Sehat Jasmani, Rohani, dan Ekonomi di Masa Pandemi, Cukup dengan Lakukan Hobi!

Mari mengubah hobi menjadi penghasilan. (Sumber gambar: Freepik dengan pengubahan)

Mari mengubah hobi menjadi penghasilan. (Sumber gambar: Freepik dengan pengubahan)

Kabarku, Kabarmu, Kabar Dunia
Bagaimana kabar teman-teman? Apa semua sehat? Saya harap kalian baik-baik saja, ya. Beberapa bulan terakhir ini, dunia sedang dilanda oleh Covid-19 (novel coronavirus-2019) atau yang disebut juga dengan virus corona. Meskipun sudah ada sejak akhir 2019, barulah pada awal tahun 2020 hingga saat ini virus tersebut menyebar ke seluruh penjuru dunia.
 

Covid-19 (sumber gambar: https://www.ktla.org/userassets/KS/KS/userimages/corona-4930541_1920 CC0.jpg)

Covid-19 (sumber gambar: https://www.ktla.org/userassets/KS/KS/userimages/corona-4930541_1920 CC0.jpg)

Virus ini membuat gempar dunia. Bukan hanya karena berhasil menginfeksi 19,8 juta jiwa di seluruh dunia, melainkan juga karena keberadaannya berhasil mengacaukan perekonomian dunia. Kecil-kecil cabe rawit, dampak Covid-19 benar-benar dahsyat. Dilansir dari CNN Indonesia, tak kurang dari 3,06 juta pekerja di Indonesia bahkan harus dirumahkan akibat virus ini.

Berkaitan dengan Covid-19, bagaimana virus tersebut memengaruhi keseharian sobat? Saya harap sobat selain berada dalam kondisi kesehatan yang baik, juga masih bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Ada sedikit pengalaman yang ingin saya bagikan selama menghadapi pandemi ini.


Kemoterapi di Masa Pandemi
Meskipun saya baru berusia 20 tahun, nyatanya sejak tahun 2017 lalu saya sudah didiagnosis kanker darah. Akan tetapi, setelah mencoba berbagai pengobatan mulai dari pengobatan tradisional hingga jampi-jampi dukun yang super aneh, barulah saya melakukan kemoterapi sejak tahun 2019. Saya dikemoterapi selama kurang lebih setahun. Waktu yang cukup lama, bukan?

Awal tahun 2020 lalu, saat semua orang masih kurang aware dengan Covid-19 karena penyebarannya baru sebatas di daratan Tiongkok, saya sudah agak cemas. Bukannya apa, tetapi saya dikemoterapi di negeri tetangga. Selain melakukan kemoterapi, saya juga melakukan transplantasi tulang belakang yang prosedurnya tidak tersedia di Indonesia. Jadilah saya harus bolak-balik dari Pontianak, kota tempat saya tinggal, ke Kuala Lumpur.
 

Peta Pontianak ke Kuala Lumpur (sumber gambar: pinterest, dengan pengubahan)

Peta Pontianak ke Kuala Lumpur (sumber gambar: pinterest, dengan pengubahan)



Sejak Januari hingga April, tercatat setidaknya saya melakukan perjalanan lintas negara sebanyak 4 kali. Padahal, di rentang waktu tersebut, saya punya imunitas yang rendah dan rentan terkena virus akibat efek samping kemoterapi. Seperti yang dilansir dari Bisnis.com pada artikel berjudul Pedoman Pengobatan Pasien Kanker di Era New Normal, pasien kanker rentan terhadap virus Covid-19 karena kekebalan tubuh rendah.Untunglah proses pengobatan berjalan lancar. Saya pun sehat kembali dan bisa pulang ke Indonesia.

Kriteria Bahagia
Selain kesehatan jasmani, mental health merupakan hal penting yang harus kita miliki. Setelah pernah mengalami masa sulit menahan sakit bertahun-tahun, akhirnya saya terbebas dari rasa sakit jasmani yang membuat saya stres.

