Bakal Join di Nasdaq, Co-Founder Grab Anthony Tan Akan Tingkatkan Kendali Grab

Anthony Tan Dominasi Grab Illustration Bisnis Muda - Pinterest

Anthony Tan Dominasi Grab Illustration Bisnis Muda - Pinterest

Grab, salah satu perusahaan teknologi terbesar di Asia Tenggara, memang berencana bakal melantai di bursa Nasdaq akhir tahun 2021 ini. Seiring dengan hal itu, Co-Founder Grab Anthony Tan juga dikabarkan bakal secara dramatis meningkatkan kendali atas perusahaannya Grab lho!

Dikabarkan Financial Times, demi bikin iri dan sirik rekan-rekannya yang ada di Silicon Valley, kepala eksekutif dan salah satu pendiri Grab akan memiliki 60,4 persen hak suara di perusahaan dan 2,2 persen sahamnya.

Di satu sisi, Financial Times menyebutkan kalau hal tersebut merupakan prestasi yang sebanding dengan apa yang pernah dilakukan Mark Zuckerberg. Sekedar info, Zuckerberg memegang sekitar 60 persen hak suara di Facebook.

Baca Juga: Siapa sih Pesaing Gojek dan Grab di ASEAN?
 

Dominasi Anthony Tan

Dari data Grab, sama dengan Zuckerberg, Anthony Tan memperoleh mayoritas voting control Grab sebanyak 60 persen. Sementara itu, Softbank Vision Fund dan Uber hanya memperoleh kurang dari 10 persen suara di Grab.

Bahkan, dalam hal kesepakatan yang melibatkan perusahaan akuisisi bertujuan khusus, hal seperti itu belum pernah terjadi.

Menurut mitra di firma hukum Gibson Dunn di Singapura Robson Lee, hak suara mayoritas yang berlebihan untuk seorang kepala eksekutif merupakan fenomena baru dan belum pernah terjadi sebelumnya bagi sebuah perusahaan yang menjalani rute IPO melalui SPAC.

Kepemilikan tersebut dimuat dalam surat-surat yang diajukan minggu lalu setelah Grab meluncurkan kesepakatan untuk digabungkan dengan SPAC yang terdaftar di New York melalui Altimeter. Kesepakatan tersebut dinilai hampir mencapai US$40 miliar.

Di satu sisi, para pendukung Tan menilai, salah satu orang terkaya di Malaysia tersebut membutuhkan kendali untuk membuat keputusan yang cepat dan sulit dalam menavigasi delapan pasar Grab lho.

Soalnya, kesepakatan tersebut juga jadi bagian penting bagi minat investor internasional untuk sekelas perusahaan teknologi dengan operasi yang tersebar di wilayah Asia Tenggara dan berkembang seperti Grab.

 

Anthony Tan - Image: Grab

Anthony Tan - Image: Grab


Kabar dominasi Tan ini sebenarnya justru enggak mengejutkan pesaingnya, yakni Gojek. Seperti yang kita ketahui, sebelumnya berhembus kabar bahwa Grab dan Gojek bakal merger.

Sayangnya, pembicaraan merger antara kedua perusahaan dibatalkan akhir tahun lalu sebelum Grab mulai mempertimbangkan merger SPAC.

Namun, yang bikin mengejutkan adalah orang-orang yang dekat dengan pembicaraan tersebut mengatakan Tan telah menuntut kendali tanpa batas waktu sebagai "CEO seumur hidup" Grab! Namun, kabar itu langsung dibantah sama pihak Grab sendiri.

Sementara itu, para investor jangka panjang Grab lebih menilai kalau Tan membutuhkan kekuatan tinggi untuk bisa menegosiasikan “kursi” di antara meja konglomerat, politik, hingga regulasi yang dikelola keluarga dan saling terkait di kawasan itu.

Di satu sisi Kepala Penelitian Ekuitas Tellimer Group Nirgunan Tiruchelvam mengatakan, tanggung jawab ada pada Grab dan Tan untuk membenarkan dikotomi antara kepemilikan dan hak suara, serta membuktikannya untuk kepentingan pemegang saham,

Meski begitu, hak suara pemegang saham kunci juga telah dilemahkan melalui struktur  dual-class share.

Diketahui, Softbank yang merupakan pemegang saham terbesar Grab tercatat memiliki 18,6 persen saham dan 7,6 persen hak suara. Sedangkan Uber yang punya 14,3 persen saham Grab, memiliki 5,8 persen hak suara. 

Sejauh ini sih, pengajuan listing Grab juga enggak menyebutkan check and balances apa yang ditempatkan pada Tan. Bahkan, informasi siapa yang mewarisi saham Tan pun belum dirilis.

Meski begitu, kabarnya, para investor besar Grab tampak senang mendukung Tan. Namun, sekedar informasi, Grab sudah kehilangan uang setiap tahun sejak didirikan pada tahun 2012 akibat harus bergulat dengan pesaing lain yang memiliki pembiayaan lebih bagus lho!

Financial Times mencatat, akumulasi kerugian Grab mencapai US$10 miliar pada akhir tahun 2020. Tahun lalu, perusahaan melaporkan meraih kerugian bersih hingga US$ 2,7 miliar.

Baca Juga: Grab Kalahkan Gojek dalam Layanan Delivery Makanan Lho!