikan toxic positivity dalam kehidupanmu jika merasa melakukan tanda-tanda ini. 
 

1. Menyembunyikan Perasaan yang Sebenarnya


Saat merasa marah atau sedih akan suatu keadaan tapi memilih untuk menutupinya dan menunjukan keceriaan saja, bisa jadi kamu sudah masuk ke dalam toxic positivity.
 

2. Merasa Bersalah Memiliki Perasaan Tertentu


Saat merasa marah atau sedih akan suatu keadaan, tiba-tiba kamu merasa bersalah sudah memiliki perasaan tersebut dan langsung menutupinya dengan perasaan positif lain. Perasaan bersalah tersebut adalah bentuk dari toxic positivity.
 

3. Mengecilkan Perasaan Orang Lain


Setiap orang bisa merasakan bermacam-macam perasaan dan tiap perasaan itu valid. Orang dengan toxic positivity biasanya mengecilkan perasaan orang lain dengan mengirimkan kutipan-kutipan positif yang menurutnya akan membuat perasaan lebih baik.

Baca Juga: Toxic Relationship with Money, Apa Saja Itu?


4. Selalu Memberikan Perspektif Lain


Memberikan perspektif lain adalah hal yang baik, selama tidak dilakukan secara berlebihan dan mengabaikan perasaan yang ada. 

Namun, jika seseorang selalu memberikan perspektif lain dengan dalih harus berpikir positif karena bisa saja terjadi hal lebih buruk tanpa memvalidasi perasaan orang lain, itu adalah tanda toxic positivity.
 

5. Mengabaikan Hal Mengganggu


Dalam aktivitas sehari-hari pasti ada hal-hal yang mengganggu dan memberikan perasaan-perasaan tertentu. Toxic positivity akan mengabaikan hal tersebut dan menganggap angin lalu dengan dalih “ya memang begini adanya”.

Mau tulisanmu dimuat juga di Bisnis Muda? Kamu juga bisa tulis pengalamanmu terkait investasi, wirausaha, keuangan, hingga lifestyle di Bisnis Muda dengan klik “Mulai Menulis”.

Submit artikelnya, kumpulkan poinnya, dan dapatkan hadiahnya!

Gabung juga yuk di komunitas Telegram kami! Klik di sini untuk bergabung.