Sebenarnya, ada beberapa hal mengganjal yang saya rasakan di benak ini. Di saat orang-orang sepantaran saya sibuk kuliah, saya justru harus berhenti kuliah demi pengobatan, padahal saya termasuk mahasiswi berprestasi. Selain berhasil mengharumkan nama universitas saat baru masuk kuliah, saya juga pernah mendapatkan beasiswa penuh untuk kuliah sebanyak 3 kali yang sayangnya semua tak saya ambil. Saat melihat progress teman-teman saya yang sudah berkembang, sementara saya stuck karena sakit, perasaan saya tidak nyaman.
 

Saya (saat masih sehat) bersama teman dan rektor Universitas Tanjungpura. (sumber gambar: untan.ac.id)

Saya (saat masih sehat, keempat dari kanan) bersama teman dan rektor Universitas Tanjungpura. (sumber gambar: https://www.untan.ac.id/wp-content/uploads/2019/02/Rektor-Universitas-Tanjungpura-Apresiasi-Vivi-Yunika-Peringkat-3-IndonesiaNEXT-2018.jpg)


Pikiran-pikiran negatif tersebut harus diminimalisir demi kesehatan mental saya. Saya pun tak mau terlalu banyak ambil pusing soal ketertinggalan ini. Bukankah semua orang punya jalan hidupnya masing-masing? Saya tak mau membanding-bandingkan lagi. Saya memilih fokus dengan jalan hidup saya, fokus menata masa depan. Dengan begitu, saya bisa bahagia.

Gencar Berinovasi Agar Dompet Tetap Lancar
Kondisi ekonomi yang carut-marut memang menjadi dampak dahsyat yang ditimbulkan COVID-19 secara tak langsung. Saat ini, saya memang masih hidup di bawah ketiak orang tua. Semua hal masih ditanggung orang tua. Akan tetapi, saya sadar diri. Saya tak mau terus-menerus merepotkan mereka, apalagi orang tua sudah menggelontorkan dana habis-habisan untuk biaya pengobatan saya.

Untuk itulah, saya berusaha mencari penghasilan tambahan. Siapa bilang, kita tidak bisa berbuat apa-apa di masa pandemi? Saya justru bisa menambah pundi-pundi meskipun kondisi saya saat itu masih sedang dalam pengobatan kanker. Orang sakit saja bisa berkarya. Apalagi saat kondisi sehat?

Saya memanfaatkan waktu luang untuk kreatif di masa pandemi. Sobat juga bisa, loh, menghasilkan berbagai karya inovatif dengan biaya cukup murah. Kita hanya butuh internet (secara, saat ini itu everything from home, gitu loh). Selain itu, sobat hanya perlu mengandalkan integritas dalam menjalankan sesuatu serta melakukan hobi. Integritas ini dibutuhkan agar kita tidak plin-plan dan setengah-setengah dalam menjalani sesuatu. Sementara itu, hobi? Hm.... Apa yang bisa kita lakukan dengan itu?

Cara Menghasilkan Uang dari Hobi

1. Eksplor Hobimu!

Apa sih, yang sering sobat lakukan di kala ada waktu luang? Tentunya selain santai dan rebahan, ya. Kira-kira, apa kegiatan yang membuatmu senang saat melakukannya? Itulah yang bisa disimpulkan menjadi hobi sobat. Kalau saya sendiri, saya suka membaca novel, menonton film, menulis, dan menyanyi.

Terkadang, ada hobi yang bersifat konsumtif, tetapi ada juga yang bersifat produktif. Hobi konsumtif di sini bagi saya adalah menonton film dan membaca novel. Mengapa dikatakan konsumtif? Hal ini dikarenakan saya hanya melihat karya orang lain. Sebaliknya, saat menulis, saya menghasilkan sebuah karya. Begitu juga dengan menyanyi, artinya saya melatih kemampuan vokal (walau tak secara langsung menghasilkan sesuatu).
 

