Tren Staycation, Startup Travel Masih Belum Bisa Bangkit?

Staycation - Canva

Staycation - Canva

Sejak pandemi Covid-19, kesempatan kita untuk liburan ke berbagai tempat wisata jadi terbatas. Namun, banyak orang yang akhirnya beralih untuk melakukan “staycation” untuk melepas penat.

Staycation atau menghabiskan waktu liburan di tempat penginapan seperti hotel, villa, dan sebagainya, ternyata menjadi tren selama pandemi lho, Be-emers! Tren ini pun mulai diminati banyak orang sejak adanya pembatasan perjalanan internasional dan lokal.

Soalnya, staycation dinilai bisa memberikan suasana baru, meski enggak bisa jalan-jalan ke tempat wisata yang memungkinkan untuk ketemu dengan banyak orang.

Sayangnya, walaupun staycation lagi booming banget, hal itu rupanya belum bisa berdampak signifikan buat kelangsungan bisnis startup online travel agent (OTA) nih, Be-emers.

Kok gitu sih?

Baca Juga: Startup Travel Terdampak Refund Tiket, Seperti Apa Nasibnya?

Ternyata menurut Ketua Umum Asosiasi Startup Teknologi Indonesia (Atsindo) Handito Joewono, dikutip dari Bisnis, tren staycation hanya berpengaruh untuk menjaga minat wisata masyarakat agar tidak luntur.

Sedangkan penggunaan layanan online travel untuk staycation, kata Handito, justru bakal terbatas. Sehingga, hal itu enggak menjadi pemicu utama untuk menyelamatkan pemasukan startup OTA.

Handito juga menilai, kontribusi tren staycation dalam mendongkrak pendapatan OTA pada 2021, enggak lebih dari 5 persen dari total pendapatan nih, Be-emers.

Enggak hanya itu, Handito bahkan meyakini kalau di tahun 2021 memang masih jadi tahun yang cukup sulit buat startup OTA kalau mereka masih konsisten untuk mempertahankan model bisnis yang normal.

Untuk itu, ia berpendapat, sebaiknya para pelaku startup OTA saat ini perlu membangun model bisnis baru. Misalnya, bisa mempertimbangkan untuk diversifikasi bisnis oleh-oleh wisata dan sebagainya.

Kalau kamu, mending staycation atau tetap bertahan #DiRumahAja nih, Be-emers?

Baca Juga: 3 Langkah Traveller Mengatur Keuangan