Orderan Makin Sepi, BATA Hentikan Operasi Pabrik di Purwakarta!

Pabrik sepatu BATA di Purwakarta dihentikan operasionalnya (Sumber gambar: Instagram @batamalaysia)

Pabrik sepatu BATA di Purwakarta dihentikan operasionalnya (Sumber gambar: Instagram @batamalaysia)

Like

Be-emers, pasti sudah enggak asing sama merek sepatu legendaris asal Cekoslowakia bernama BATA. Jenama ini selalu jadi incaran favorit masyarakat terlebih untuk kebutuhan anak sekolah.

Bagaimana tidak, industri alas kaki yang sudah berdiri di Indonesia sejak 1931 ini terkenal dengan kualitasnya yang baik. 

Sayangnya, pada 30 April 2024 kemarin BATA terpaksa memberhentikan operasional salah satu pabriknya yang ada di Purwakarta, Jawa Barat. 

Dilansir dari bisnis.com, Corporate Secretary BATA, Hatta Tutuko mengungkapkan bahwa ditutupnya pabrik tersebut karena melihat permintaan konsumen yang semakin menurun. 

Terlebih, saat ini banyak bermunculan brand-brand sepatu baru di Indonesia. Selera konsumen pun jadi ikut berubah seiring dengan berkembangnya zaman.


Baca Juga: Tesla PHK 10% Karyawan Global, Ini Beberapa Penyebabnya!

Alhasil, ketenaran BATA makin tergerus. Hal ini yang membuat BATA merasa tak mampu untuk mempertahankan bisnisnya setelah 30 tahun beroperasi di Purwakarta.

 

Gagal Pulih dari Pandemi dan Inflasi

Meski pandemi telah usai, nyatanya efek tersebut masih terasa. Terpaan ini bahkan jadi buntut utama pabrik BATA di Purwakarta gulung tikar.

Selama 4 tahun terakhir, BATA berusaha dengan berbagai upayanya untuk terus memproduksi sepatu. Namun, karena sepinya orderan dari konsumen membuat massa produksinya jadi overstock.

Diperparah lagi dengan inflasi pangan dan ketatnya regulasi impor barang yang terjadi bikin harganya jadi mahal. Alhasil, perusahaan harus menanggung defisit yang besar. 

Baca Juga: Portofolio Kunci Keberhasilan Memamerkan Kemampuanmu

Hal ini yang membuat BATA mengalami kerugian hingga miliaran rupiah selama 4 tahun belakangan. Saat pandemi di tahun 2020 lalu, tercatat kerugiannya mencapai 177,76 miliar.

Di tahun 2021, angka kerugiannya hanya sebesar 51,2 miliar. Pandemi usai, tetapi BATA gagal untuk pulih kembali yang membuat kerugian BATA melonjak.

Terhitung di tahun 2022 kerugiannya hingga 105,9 miliar. Sementara pada tahun 2023, jumlah kerugian meningkat tajam sebanyak 190,29 miliar.