Mari mengetik. (sumber gambar: readandspell.com)

Mari mengetik. (sumber gambar: https://www.readandspell.com/sites/default/files//blog/TypingWIthoutLooking.jpg)

Hobi produktif ini bisa sobat kembangkan dan kelola dengan baik. Contohnya, karena saya suka menyanyi, saya seharusnya bisa ‘menjual’ kemampuan bernyanyi saya, misalnya dengan menjadi penyanyi cafe atau sekadar menjadi penyanyi di acara kondangan. Nyatanya, hal tersebut cukup sulit dilakukan. Maka dari itu, hingga saat ini saya masih memperdalam kemampuan bernyanyi dan memperluas jaringan di bidang tersebut.

Sebaliknya, menulis merupakan hobi murah dan mudah. Cukup duduk di rumah, saya sudah bisa berkarya. Untungnya saya sudah memiliki laptop sehingga setidaknya modal awal telah di tangan.

2. Perdalam Hobimu!
Melihat banyak peluang di bidang kepenulisan, saya pun mulai terjun ke dalamnya. Beruntung, sejak kecil saya sudah menyukai dunia tulis-menulis. Karena banyak membaca, paling tidak pengetahuan saya mengenai penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar cukup terasah. Sebagai bekal menulis, saya memang harus mempelajari penggunaan berbahasa yang benar. Selain itu, saya rajin membaca demi menambah kosakata.
 

Mari membaca! (sumber gambar: moneycrashers.com)

Mari membaca! (sumber gambar: https://www.moneycrashers.com/wp-content/uploads/2018/12/benefits-reading-books-1068x713.jpg

Hobi-hobi lain juga bisa sobat dalami, loh. Bermain game juga bisa menghasilkan. Saat ini, cukup banyak perlombaan gaming yang hadiahnya keren-keren dan tentunya seru untuk diikuti. Lebih baik, fokuslah pada satu hobimu dan dalami sepenuhnya.

3. Monetisasi Hobi untuk Menambah Pundi-Pundi
Saya rutin menulis dan mengikuti perlombaan artikel. Hasilnya? Sejak awal tahun hingga detik ini, saya berhasil memenangkan sepertiga dari lomba yang saya ikuti. Memang, nyatanya, saya masih sering kalah, tetapi saya legowo dan menjadikannya sebagai pembelajaran.

Hadiah hasil menang lomba saya simpan untuk biaya kontrol pengobatan kanker di masa mendatang. Saya sangat bersyukur hingga saat ini orang tua masih bisa bekerja, sehingga paling tidak keluarga masih punya pemasukan. Uang yang sedikit demi sedikit pun terkumpul.
 

Beberapa pencapaian saya selama berada dalam masa pengobatan kanker. (sumber gambar: dokumen pribadi)

Beberapa pencapaian saya selama berada dalam masa pengobatan kanker. (sumber gambar: dokumen pribadi)

Selain mengikuti lomba, saya juga menjadi penulis freelance. Besaran penghasilan dipengaruhi oleh berapa banyak job yang saya ambil. Masing-masing job pun memiliki nominal harga artikel yang berbeda-beda tergantung dengan kebutuhan dan kesepakatan.

Bagi sobat yang punya hobi memasak, bisa coba menjajakan makanan seperti snack hingga lunch box. Modalnya juga tak perlu mahal-mahal. Cukup gunakan sistem pre-order sehingga tidak rugi. Jika sobat bingung, bisa cek juga kreasi mi yang bisa membuat dompet bersemi.


Tip Mengatur Keuangan, Jangan Foya-Foya Sembarangan!

Penghasilan puluhan juta per bulan pun tiada guna jika ternyata pengeluaran mencapai ratusan juta. Seperti kata pepatah, jangan sampai lebih besar pasak daripada tiang. Oleh karena itu, kemampuan mengatur keuangan mutlak dibutuhkan. Ada beberapa tip yang bisa kita praktikkan bersama demi kesejahteraan dompet. Apa saja itu?

1. Batasi Diri Sendiri!
Sudah berapa gelas boba atau kopi yang kamu seruput selama seminggu terakhir ini? Satu? Dua? Atau bahkan hampir setiap hari? Banyak memang hal bersifat konsumtif yang sebenarnya dapat kita tekan supaya pengeluaran tidak membengkak. Bayangkan saja, segelas boba biasa dibanderol belasan hingga Rp30.000,00-an.
 

Pengandaian minum boba yang cukup ekstrem. (sumber gambar: dokumen pribadi)

Pengandaian minum boba yang cukup ekstrem. (sumber gambar: dokumen pribadi)

Anggap kita ambil tengahnya, yakni dua puluh ribu saja. Bila kita minum boba dua kali saja, kita sudah menghabiskan Rp40.000,00 per minggu. Totalkan pengeluaran per bulan, bisa mencapai Rp160.000,00. Kalikan dengan 12 bulan. Dalam setahun, pengeluaran untuk minum-minum cantik saja sudah membengkak hingga Rp1.920.000,00 atau setara hampir dua juta rupiah!

2. Rinci Pengeluaran Agar Tak Keteteran!

Kebutuhan pokok kita di masa pandemi tentu saja makanan dan biaya seperti kontrakan atau tempat indekos, air, hingga listrik. Sisihkan juga biaya bensin atau transportasi jika sobat masih harus pergi ke luar rumah. Selain itu, jangan lupakan juga kuota internet sebagai hal wajib supaya ktia bisa tetap terhubung dengan dunia luar.
 

Ayo tulis pengeluaran kita! (sumber gambar: quora)

Ayo tulis pengeluaran kita! (sumber gambar: https://qph.fs.quoracdn.net/main-qimg-7dc6ffd9d946e8641e6c4e327621d872.webp)

Rinci pengeluaran sedemikian rupa. Tekan pengeluaran sebisa mungkin. Katakanlah jika sobat biasanya menggunakan sabun cair untuk mandi, kali ini sobat bisa membeli sabun batang yang harganya lebih terjangkau. Apabila sering makan dan jajan di luar, kali ini coba berkreasi dengan masakan di rumah.

3. Hati Harus Dimantapkan, Mata Jangan Jelalatan!

Promo! Diskon! Cashback! Limited edition! Flash sale! Lima hal tersebut sama-sama punya tujuan serupa: membuat kita lapar mata, lalu ujung-ujungnya berbelanja. Sering termakan iklan marketing yang lihai?
 

Kalimat membius yang membuat kita ingin belanja. (sumber gambar: dokumen pribadi)

Kalimat membius yang membuat kita ingin belanja. (sumber gambar: dokumen pribadi)



Meskipun tergoda barang murah, nyatanya lama-kelamaan juga pengeluaran menjadi bukit. Periksa apakah hal tersebut merupakan kebutuhan atau hanya keinginan semata.

Bagaimana, sobat? Sudah siap mengeksplorasi diri dan menjadi lebih kreatif tanpa perlu terbatasi oleh kondisi? Sehat jasmani, sehat rohani, dan sehat ekonomi di masa pandemi, bukan hanya mimpi! Jalani hari-hari dengan sepenuh hati, jangan lupa beribadah. Hal yang terpenting, jangan berhenti mencoba!

Referensi:
https://lifestyle.bisnis.com/read/20200720/106/1268774/pedoman-pengobatan-pasien-kanker-di-era-new-normal
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200720114203-92-526610/pekerja-dirumahkan-dan-kena-phk-akibat-corona-capai-305-juta
https://www.untan.ac.id/rektor-universitas-tanjungpura-apresiasi-vivi-yunika-peringkat-3-indonesianext-2018/
https://www.medcom.id/nasional/peristiwa/nN9D2V9K-daftar-pemenang-osc-with-avitex-2017